• Terdapat penambahan fitur baru pada www.aidsjateng.or.id yaitu 'TV Spot KPAP'
  • SK Pembentukan KPA Kab/Kota, bisa di download pada menu direktori
  • Data Kasus HIV dan AIDS sampai dengan 31 Desember 2014 adalah 10.804 kasus
  • Sudah Ada 35 KPA Kab/Kota di Jawa Tengah

Online News

Dinsos Jateng Berikan Motivasi Kepada ODHA
ditulis pada 20 2013

EMARANG. Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) adalah adalah sebutan untuk orang yang menderita penyakit HIV/AIDS. Banyak penyebab yang menyebabkan seseorang dapat tertular HIV, namun kekkhawatiran yang berlebihan terhadap penularan virus HIV menjadi permasalahan sendiri. Para ODHA seringkali mendapat perlakuan yang tidak adil dalam berbagai bidang, mereka mendapatkan diskriminasi yang berlebihan dari masyarakat. Sebagian besar masyarakat beranggapan HIV/AIDS adalah penyakit dari laknat Tuhan, mereka khawatir tertular HIV jika berdekatan dengan ODHA, padahal penularan virus HIV tidak bisa hanya dengan bersentuhan, salaman, cium pipi atau aktifitas lainnya. Yang perlu kita hilangkan dari masyarakat adalah stigma negatif terhadap ODHA. Ibaratnya pengidap HIV/AIDS ini sudah jatuh tertimpa tangga. Mereka harus melawan penyakit yang mematikan sekaligus harus menanggung diskriminasi sosial yang cukup berat.

Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah perlu menangani permasalahan yang terkait dengan ODHA. Hal ini disebabkan karena sebagian ODHA termasuk dalam PMKS seperti Wanita Tuna Susila, Anak jalanan, Eks Nara pidana, Eks Penyalahguna Narkoba, Waria, dan Gelandangan, Pekerja Migran Bermasalah. Selain itu adanya stigma masyarakat terhadap ODHA yang akhirnya memunculkan diskriminasi diberbagai bidang, seperti pendidikan, kesehatan, politik, dan sosial kemasyarakatan yang mengakibatkan munculnya permasalahan sosial.

Salah satu hal yang telah dilakukan Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah dalam penanggulangan HIV/AIDS adalah dengan memberikan motivasi kepada ODHA dalam bentuk kegiatan Temu Konsultasi yang dilaksanakan pada hari Kamis (14/3/2013) di Aula Gedung Rawat Jalan RS Dr. Kariadi Semarang. Sebanyak 70 ODHA mengikuti kegiatan yang dikemas secara santai, selain mendapatkan pengetahuan, motivasi mereka juga dihibur organ tunggal, data terakhir yang dihimpun Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah tercatat sampai dengan tahun 2012 diketahui ada 6.042 Kasus, dengan kompisisi HIV sejumlah 3.253 dan AIDS 2.789 jiwa. Orang dengan HIV dan AIDS ibarat Gunung Es yang hanya muncul dipermukaan, butuh partisipasi dari semua pihak untuk mencegah bertambahnya angka tersebut.

Bambang Nugroho sebagai seorang motivator yang handal telah memberikan motivasi kepada ODHA bagaimana mencari kebahagiaan, karena tujuan utama hidup adalah mencapai kebahagiaan. Narasumber lainnya adalah seorang psikolog Kuriake Kharismawan, S.Psi memberikan konsultasi psikologi untuk membangun mental yang positif. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah selain memberikan hiburan dan dukungan mental kepada ODHA, juga untuk memberikan semangat bahwa dunia belumlah berakhir, mereka masih bisa melakukan hal-hal yang positif dan berkarya ditengah masyrakat meski menyandang sebagai ODHA. (imam)

... selengkapnya
Gawat! 436 Ibu Rumah Tangga di Jateng Terjangkit HIV dan AIDS
ditulis pada 01 2012

LENSAINDONESIA.COM: Program pencegahan dan penanggulan penularan penyakit HIV/AIDS di provinsi Jawa Tengah, saat ini sedang terus digencarkan untuk menekan jumlah penderita yang terinfeksi penyakit mematikan tersebut. Pasalnya, Jateng kini berada di peringkat 6 nasional dari segi jumlah kasus HIV/AIDS setelah Bali, dengan jumlah penderita hingga Juni 2012 yang baru terungkap mencapai 5.301 orang dari estimasi sebanyak 10.815 kasus.

