• Terdapat penambahan fitur baru pada www.aidsjateng.or.id yaitu 'TV Spot KPAP'
  • SK Pembentukan KPA Kab/Kota, bisa di download pada menu direktori
  • Data Kasus HIV dan AIDS sampai dengan 31 Desember 2014 adalah 10.804 kasus
  • Sudah Ada 35 KPA Kab/Kota di Jawa Tengah

Online News

Mendesak, Perda Penanggulangan HIV & AIDS
ditulis pada 27 2014

Untuk mengatur penanggulangan penyakit HIV/AIDS, Kabupaten Banyumas hanya memiliki Peraturan Bupati (Perbup) yang dinilai kurang kuat. Untuk itu, Ketua Lembaga Pemberdayaan dan Pelestarian Lingkungan Hidup (LPPSLH) wilayah Cilacap, Adi Wahyono mendesak agar Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur penanggulangan penyakit HIV/AIDS segara diterbitkan. Menurutnya, penerbitan Perda diyakini akan semakin memperkuat dan memantapkan upaya-upaya penanggulangan penyakit mematikan itu. “Peraturan Bupati maupun komitmen bersama dinilai tidak cukup kuat sebagai upaya menanggulangi penyebaran HIV-AIDS di Cilacap. Bila ada Perda, secara otomatis akan diikuti dengan alokasi anggaran yang cukup dalam APBD Cilacap,” katanya.
Seperti diketahui, jumlah penderita HIV AIDS di Jawa Tengah terus meningkat setiap tahunnya. Epidemi HIV/AIDS di Jawa Tengah dari 1993 hingga September 2013, jumlahnya mencapai 7.421 orang. Jumlah tersebut terdiri dari HIV sejumlah 3.983 orang dan AIDS 3.438 orang. Dari kasus tersebut, yang meninggal dunia 812 orang.
Hal itu dikatakan Ketua Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Tengah, Elisabet SA Widyastuti beberapa waktu lalu, saat workshop Advokasi Perlindungan Perempuan Rentan.
Menurutnya, sebagian besar pengidap AIDS adalah kelompok usia produktif antara 25 hingga 29 tahun yang jumlahnya mencapai 23 persen. Sementara risiko penularan terbesar saat ini melalui heteroseksual yang mencapai 82 persen.
“Kasus HIV/AIDS di Jawa Tengah sudah ada sejak 20 tahun yang lalu. Kasus ini terus mengalami peningkatan dan hal ini merupakan fenomena gunung es,” jelasnya.
Dikatakan, HIV AIDS dapat dicegah sedini mungkin. Pencegahan positif terhadap kasus HIV AIDS meliputi, peningkatan kualitas hidup orang yang terinfeksi HIV, mencegah infeksi ulang dan infeksi lainnya serta tidak menularkan HIV kepada orang lain. “Untuk pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS, kami gencarkan sosialisasi kepada masyarakat yang berisiko. Itu kami lakukan agar penderita HIV/AIDS ini bisa ditekan dan diantisipasi sedini mungkin. Kami juga melakukan pencegahan dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat agar virus ini bisa ditekan,” tuturnya.

... selengkapnya
108 Orang di Jateng Meninggal Karena HIV & AIDS
ditulis pada 27 2014

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah sejak Januari hingga September 2012 tercatat sebanyak 108 penderita HIV/AIDS di Jawa Tengah meninggal dunia. Sedangkan jumlah kasus HIV/AIDS di tahun ini diketahui sebanyak 946 orang, dan 580 di antaranya sudah positif AIDS.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Anung Sugihantono pada Jumat (30/11/2012) mengatakan, jumlah penderita HIV/AIDS itu yang terdata. Diperkirakan masih banyak penderita yang belum terdata. "HIV/AIDS memang perlu diwaspadai karena menyerang kekebalan tubuh. Penyakit ini termasuk menular dan hati-hati pada ibu hamil yang terdeteksi mengidap karena bisa jadi menularkan virus ke janinnya. Ini akan menjadi fokus kami ke depan," katanya.

