• Terdapat penambahan fitur baru pada www.aidsjateng.or.id yaitu 'TV Spot KPAP'
  • SK Pembentukan KPA Kab/Kota, bisa di download pada menu direktori
  • Data Kasus HIV dan AIDS sampai dengan 31 Desember 2014 adalah 10.804 kasus
  • Sudah Ada 35 KPA Kab/Kota di Jawa Tengah

Online News

Perusahaan Dilarang Berhentikan Pekerja yang Terjangkit HIV/AIDS
ditulis pada 04 2013

Perusahaan Dilarang Berhentikan Pekerja yang Terjangkit HIV/AIDS

 

Setiap perusahaan di Salatiga dilarang memberhentikan pekerja dengan alasan terinfeksi HIV/AIDS. Pekerja dan masyarakat yang terinveksi penyakit tersebut, berhak mendapatkan pelayanan kesehatan kerja yang sama sesuai perundang-undangan.

Hal tersebut menjadi salah satu rumusan Rancangan Peraturan Daerah tentang Penanggulangan HIV dan AIDS yang saat ini dibahas Dewan dan Pemkot. Raperda tentang Penanggulan HIV/AIDS merupakan satu dari empat raperda inisitaif DPRD.

Selasa (22/10), fraksi-fraksi di DPRD memberikan tanggapan atas pendapat Wali Kota Salatiga atas empat raperda tersebut, dalam rapat paripurna di Gedung Dewan.

Dalam raperda diatur pula, bahwa setiap orang yang karena tugas dan pekerjaannya, memiliki informasi tentang status HIV/AIDSA seseorang, wajib untuk merahasiakannya dengan pengecualian.

Perusahaan yang melanggar aturan tersebut, akan diberi sanksi peringatan tertulis sebanyak tiga kali. Sedangkan perusahaan yang melanggar ketentuan menghentikan pekerja karena status HIV/AIDS, wajib mengembalikan pekerja tersebut ke posisi semula.

Bagi perusahaan yang melanggar aturan serta mengabaikan sanksi administratif, diancam pidana enam bulan pidana kurungan atau denda paling banyak Rp 50 juta.

Di lain pihak, penderirta HIV/AIDS bertanggungjawab aktif dalam upaya penangulangan penyakit yang dideritanya. Membentuk kelompok dukungan sebaya dan melakukan penjangkauan penderita yang didukung Komisi Penanggulangan AIDS. Terakhir tidak melakukan tindakan berisiko yang dapat menularkan penyakitnya kepada orang lain.

Penderita yang melanggar ketentuan yang disebut terakhir itu diancam pidana kurungan paling lama tiga bulan kurungan atau denda paling banyak Rp 5 juta.

Dalam tanggapan Wwali Kota Yuliyanto dikatakan, pencegahan dan penanganan HIV/AIDS dilakukan secara masif dan terpadu melalui pendekatan medis, kultural, dan kelembagaan.

Penanggulangan penyaklit tersebut, dibutuhkan sebagai intervensi terhadap perubahan pola perilaku masyarakat semata-mata  demi melindungi hak hidup yang asasi. Program penanggulangan HIV/AIDS merupakan tanggung jawab semua pihak. Namun tidak kalah penting adalah tanggung jawab penderita guna melakukan perubahan hidup menjadi lebih sehat, melakukan pengobatan untuk dirinya sendiri, serta mencegah penularan kepada orang lain.

'Raperda ini di antaranya untuk menjawab tuntutan masyarakat yang pernah disampaikan kepada kami,' ujar Wakil Ketua DPRD Muhammad Fathur Rahman.

... selengkapnya
Perawatan ODHA Butuh Rp 1,5 juta per Hari
ditulis pada 04 2013

Perawatan ODHA Butuh Rp 1,5 juta per Hari

 

Biaya perawatan Orang Dengan HIV/ AIDS (ODHA) memerlukan biaya yang sangat tinggi. Setiap hari rata-rata menghabiskan biaya Rp 1,5 juta per orang untuk penggunaan Anti Retrofiral Virus (ARV).

"Saat ini belum ditemukan obat untuk penderita HIV. Pemberian ARV merupakan jalan satu-satunya untuk membantu ODHA dalam bertahan hidup," kata Kasi Pengendalian Penyaikit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banyumas R Dian Andiyono, kamis (17/10).

Menurutnya, 80 anggaran perawatan ODHA tersebut ditanggung oleh penyandang dana dari luar negeri Global Fun. Namun bantuan tersebut dipastikan akan dihentikan pada tahun 2015 mendatang.