Pengelola Program Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Jateng, Ridha Citra Turyani mengatakan kepada LICOM, hingga Juni 2012 di Jateng memang masih separuh ditemukan kasus HIV/AIDS sebanyak 5.301 orang, karena penyakit yang mematikan ini masih sangat sulit terdeteksi bagaikan gunung es.

Dari jumlah tersebut terdapat 2,922 orang yang terinfeksi HIV, 2.379 orang terinfeksi AIDS dan 642 orang diantaranya meninggal. “Maka dari itu, dengan tingginya jumlah penderita di Jateng perlu dilakukan penanggulangan penyakit mematikan tersebut.

Dalam hal ini, kami meminta semua multipihak baik dari pemerintahan, sekolah maupun masyarakat bisa ikut bersama-sama melakukan penanggulangan HIV-AIDS,”ujarnya saat melakukan rapat pleno Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) di Kota Tegal Selasa (16/10/2012).

Disebutkannya, jumlah penderita HIV/AIDS tiap tahunnya terus mengalami peningkatan seiring masih belum tahunya masyarakat tentang penyakit mematikan tersebut. Apalagi, mereka yang beresiko tinggi pun masih belum sadar untuk memeriksakan ke klinik VCT.

Hal itu bisa dilihat dari data yang diperoleh di tingkat Jateng penderita tertinggi lebih didominasi dari kalangan wiraswasta sebanyak 482 orang (20,25%), diikuti ibu rumah tangga (IRT) sebanyak 436 orang (18,33%), karyawan 273 orang (11,48%), PNS 42 orang, TNI/Polri 13 orang dan pramugari 1 orang.

Penyebaran HIV/AIDS tertinggi karena heteroseksual yang mencapai 70 persen, dengan masa inkubasi rata-rata 25 tahun dimana penderita mulai terkena virus pada usia 15 tahun.

Dengan melihat estimasi populasi resiko rawan tertular pada tahun 2009 oleh KPA yang menyebutkan saat ini Jateng menempati urutan ke-6 tingkat nasional.

Apabila masalah ini tidak segera dilakukan percepatan yang komprehensif terhadap kasus HIV/AIDS di Jateng, maka nantinya Jateng bisa melebihi dari Jabar dan Jatim. “Kami berharap penangangan HIV/AIDS bukan hanya tugas KPA atau Dinas Kesehatan, tapi semua unsur dari pemerintahan, masyarakat maupun swasta setidaknya menghambat pertumbuhan virus, karena sampai sekarang belum ada obat untuk memberantas virus HIV/AIDS,”paparnya.

Semantara itu,Habib Ali Zaenal Abidin, Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Tegal  menuturkan, Kota Tegal saat ini berada di peringkat 16 untuk jumlah penderita HIV AIDS se – Jawa Tengah. Berdasarkan data dari dinas kesehatan kota Tegal, jumlah penderita HIV AIDS cenderung mengalami peningkatan.

Dari hasil temuannya hingga September 2012 tersebut, berjumlah 211 orang. Dengan hasil itu terdapat 64 orang yang terinfeksi HIV/AIDS. Bukan hanya itu, sesuai data dari tahun 2008 hingga bulan september 2012 jumlah warga kota tegal yang meninggal karena HIV AIDS mencapai 17 orang.