Berdasarkan data tersebut, penderita HIV lebih banyak didominasi perempuan, sedangkan AIDS didominasi oleh kaum laki-laki. Berdasarkan kelompok umur, penyakit ini lebih banyak menyerang kelompok produktif antara usia 25-34 tahun. Perilaku heteroseksual ungkapnya masih menjadi penyebab utama penularan HIV/AIDS di Jawa Tengah.

Sepanjang tahun ini penderita menurutnya banyak juga yang ibu rumah tangga dengan presentase 25 persen dari jumlah penderita. "Sebab itu terus digencarkan kegiatan Voluntary Conselling Test (VCT) ke masyarakat. Hal ini sebagai upaya perubahan perilaku dan pencegahan, serta upaya penemuan penderita baru," katanya.

Hal ini ungkapnya dilakukan di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Berdasarkan hasil dari VCT tersebut diketahui Kota Semarang tertinggi jumlah penderita HIV/AIDS dengan 110 kasus sepanjang Januari-September 2012. Rencana, ke depan Dinkes Jateng akan mengembangkan layanan komprehensif berkesinambungan di beberapa wilayah yang rentan penularan. Selain itu juga pelatihan dan regulasi serta strategi rencana aksi daerah HIV/AIDS tahun 2013-2018.

Sementara itu, Direktur LSM Kalandara Yacobus Kristono mengatakan, dukungan pemerintah dan masyarakat dalam menanggulangi HIV/AIDS beberapa tahun terakhir semakin meningkat dan bagus. Hal ini ungkapnya yang membuat orang dengan HIV/AIDS (ODHA) mulai bisa terbuka di komunitasnya dan di masyarakat.

"ODHA itu kan juga manusia, mereka punya hak yang sama seperti kita. Dukungan masyarakat dan pemerintah serta stakeholder inilah yang penting untuk pemberdayaan mereka juga, serta untuk penanggulangan dan pencegahan," katanya.

... selengkapnya
HIV & AIDS Tersebar di Seluruh Kecamatan di Kebumen
ditulis pada 27 2014

Persebaran penderita HIV/AIDS di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, kini sudah menjangkau seluruh kecamatan di daerah itu. Jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. “Pada September lalu, di seluruh kecamatan tercatat sudah ada penderita HIV/AIDS,” kata Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen, Cokroaminoto, Kamis, 7 November 2013.

Dia mengatakan, sebelum September 2013, di Kecamatan Padureso masih belum ditemukan adanya kasus HIV/AIDS ini. Namun, akhirnya wilayah ini pun menyusul dengan penderita HIV/AIDS di 25 kecamatan.

Menurut dia, selama kurang dari dua tahun terakhir, Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Kabupaten Kebumen menemukan 122 kasus. Sejak awal 2013 hingga bulan September 2013 ditemukan 50 kasus.

Masih menurut Cokroaminoto, penderita HIV/AIDS pertama kali ditemukan di Kabupaten Kebumen pada 2003 sebanyak satu kasus. Hingga 2013, temuan paling tinggi pada 2012 yang mencapai 72 kasus.

Sedangkan pada 2013 hingga September sudah ditemukan 50 kasus. Dari 287 kasus HIV/AIDS selama 10 tahun terakhir ini, sebanyak 68 persen merupakan kasus AIDS, sisanya 32 persen kasus HIV. Dari 287 kasus tersebut, sebagian besar sudah meninggal dunia. “Sekarang ada 50-an orang pengidap HIV/AIDS yang masih dalam perawatan,” katanya.

Sekretaris Daerah Kebumen, Adi Pandoyo, mengatakan Pemerintah Kabupaten Kebumen telah menetapkan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2013 tentang Penanggulangan HIV/AIDS. “Perda ini untuk memberikan perlindungan masyarakat dari risiko penularan HIV/AIDS. Serta untuk memberikan pelayanan terhadap penderita HIV/AIDS,” kata dia.

... selengkapnya
BPJS Diminta Cover Penderita HIV AIDS
ditulis pada 27 2014

Munculnya usulan agar para penderita HIV/AIDS dicoret dari daftar salah penerima program Badan Pelaksana Jaminan Sosial (BPJS) yang akan diluncurkan pada 2014, memicu reaksi keras para aktivis HIV/AIDS.