"Global Fun tidak pergi, tetap di Indonesia. Hanya saja bantuan tersebut akan dialihkan untuk masyarakat di Indonesia bagian timur seperti NTT, Irian Jaya dan lain-lain," jelasnya.

Namun dia memastikan, terhentinya bantuan dari Global Fun tersebut tidak akan mempengaruhi perawatan ODHA yang selama ini bergantung pada lembaga tersebut. Menurutnya, pemerintah akan mengalokasikan anggaran khusus untuk penanggulangan HIV/ AIDS.

Sementara itu, Pegiat HIV/ AIDS di Banyumas, Rahman Arif, belum lama ini mengatakan, angka pertumbuhan HIV/ ADIS di Banyumas sangat menghawatirkan. Di Jawa Tengah, angka pertumbuhan HIV/ AIDS Kabupaten Banyumas menempati posisi nomor empat di bawah Kabupaten Cilacap.

... selengkapnya
Pencegahan HIV/AIDS Tanggung Jawab Bersama
ditulis pada 04 2013

Pencegahan HIV/AIDS Tanggung Jawab Bersama

 

Rancangan Peraturan Daerah tentang Penanggulangan HIV/AIDS dibawa ke dalam Rapat Paripurna DPRD Salatiga, Senin (7/10). Raperda tersebut merupakan satu dari empat raperda inisiatif Dewan.

Tiga lainnya adalah Raperda Inisiasi Menyusu Dini dan ASI Eksklusif, Raperda Pengelolaan BUMD, dan Raperda Penanaman Modal.

Dalam pengantar raperda disampaikan, Raperda Penanggulangan HIV/AIDS sangat penting karena Salatiga masuk dalam 10 besar kabupaten/kota di Jateng dengan penderita terbanyak.

Raperda menitikberatkan dalam perlindungan dari ancaman HIV/AIDS termasuk pencegahan perlakuan sewenang-wenang terhadap penderita. Kemudian fungsi pemerintah termasuk kelembagaan dan penganggaran, lalu peran serta masyarakat dalam penanggulangan HIV/AIDS.

Perlindungan khusus terhadap penderita mencakup jaminan layanan kesehatan, penghapusan diskriminasi terhadap penderita, serta perlindungan atas keutuhan diri yang meliputi privasi dan keamanan diri penderita.

Wakil Ketua DPRD Iwan Setyo Purbowo menuturkan, perlindungan penderita HIV/AIDS serta upaya-upaya pencegahan merupakan tanggung jawab semua pihak.

Raperda tersebut sekaligus menjawab aspirasi kelompok masyarakat pada tahun lalu, yang meminta agar disusun payung hukum untuk menekan dan mengantisipasi penyebaran penyakit mematikan tersebut.

Selain itu, dukungan pendanaan yang maksimal dari Pemkot Salatiga untuk penanganan dan pencegahan HIV/AIDS sangat penting.

'Bahkan tahun lalu, karena merasa kurang diperhatikan dalam pendanaan, dalam audiensi dengan Dewan, ada yang mengancam akan menyebarkan penyakit ini dengan berbagai cara,' ujar Iwan.

Penanggulangan HIV/AIDS mutlak memerlukan kebijakan yang jelas dari para pemangku kebijakan. Ia menyadari banyaknya kafe dan tempat karaoke di Salatiga menjadi salah satu tempat yang rentan dalam penyebaran HIV/AIDS.

Karena itu, Iwan meminta Pemkot Salatiga membuat aturan main yang jelas dalam perizinan dan pengawasan tempat-tempat hiburan tersebut, agar potensi penyebaran HIV/AIDS dapat ditekan.

Tujuannya untuk melindungi penderita yang mungkin menjadi pekerja di tempat hiburan malam, masyarakat secara luas, serta kepastian untuk pengusaha.

Sebelumnya Kepala Dinas Kesehatan Kota Salatiga Sovie Harjanti, menuturkan, dari 150 penderita yang tercatat hingga akhir tahun lalu, 24 di antarnya merupakan wanita pekerja seksual, serta 21 penderita berprofesi pemandu karaoke.

... selengkapnya
10.815 Orang Warga Jateng Terinfeksi HIV/AIDS
ditulis pada 04 2013

10.815 Orang Warga Jateng Terinfeksi HIV/AIDS

 

Sekitar 10.815 penduduk di Provinsi Jawa Tengah saat ini diperkirakan telah tertular atau terinveksi HIV/AIDS. Dari jumlah tersebut, 693 di antaranya telah meninggal dunia.