“Maka dari itu, untuk menekan jumlah penderita HIV AIDS, pemkot Tegal akan melakukan sosialisasi bahaya penyakit AIDS bekerjasama dengan pemerintah provinsi Jawa Tengah dengan sasaran sosialisasi ditujukan untuk para pelajar tingkat SMP dan SMA.

Selain itu, kami juga akan meningkatkan fasilitas pendeteksi virus HIV AIDS yang tidak hanya di Klinik VCT RSUD Kardinah, tetapi juga di Balai Pengobatan Paru – Paru (BP4) dan Puskesmas Tegal Barat,” pungkasnya. @boy

... selengkapnya
Pengidap HIV dan AIDS di Kebumen Terus Meningkat
ditulis pada 01 2012

KEBUMEN, KOMPAS.com — Jumlah kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, terus meningkat. Hingga April 2012, tercatat sebanyak 40 kasus HIV dan 101 kasus AIDS dengan 55 pengidap meninggal.

Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Kebumen Siti Nuriatun Fauziah mengatakan, sebelumnya, sejak 2003 hingga November 2011, tercatat 29 kasus HIV dan 79 kasus AIDS dengan 46 penderitanya meninggal. Namun, hingga April 2012, jumlahnya meningkat menjadi 40 kasus HIV dan 101 kasus AIDS dengan 55 penderita meninggal dunia.

"Artinya, hanya dalam waktu lima bulan, terjadi peningkatan 11 kasus HIV dan 22 kasus AIDS dengan penambahan sembilan pengidap meninggal dunia," ungkap Nuriatun, Rabu (19/9/2012).

Hal yang memprihatinkan, menurut dia, sebagian besar pengidap tergolong kelompok usia produktif. Bahkan, tidak sedikit anak balita berusia yang terkena. Pengidap berusia 15-19 tahun tercatat 11,1 persen, 25-29 tahun sebanyak 48,49 persen, 30-34 tahun 19,75 persen, dan 35-39 tahun 16,04 persen.

"Untuk pengidap balita, 4,62 persen. Ini angka yang cukup tinggi dan sangat memprihatinkan," kata Nuriatun.

Untuk itu, Pemkab Kebumen menggagas peraturan daerah tentang penanggulangan HIV/AIDS. Aturan tersebut dibutuhkan guna memberi perlindungan bagi masyarakat dari risiko penularan HIV/AIDS, selain meiningkatkan pelayanan kesehatan bagi pengidap.

Editor :
Nasru Alam Aziz
... selengkapnya
Meningkat, Jumlah Pengidap Virus HIV/AIDS di Jawa Tengah
ditulis pada 01 2012

SEMARANG ( Pos Kota ) – Hingga akhir September 2012 , di Jateng terdeteksi sebanyak 5.584 jiwa terjangkit virus HIV/AIDS . Angka tersebut terdiri dari 3.012 pengidap HIV , 2.572 tertular AIDS dan 676 meninggal dunia akibat virus ganas tersebut .

Menurut Sekreataris Komisi Penanggulangan AIDS ( KPA) Propinsi Jawa Tengah , Sigit Setiabudi , Jateng menduduki peringkat keenam di Indonesia dalam hal Pengidap virus  HIV/AIDS. Jumlah itu merupakan data yang terdeteksi oleh KPAP , ujarnya .

“Mungkin masih banyak lagi yang belum teridentifikasi oleh kami,” kata Sigit . Disebutkan , untuk penanggulanganya, berdasarkan Undang-undang No.5 Tahun 2009 . Soal kewenangan nya , secara teknis upaya tersebut diambil alih oleh masing-masing kota dan kabupaten.“Kami hanya mengkordinir, memfasilitasi serta mengakomodasi kebutuhan dinas Pemda terkait,” lanjutnya .