Salah satu aktivis HIV/AIDS dari Spekham Ayu mengatakan, tidak diikut sertakan penderita HIV/AIDS dalam program BPJS, secara tidak langsung telah menelantarkan warga yang terkena penyakit mematikan.

Padahal, program tersebut menggunakan uang milik negara. Dan diakui apa tidak, para penderita HIV/AIDS yang mayoritas, ada juga ibu rumah tangga dan anak-anak di bawah umur.

"Kalau para penderita HIV/AIDS tidak diikut sertakan dalam program BPJS, bisa mati nanti para penderita HIV/AIDS. Siapa orangnya yang mau terkena penyakit mematikan tersebut? Jadi kami keberatan," papar Ayu, kepada wartawan, di Solo, Jawa Tengah, Rabu (4/12/2013).

Menurut Ayu, salah bila ada anggapan para penderita HIV/AIDS adalah orang yang memiliki gaya hidup tidak sehat dan menganut pergaulan bebas yang condong suka berganti-ganti pasangan, seperti para PSK.

Justru para penderita HIV/AIDS inilah yang menjadi korban. Termasuk para pecandu narkotika yang terkena HIV/AIDS itu juga menjadi korban.

"Dari berbagai kasus yang kami tangani, mulai dari PSK hingga ke pecandu narkotika, rata-rata mereka yang menjadi korban. Seperti keputusan menjadi PSK itu dipicu karena KDRT, ditinggal pergi pacarnya. Sedangkan bagi para pecandu narkotika, nekat menggunakan barang haram, karena bujuk raya para pengedarnya," terangnya.

Untuk wilayah surakarta, dari data yang dimiliki Spekham, sejak tahun 2005 hingga 2013, total penderita HIV/AIDS sebanyak 1.112 orang. Dari jumlah tersebut, diantaranya 242 ibu rumah tangga dan anak-anak yang terkena virus HIV/AIDS.

Terkait akan digulirkannya penyelenggaraan BPJS, diakui oleh Ayu sangat minim sekali informasi yang didapat. Termasuk institusi mana yang ditunjuk oleh pemerintah bila masyarakat ingin mendapatkan program BPJS tersebut.

... selengkapnya
Pria Heteroseksual Tularkan Virus HIV AIDS ke Istri
ditulis pada 27 2014

Tren penularan penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) di Kota Semarang, saat ini memasuki gelombang ketiga. Dimana penyakit berbahaya itu banyak ditularkan oleh kalangan heteroseksual atau orang yang suka berganti pasangan.

“Dulu gelombang pertama penularan HIV/AIDS banyak dialami oleh kaum homoseksual. Selanjutnya pola penularan lebih banyak muncul di kalangan pengguna narkoba. Saat ini, yang paling banyak menjadi pemicu penularan HIV/AIDS adalah dari kalangan heterseksual,” kata akitivis HIV/AIDS Asti Septiana (30), di Kota Semarang, Kamis (26/10/2013).

Penularan lewat heteroseksual tersebut, diyakini mulai muncul sejak 2004. hingga kini, pertumbuhan penyakit HIV/AIDS dari heteroseksual semakin meningkat. “Akibatnya, semakin banyak ibu rumah tangga yang tertular penyakit HIV/AIDS tersebut dari suami mereka,” imbuhnya.

Tingginya jumlah pengidap penyakit HIV/AIDS di kalangan heteroseksual, dipicu oleh ketidakpuasan terhadap pasangan masing-masing. Akibatnya, banyak diantara mereka yang melampiaskannya kepada pekerja seks komersial yang saat ini marak di daerah perkotaan.

"Apalagi kalangan heteroseksual cenderung berhubungan seks tanpa menggunakan alat pengaman. akhirnya penularan penyakit ini semakin cepat,” terangnya.

Untuk itu, Asti yang juga Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) berharap, pendampingan dan juga perlindungan terhadap ODHA agar terus ditingkatkan. Yang terpenting, masyarakat harus mengerti dan mengubah stigma negative terhadap ODHA.

“Biarlah kami yang menjadi korban keganasan penyakit ini. Terpenting, jangan tinggalkan kami, karena dengan begitu kami masih bisa bertahan hidup lebih lama,” pungkasnya.