Hal itu disampaikan Dosen Undip Semarang, Muklis Achsan Udji Sofro, dalam acara sosialisasi tentang HIV/AIDS dihadapan ratusan pelajar SMP, SMA, MA, SMK, se Kabupaten Temanggung, kemarin.

"Dari jumlah 10.815 orang kebanyakan yang terkena itu laki-laki ada sebanyak 62 persennya. 34 persennya kaum perempuan, lalu yang empat persen belum diketahui jenis kelaminnya,"ujarnya.

Kepada para pelajar dijelaskan pula seluk beluk tentang HIV, sebagai virus penyerang kekebalan tubuh manusia. Sedangkan AIDS adalah kumpulan gejala penyakit akibat lemahnya sistem kekebalan tubuh. AIDS muncul setelah virus HIV menyerang sistem kekebalan tubuh selama lima hingga 10 tahun atau lebih.

Wakil Bupati Temanggung, Irawan Prasetyadi, juga mengungkapkan keprihatinannya, sebab di 20 kecamatan kini telah ada warganya yang tertular HIV/AIDS. Untuk itu pihaknya akan gencar melakukan sosialisasi kepada seluruh lapisan masyarakat.

... selengkapnya
Banyak HIV/AIDS di Temanggung Belum Terdeteksi
ditulis pada 04 2013

Banyak HIV/AIDS di Temanggung Belum Terdeteksi

 

Hingga saat ini masih banyak kasus HIV/AIDS yang belum dapat terdeteksi atau belum diketahui. Bahkan, 90% dari orang yang kini diketahui terinveksi HIV/AIDS , pada awalnya, sama sekali tidak menyangka, jika dirinya telah terkena penyakit yang menyebabkan kematian itu. 

Demikian diungkapkan akademisi Fakultas Kedokteran Undip Semarang sekaligus dokter ahli penyakit dalam RS Kariadi Semarang Muchlis Achsan Udji, ketika menjadi nara sumber dalam Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS dan Narkoba Bagi Pelajar SMP dan SMA Kabupaten Temanggung, di aula RM Omah Kebon, Sabtu (5/10).

Nara sumber lain dalam acara yang diikuti 250 siswa SMP/SMA dan diselenggarakan Dinas Pendidikan itu ialah, Pengurus Badan Narkotika Nasional (BNN) Temanggung, Istantiyono, yang juga Kepala Kantor Kesatuan Kebangsaan dan Politik. 

Wabup Irawan Prasetyadi, membuka kegiatan yang juga dihadiri Kabid Pendidkan Dasar Dinas Pendidikan Surip Iriyanto itu. ‘’Saat ini kasus HIV/AIDS yang terdeteksi baru sebagian saja dari jumlah seluruh kasus yang diperkirakan,’’ujar Muchlis.

Menurutnya, di Indonesia diperkirakan saat ini ada 510 ribu kasus HIV/AIDS, namun yang diketahui baru sekitar 370 ribu kasus. Kemudian, untuk Jateng, saat ini diketahui ada sebanyak 6.064 kasus, dari perkiraan jumlah seluruhnya terdapat 10.862 kasus.

Diungkapkannya, kasus HIV/AIDS tersebut belum terungkap, terutama dikarenakan penderita bersangkutan tidak menyadari kalau dirinya terinveksi virus tersebut.

Sebab, selain mereka tidak mengetahui tentang HIV/AIDS, juga tidak ada gejala khusus yang ditunjukkan akibat terinveksi virus itu. ‘’Virus HIV menyerang kekebalan tubuh manusia, sehingga tidak ada gejala khusus. Gejalanya mungkin seperti, jika terserang flu tidak sembuh-sembuh, atau terkena diare tidak berhenti-henti,’’tuturnya.  

Penderita kadang juga tidak menyangka dirinya terinveksi virus itu, lantaran merasa selama ini tidak melakukan hal-hal rawan yang bisa mengakibatkan terkena HIV/AIDS tersebut.

‘’Pasien saya, ada yang masih pelajar SMA menderita AIDS, kemudian ada pula ibu muda yang terinveksi HIV meski selama ini tidak berperilaku menyimpang,’’katanya.

Namun setelah diteliti, ternyata pelajar SMA tersebut, pernah berhubungan seksual dengan pacarnya, seorang mahasiswi, yang kemungkinan telah tertular HIV/AIDS. Sedangkan ibu muda itu, kemungkinan tertular dari suaminya, yang ‘’mendapatkan’’ virus itu dari istri pertamanya yang telah meninggal.