Selain langkah pencegahan, Sigit menjelaskan, KPA Jateng juga berencana membangun program rehabilitasi dan peningkatan pemberdayaan ekonomi Orang Dengan AIDS (ODA). Para penderita ODA nantinya akan diberikan motivasi untuk mengembangkan dirinya, sehingga kecenderungan prilakunya dapat berubah. Akan ada pelatihan serta pemberian modal untuk mereka membangun usaha kecil dan akan terus dipantau .

Saat ini KPAP sedang memfokuskan diri dengan program pembentukan kader yang dilakukan di sekolah-sekolah seluruh Jateng. Dia menilai, dengan adanya pemantapan serta pembinaan bagi siswa sekolah tersebut, berarti upaya pencegahan dini sudah mulai dilakukan.

“Usia sekolah juga tergolong rentan tertular HIV. Sehingga dengan adanya sosialisasi tersebut, mereka mempunyai pegetahuan lebih soal bahaya serta penanggulagan penyakit tersebut. Pengaruh antar teman sebaya di kalangan remaja lebih cepat diterima ketimbang para orang tua ataupun guru,” pungkas Sigit. ( Suatmadji /dms) .

... selengkapnya
Prostitusi Kian Liar, Kasus HIV dan AIDS Menjalar
ditulis pada 31 2012

Meningkatnya praktik prostitusi terselubung terbukti telah menambah daftar para penderita HIV/AIDS. Apalagi dengan hadirnya praktik prostitusi di dunia maya, penyebaran penyakit mematikan tersebut pun kian susah dikendalikan.

Data yang dilansir Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (Spekham) Solo, jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Solo hingga pertengahan 2012 lalu telah mencapai 795 orang. Jumlah tersebut cenderung naik tiap tahun di mana pada tahun sebelumnya hanya 577 orang. “Sejak lokalisasi di Solo ditutup, praktik prostitusi kian liar di mana-mana. Akibatnya, upaya untuk membina dan mencegahnya pun kian sulit,” kata pegiat Spekham Solo, Patmin akhir pekan lalu.

Patmin menjelaskan, para pengidap HIV/AIDS tersebut bukan hanya pekerja seks komersial (PSK), melainkan juga menyerang ibu rumah tangga, anak balita, karyawan swasta, pengusaha, para sopir. Bahkan, para pelajar dan mahasiswa pun juga sudah terserang virus ganas itu. “Jumlahnya memang baru sedikit. Namun, ini tetap membahayakan. Sebab, usia paling rentan itu ialah 20-35 tahun” ujarnya.

Koordinator Penanganan Kasus Spekham Solo, Nila Ayu Puspaningrum menambahkan, selama ini hukum belum memberi perlindungan kepada kaum perempuan yang kerap menjadi korban eksploitasi seksual. Salah satunya ialah jika ada operasi penyakit masyarakat, kaum perempuan kerapkali menjadi pihak yang bersalah. “Padahal, untuk kasus anak di bawah umur, anak-anak itu tak bisa disalahkan,” paparnya.

Terkait itulah, kata Nila, penting adanya upaya untuk membangun pendidikan kritis bagi perempuan. Tujuannya untuk penguatan kaum perempuan di tengah-tengah masyarakat. Pendidikan kritis itu bukan saja menyangkut kesehatan reproduksi, namun juga tahu akan hak dan kewajibannya ketika berinteraksi dengan lawan jenis. Dan tanggung jawab itu, bukan urusan pemerintah, melainkan juga LSM, masyarakat dna keluarga di rumah. “Apa pun alasannya, ketika anak-anak remaja seusia SMP-SMA sudah mau diajak berhubungan seks di luar nikah, itu adalah kejahatan. Alasan bahwa hal itu dilakukan suka sama suka, sama sekali tak bisa dibenarkan,” tegasnya.