Sementara itu, peneliti HIV/AIDS dari Uni Heidelberg Jerman Aris Margianto menuturkan, sebaiknya perlu cara lain untuk menekan jumlah penyebaran penyakit HIV AIDS. Menurutnya, upaya pencegahan tidak hanya sekedar melakukan pendekatan dari atas ke bawah dengan program sosialisasi atau pendataan semata.

“Kalau bisa, perlu juga libatkan masyarakat sebagai pengawas, pelayan, dan pelapor untuk menekan peredaran kasus HIV/AIDS ini,” terangnya.

Dia juga berharap, masyarakat dapat melepas stigma buruk yang selama ini terlekat pada kaum ODHA. Sebab, masih banyak masyarakat yang salah dengan menilai mereka para ODHA sebagai kelompok orang-orang yang mendapat kutukan.

“Itu yang salah, mereka juga sama seperti halnya kita yang tidak mengidap HIV/AIDS. Mereka butuh support dan jangan sekali-sekali pernah mengucilkan mereka,” tegasnya.

Dari data Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Tengah, kasus pengidap penyakit HIV/AIDS di Jateng setiap tahun terus menunjukkan angka peningkatan. Dari 1993 hingga akhir 2012, sebanyak 6.042 orang positif mengidap penyakit HIV/AIDS, dan 693 diantaranya meninggal dunia.

“Di tahun 2012, pengidap penyakit HIV didominasi oleh perempuan dengan 59 persen, dan AIDS sebanyak 41 persen. Ini menunjukkan banyak ibu rumah tangga yang rentan tertular dari penyakit itu," sambung Koordinator Project Officer Pusat Informasi dan Layanan Remaja (PILAR) PKBI Jawa Tengah Dwi Yunanto Hermawan.

... selengkapnya
Penderita HIV/AIDS di Purbalingga Naik Tiap Tahun
ditulis pada 04 2013

Penderita HIV/AIDS di Purbalingga Naik Tiap Tahun

 

Penderita HIV/AIDS di Kabupaten Purbalingga setiap tahunnya selalu mengalami kenaikan. Bukan hanya di perkotaan saja bahkan sudah merambah di hampir semua kecamatan, walaupun jumlahnya masih relative sedikit.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan  (P2PL)- Dinas Kesehatan Kabupaten Purbalingga, Semedi menuturkan bahwa prevalansi atau penyebaran HIV/AIDS bagaikan fenomena gunung es.

"Yang nampak hanyalah permukaan belaka namun kasus yang sesungguhnya jauh lebih besar daripada kasus yang nampak di permukaan," katanya.

Distribusi kasus HIV di Kabupaten Purbalingga dari tahun 2010 hingga September 2013 berdasarkan jenis kelamin untuk perempuan sebesar 43% dan laki-laki 57%. Sedangkan distribusi kasus AIDS dari tahun 2010 hingga September 2013 perempuan 50% dan laki-laki 50%.

Sedangkan untuk distribusi kasus AIDS berdasarkan kelompok umur kelompok usia produktif menempati urutan pertama, dan untuk kelompok berdasarkan pekerjaan buruh menempati posisi pertama sebesar 37%,  ibu rumah tangga (IRT) 43%, sopir 7%, karyawan 4% dan lain-lain sebanyak 25%.

... selengkapnya
Jangan Kucilkan Penderita HIV
ditulis pada 04 2013

Jangan Kucilkan Penderita HIV

 

Paradigma masyarakat yang masih menganggap bahwa bergaul dengan orang dengan HIV AIDS (ODHA) adalah hal yang sangat menakutkan dan menjijikan perlu dirubah. Pola pikir yang cenderung mengucilkan ODHA selain melanggar hak asasi manusia (HAM) juga semakin memperparah keadaan penyakit ODHA itu sendiri.

Akhmad Wiryawan, Ketua Klinik VCT Rumah Sakit Prof Dr Margono Sukarjo (RSMS) Purwokerto, Selasa (29/10) mengatakan, hal tersebut sangatlah tidak benar. Selama kita berinteraksi sosial dengan para ODHA dalam batasan yang wajar, maka penularan HIV/AIDS tidak akan pernah terjadi. Justru ketika kita berteman dan berinteraksi dengan ODHA, maka kita bisa membuka ruang komunikasi yang baik dengan mereka.