Selain memaparkan tentang HIV/AIDS, dalam kesempatan itu, Muchlis mengajak para pelajar peserta sosialisasi untuk tidak ikut menambah jumlah penderita penyakit itu. Juga, meminta para pelajar untuk ikut menemukan penderita HIV/AIDS yang belum terdeteksi tersebut, guna ditindaklanjuti dengan pengobatan.

‘’Kalau ada orang yang kena flu tidak sembuh-sembuh misalnya, pelajar bisa menyarankan untuk cek darah, siapa tahu bukan sekadar kena flu,’’ungkapnya.

... selengkapnya
Penghuni Panti Pijat Terjangkit HIV/AIDS
ditulis pada 04 2013

Penghuni Panti Pijat Terjangkit HIV/AIDS

 

Dinas Kesehatan (Dinkes) terus memantau penularan HIV/AIDS. Bahkan, belum lama ini ditemukan dua perempuan penghuni panti pijat positif mengidap penyakit tersebut.

Menurut Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Boyolali, Titik Sumartini, kedua perempuan yang positif HIV/AIDS berasal dari luar Boyolali. Setelah terdeteksi, salah satu penderita bersedia memberikan kondom kepada pelanggannya yang datang.

“Sayangnya, satu orang ternyata tidak mau dengan berbagai alasan,” kata Titik.

Ditemui wartawan usai rapat koordinasi penanggulangan penyakit HIV/AIDS di kantor Dinkes Boyolali, Senin (30/9) pihaknya khawatir penyakit tersebut bakal menular kepada pelangganya karena menolak saran memakai kondom saat melayani pelanggan.

Mengingat kedua penderita dari luar daerah, maka dianjurkan untuk berobat di Puskesmas Boyolali I agar tidak perlu mengeluarkan biaya. Sebenarnya, Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnaketrans) juga berupaya memberikan ketrampilan kepada mereka melalui kursus salon kecantikan.

Diakui, untuk alih profesi memang tidak mudah. Mereka sulit meninggalkan pekerjaan yang digeluti karena penghasilan yang diperoleh ternyata menggiurkan. Saat ditanya penghasilan rata rata yang diperoleh, ternyata mencapai Rp 4 juta –Rp 5 juta/ bulan.

“Petugas yang memberikan ketrampilan juga kaget karena penghasilan yang diraih ternyata lebih besar dari dirinya,” imbuh dia.

... selengkapnya
Dewan Tindak Lanjuti Perda HIV/AIDS
ditulis pada 04 2013

Dewan Tindak Lanjuti Perda HIV/AIDS

 

Tak ingin kecolongan dengan semakin banyaknya penderita HIV/AIDS di Grobogan, Dewan segera bertindak. Salah satunya menindaklanjuti usulan pembuatan Perda HIV/AIDS. Perda dinilai akan menjadi payung hukum yang kuat dalam proses pencegahan dan penanggulangan.

Pada tahun 2012 ditemukan 87 kasus HIV/AIDS di Grobogan. Angka ini dimungkinkan akan terlampaui, lantaran per bulan Agustus lalu sudah ditemukan 85 kasus baru. Sehingga per tahun 2007 sampai saat ini jumlah penderita mencapai 330 orang. Dimana 68 di antaranya telah meninggal dunia.

"Melihat jumlah penderita yang sedemikian banyak, Perda ini penting untuk segera dibahas. Jangan sampai nantinya (penderita) bertambah banyak," kata Ketua DPRD Grobogan Sri Sumarni SH MM didampingi Wakil Ketua Wasono Nugroho SH, Jumat (27/9).

Perda akan mengatur perihal pokok-pokok pencegahan dan penanganan pada penderita. Hal lain yang tak kalah penting adalah soal alokasi anggaran yang digunakan untuk pencegahan dan pengobatan. Tanpa adanya anggaran yang cukup, maka pencegahan tidak bisa maksimal.

Perda juga menjadi payung hukum bagi eksekutif untuk memberikan tindakan tegas bagi pihak-pihak yang terbukti melakukan kegiatan mengarah pada penyebaran virus berbahaya tersebut. Salah satunya adalah karaoke yang tidak memiliki izin.

Sebagaimana diketahui Dinkes dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) seringkali kesulitan mendata kesehatan orang-orang yang bekerja di café dan karaoke.

... selengkapnya
MALAM RENUNGAN HIV AIDS
ditulis pada 20 2013

Sejumlah warga menyalakan lilin saat acara Malam Renungan HIV AIDS di Plaza Sriwedari, Solo Minggu (12/5/2013) malam. Aksi kepedulian terhadap penyandang penyakit HIV AIDS tersebut diisi sosialisasi dan apresiasi seni mengenai penyakit HIV AIDS.

... selengkapnya
<< 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 >>