... selengkapnya
Penderita HIV dan AIDS Meningkat, Dinkes dan DPRD Kota Semarang Buat Perda
ditulis pada 31 2012

Tingginya angka penularan virus HIV/AIDS di Kota Semarang, Jawa Tengah akhir-akhir ini membuat ke prihatinan berbagai pihak,tak terkecuali kalangan eksekutive dan legislative. Untuk mengurangi dampak penularan virus mematikan itu, Dinas Kesehatan Kota Semarang mengajukan ke legislative untuk membuat peraturan daerah (Perda).

Bak gayung bersambut, kalangan legislative langsung merespon. Buktinya, kemarin DPRD Kota Semarang mulai mebahas rancangan Perda yang diyakini mampu menekan angka penularan penyakit yang belum ditemukan obat penawarnya itu.

Rapat pembahasan Perda yang dimotori oleh Dinas Kesehatan itu dihadiri sejumlah anggota DPRD Kota semarang. Bahkan, menurut Kadis Kesehatan, Dr. Widoyono, MPh pengajuan perda ini berkaitan semakin meningkatnya penderita HIV/AIDS di Kota Semarang.

Berdasarkan data yang ada di instansinya pada Tahun 2008 terdapat 199 kasus (HIV) dan 15 kasus (AIDS), Tahun 2009 diidentifikasi 323 kasus (HIV) dan 19 kasus (AIDS), sedangkan tahun 2010 terdapat 287 kasus (HIV) dengan 61 kasus AIDS dan selama Tahun 2011 tercatat 409 kasus HIV dengan 49 kasus penderita AIDS.

Dari kasus tersebut kata Widoyono, angka penularan tertinggi masih disebabkan oleh heteroseksual (76 persen), penggunaan napza suntik (11 persen), tidak diketahui sebanyak 5 persen, homoseksual dan biseksual (masing-masing 3 persen), dan perinental sebesar 2 persen.

Sementara, profesi penderita HIV/AIDS itu berasal dari berbagai profesi diantaranya wiraswasta (20 persen), ibu rumah tangga (17 persen), karyawan (16 persen), lain-lain (11 persen), buruh (10 persen), tidak diketahui (10 persen), mahasiswa (5 persen), pelaut (3 persen), pengusaha (3 persen), pegawai negeri sipil (2 persen), dan wanita pekerja seks (1 persen).

Untuk menghambat korban penderita lainnya, Dinas Kesehatan Kota Semarang saat ini menerapkan delapan program, yakni komunikasi perubahan perilaku, penggunaan kondom 100 persen, klinik infeksi menular seksual, klinik VCT, CST (pemberian dukungan dan pengobatan), layanan alat suntik steril dan terapi dengan metadon, program pencegahan penularan dari ibu ke anak, serta program pencegahan AIDS melalui transmisi seksual masih terus dilakukan.**

... selengkapnya
80 Persen Pengidap HIV dan AIDS Ibu Rumah Tangga
ditulis pada 31 2012

SEMARANG, suaramerdeka.com - Penerus perjuangan RA Kartini pada masa sekarang menghadapi persoalan krusial. Lemahnya posisi tawar menjadikan wanita sangat rentan terhadap penyakit HIV/AIDS.

Hal itu dikatakan Pelaksana Harian (PlH) Gubernur Jateng Rustriningsih, Senin (23/4). Hal itu diketahuinya dari hasil penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) yang menyatakan bahwa remaja putri 2,5 kali lebih rentan tertular, ketimbang remaja putra.

"Pasalnya dari tiga aspek penularan, yakni pola berhubungan seks, melahirkan dan jarum suntik, wanita terlibat dalam dua aspek yakni hubungan seks dan melahirkan," ujarnya ketika memberikan sambutan dalam acara Peringatan Hari Kartini di Gedung Grhadika Bhakti Praja, Kompleks Gubernuran, Jalan Pahlawan.