“Ada beberapa cara penularan penyakit yang belum ditemukan obatnya diantaranya melalui kontak seksual, alat suntik yang terkontaminasi, dari ibu ke janin atau ke bayi melalui ASI, melalui tansfusi darah dan transplantasi organ," katanya.

Akhmad juga menuturkan untuk mengetahui secara klinis dapat dideteksi melalui, perilaku seksual, penggunaan narkoba, pekerjaan yang beresiko terhadap penularan HIV/AIDS seperti pelaut, sopir truk, dll.

Riwayat bekerja di daerah endemis dengan perilaku risiko tinggi, transfusi, perrhatikan juga ciri khas / tanda kelompok risiko misalnya tato atau perilaku tertentu karena sekarang HIV sudah berkembang pada bukan kelompok risti (risiko tinggi) misalnya ibu rumah tangga.

”Mendeteksi klinis untuk mengetahui penyakit ini antara lain melalui perilaku seksual, penggunaan narkoba, pekerjaan yang beresiko terhadap penularan HIV/AIDS seperti pelaut, sopir truk dll. Selain itu, riwayat bekerja di daerah endemis dengan perilaku risiko tinggi, transfusi, perhatikan juga ciri khas / tanda kelompok risiko misalnya tato atau perilaku tertentu karena sekarang HIV sudah berkembang pada bukan kelompok risti misal ibu rumah tangga,” paparnya.

... selengkapnya
Keberadaan Penyakit HIV/AIDS Bagai Gunung Es
ditulis pada 04 2013

Keberadaan Penyakit HIV/AIDS Bagai Gunung Es

 

Penyebaran penyakit HIV/AIDS, bagai fenomena gunung es. Puncak gunung yang muncul ke permukaan terlihat kecil, tapi badan dan pangkal gunungnya begitu besar. Demikian halnya dengan yang terjadi di Kabupaten Wonogiri.

Pada tahun 2005, diketahui hanya ada seorang warga di Kabupaten Wonogiri, yang menderita sakit karena kehilangan daya kekebalan badan. Yang itu kemudian diketahui karena HIV/AIDS. Dalam perkembangannya kemudian, ternyata tidak hanya seorang saja yang mengalami demikian.

Pasalnya, pada tahun 2012 jumlah penderita HIV/AIDS di Wonogiri ada sebanyak 33 orang, dan data puntuk tahun 2013 ini ada sebanyak 30 orang. Dalam audiensi program penanggulangan HIV/AIDS yang digelar di ruang sukses Setda Kabupaten Wonogiri, disebutkan bahwa HIV/AIDS telah menjadi permasalahan sosial kemasyarakatan.

Bupati Wonogiri dalam sambutan tertulis yang dibacakan Plt Sekda Wonogiri Drs Suharno MPd, menyatakan, itu menjadi pemasalahan sosial, karena ada kecenderungan bentuk diskrimasi terhadap penderita. "Yang bentuk diskriminasi ini, tidak hanya dilakukan oleh masyarakat awam, tapi juga oleh petugas kesehatan," tegasnya.

Padahal, menurut Perda Provinsi Jawa Tengah Nomor 5 tahun 2009 tentang penanggulangan HIV/AIDS, dalam pasal 11 disebutkan bahwa Pemerintah Daerah memfasilitasi orang yang berperilaku resiko  tinggi dan yang terinveksi HIV/AIDS untuk memperoleh hak-hak layanan kesehatan di rumah sakit atau puskesmas setempat, dan pelayanan kesehatan lainnya.

Di RSUD Wonogiri, pelayanan HIV/AIDS diberikan melalui fasilitas berupa VCT (Voluntary Counseling and Testing), CST (Care, Support, and Treatment), serta ART (Anti Retrovial Therapy). Namun yang menjadi permasalahan, pengendalian HIV/AIDS di Wonogiri, terkendala karena sebagian penderita masyarakat yang tidak memiliki kartu Jamkesmas/Jamkesda.

... selengkapnya
<< 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 >>