Penelitian BNN juga menyebut 80 persen pengidap HIV/AIDS adalah ibu rumah tangga. Hal ini sekaligus membantah pendapat mayoritas yang kadung menstigmakan HIV/AIDS adalah penyakit milik pekerja seks komersial (PSK). Jumlah PSK di seluruh Indonesia diperkirakan sekitar 250 ribu, sementara penderita HIV/AIDS sekitar 3 jutaan jiwa.

Terjangkitnya ibu rumah tangga itu sebagian besar karena ditulari oleh suami yang melakukan hubungan seks secara sembarangan. Untuk hal ini, Rustri menunjukkan data pendukung bahwa 53,1 persen laki-laki memiliki kecenderungan selingkuh. Di Jawa Tengah sendiri hingga akhir 2011, jumlah kasus HIV/AIDS tercatat sebanyak 4.638 kasus, dengan 568 orang diantaranya telah meninggal dunia.

Didorong keprihatinan pada kondisi itulah, peringatan Hari Kartini kali ini mengusung tema "Dengan Semangat Kartini kita Galang Bersama Gerakan Penanggulangan HIV/Aids bagi Perempuan dan Anak di Jawa Tengah."

( Anton Sudibyo / CN27 / JBSM )

... selengkapnya
5.525 Orang Kena HIV dan AIDS, 603 Meninggal
ditulis pada 31 2012

BALAIKOTA—Dalam kurun waktu 19 tahun terakhir, jumlah penderita HIV/AIDS di Jawa Tengah mencapai angka 5.525 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 2.769 merupakan pengidap HIV dan 2.153 lainnya positif terkena AIDS. Sedangkan 603 penderita meninggal dunia.
Dari jumlah itu, 61,7 persen merupakan laki-laki. Rentang usia penderita tertinggi ada berada pada kisaran 25–29 tahun yang jumlahnya mencapai 574 orang (26,6 persen). Kendati demikian, hingga saat ini belum ada regulasi yang mengharuskan warga, terutama yang berisiko tinggi untuk memeriksakan darahnya.
Pernyataan itu disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah Rustri Ningsih, ketika menjadi keynote speaker dalam Rapat Koordinasi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Jawa Tengah dengan  KPA dan Warga Peduli AIDS (WPA) di 35 Kabupaten/ Kota, di Balai Tawangarum, Solo Kamis (28/6).
”Tidak ada aturan yang memaksa warga untuk memeriksakan diri ke klinik. Sebenarnya pemeriksaan wajib sudah diberlakukan pada TKI yang hendak diberangkatkan. Tetapi ketika pulang tidak diberlakukan wajib periksa,” kata Rustri, yang juga Ketua KPA Provinsi Jawa Tengah itu.
Menurutnya, hal tersebut justru berbahaya. Karena TKI itu dan keluarganya tidak tahu betul kondisinya. Artinya, penularan bisa terjadi tanpa mereka sadari bahwa saat itu sudah terpapar virus HIV.
Namun, persoalan tersebut tidak bisa dibebankan pada penderita saja. Selain melalui KPA, perlu dibentuk Warga Peduli AIDS (WPA) yang akan menjadi ujung tombak di masyarakat. ”Baru ada 13 kabupaten dan kota yang memiliki WPA. Berarti masih ada 32 wilayah yang belum melaksanakannya. Saya juga minta agar ada keterlibatan dari media massa dengan memberi space rutin untuk topik- topik ini,” imbuh Wakil Gubernur Bibit Waluyo itu.
Wakil Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo menambahkan, selama ini, keberadaan KPA dinilai cukup efektif. Namun, mereka terkendala pencairan dana hibah untuk operasional. Seharusnya tahun ini lembaga itu menerima hibah Rp 100 juta. Tapi terkendala Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial yang Bersumber dari APBD.  ”Aturannya Ketua KPA dijabat Wakil Walikota. Padahal, berdasarkan Permendagri itu, pemerintah tidak boleh memberi dana hibah kepada pemerintah,” ujarnya.

... selengkapnya
<< 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 >>