• Terdapat penambahan fitur baru pada www.aidsjateng.or.id yaitu 'TV Spot KPAP'
  • SK Pembentukan KPA Kab/Kota, bisa di download pada menu direktori
  • Data Kasus HIV dan AIDS sampai dengan 31 Desember 2014 adalah 10.804 kasus
  • Sudah Ada 35 KPA Kab/Kota di Jawa Tengah

Online News

Grobogan Perlu Sediakan Anggaran Penanggulangan HIV dan AIDS
ditulis pada 31 2012

GROBOGAN, (DetikNews) – Kasus penularan virus HIV/AIDS di Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah, meningkat. Hal itu perlu ditanggapi serius oleh pemerintah daerah dengan memberikan anggaran di APBD tiap tahun untuk membiayai program penanggulangan virus mematikan tersebut.

“Perkembangan HIV/AIDS di Kabupaten Grobogan meningkat cukup signifikan. Dari data penelitian Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Tengah Mei 2011- Juni 2012 jumlah kasus 119-189 orang terinvesi HIV/AID. Berdasarkan data, yang meninggal 53 orang sampai juni 2012. Demikian dikemukakan Direktur PKBI Jateng Eliza saat audiensi ke Komisi D DPRD Grobogan, baru-baru ini.

Menurut Aktivis Vallentere Peduli HIV/AIDS Kabupaten Grobogan, Sutrisno, mengatakan, melihat perkembangan virus HIV/AIDD yang naik cukup signifikan menggugah dirinya untuk mencari orang yang siap menyosialisasikan bahaya penyakit ini.

“Kami turut prihatin terhadap perkembangan s HIV/AIDS dan sudah banyak korban baik anak-anak mulai berumur 0-14 tahun maupun dewasa. Untuk penanganannya harus serius, kususnya pemerintah bertanggung jawab dalam hal penganggaran dana untuk sosialisasi,” katanya. (sofi)

... selengkapnya
HIV dan AIDS pada Ibu Rumah Tangga Peringkat 2 di Jawa Tengah
ditulis pada 31 2012

Ini (maksudnya kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada ibu rumah tangga-pen.) mengkhawatirkan, karena artinya epidemi HIV/AIDS mulai memasuki masyarakat umum. Ibu rumah tangga yang terkena, akan menularkan penyakit yang belum ditemukan obatnya itu kepada anak yang dilahirkannya.” Ini pernyataan Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jateng, Rustriningsih, dalam berita “Ibu Rumah Tangga Peringkat Kedua Penderita HIV/AIDS di Jateng” (metrotvnews.com, 28/6-2012).

Pernyataan yang menyebutkan ‘epidemi HIV/AIDS mulai memasuki masyarakat umum’ jelas tidak akurat karena sejak awal epidemi tahun 1981 HIV/AIDS sudah ada di keluarga dan masyarakat (umum).

Laki-laki gay dan pekerja seks komersial (PSK) serta waria adalah bagian dari keluarga dan masyarakat. Kalau mereka dikatakan bukan bagian dari keluarga dan masyarakat itu artinya kita sudah melakukan diskriminasi (perlakuan berbeda).

Yang persoalan (besar) terkait dengan HIV/AIDS yang terdeteksi pada ibu-ibu rumah tangga adalah perilaku suami ibu-ibu itu. Fakta ini sudah memupus anggapan bahwa (sosialisasi) kondom mendorong orang berzina atau melacur. Kalau suami ibu-ibu yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS itu memakai kondom ketika berzina atau melacur tentulah mereka tidak tertular HIV.

Tapi, karena pijakan yang dipakai moral bukan fakta empiris maka orang-orang yang menganggap kondom mendorong zina dan melacur tetap tidak mau membuka kaca mata moral yang mereka pakai.

Penyebaran HIV/AIDS di kalangan ibu rumah tangga di Provinsi Jawa Tengah dikabarkan mencapai 18,3 persen dari 4.992 kasus kumulatif HIV/AIDS di Jawa Tengah.

Yang perlu dikhawatirkan atau dirisaukan bukan soal HIV/AIDS di kalangan ibu-ibu rumah tangga, tapi perilaku suami mereka. Kalau ada di antara suami-suami itu yang mempunyai istri lebih dari satu maka jumlah perempuan yang berisiko tertular HIV tentu tambah banyak. Jumlah perempuan yang berisiko tambah banyak lagi kalau suami-suami yang menularkan HIV kepada istrinya itu juga pelanggan PSK serta waria.

Yang perlu dipertanyakan adalah: Apakah ada program konseling pasangan yang dikembangkan KPA Prov Jawa Tengah?

Artinya, apakah suami ibu-ibu rumah tangga yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS itu sudah dikonseling dan menjalani tes HIV?

Kalau jawabannya TIDAK, maka suami-suami itu akan menyeberkan HIV di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Disebutkan: “Yang lebih memprihatinkan lagi, jumlah penderita HIV/AIDS dari kalangan bayi dan balita juga terbilang tinggi. Untuk usia nol hingga empat tahun tercatat 69 orang (3,2 persen) dan usia lima hingga sembilan tahun sebanyak 24 orang (11 persen).”

Kalau prihatin, maka pertanyaannya adalah: Apakah KPA Prov Jawa Tengah mempunyai program yang konkret untuk mendeteksi HIV/AIDS pada perempuan hamil?

Sudah bisa dipastikan: Tidak ada!

Soalnya, dalam Perda AIDS Prov Jawa Tengah pun tidak ada pasal-pasal yang konkret untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS. Perda itu berpijak pada ranah moral sehingga pasal-pasalnya pun hanya bersifat normatif (Lihat: http://sosbud.kompasiana.com/2011/03/02/%E2%80%98seks-bebas%E2%80%99-jargon-moral-yang-menyesatkan-dan-menyudutkan-remaja/).

Menurut Rustriningsih: “Penyebaran HIV/AIDS yang cenderung meningkat itu menjadi pekerjaan serius yang harus segera diselesaikan dengan melibatkan semua unsur.”

Pertanyaan yang sangat mendasar adalah: Apakah Pemprov Jawa Tengah bisa menjami bahwa tidak ada laki-laki dewasa penduduk Jawa Tengah yang melacur tanpa kondom di Jawa Tengah atau di luar Jawa Tengah atau di luar negeri?

Kalau jawabannya BISA, maka puji syukur tidak ada penyebaran HIV/AIDS di Jawa Tengah dengan faktor risiko hubungan seksual.

Tapi, kalau jawabannya TIDAK BISA, maka tanpa langkah yang konkret, Pemprov Jawa Tengah tinggal menunggu waktu untuk ‘panen AIDS’. [Syaiful W. Harahap]

... selengkapnya
Jawa Tengah Jadi Daerah Pandemi HIV dan AIDS
ditulis pada 31 2012

SEMARANG, (PRLM).- Ketua Komisi Penanggulangan HIV-AIDS (KPA) Jawa Tengah, Rustriningsih, mengatakan Provinsi Jawa Tengah telah menjadi daerah pandemi HIV-AIDS, dengan posisi naik dua peringkat dalam daftar provinsi dengan kasus HIV-AIDS terbanyak.

Rustriningsih, yang juga Wakil Gubernur Jawa Tengah, menyatakan bahwa provinsi tersebut sekarang berada di peringkat empat, naik dari peringkat enam tahun sebelumnya. Padahal pemerintah provinsi telah memberlakukan peraturan daerah tentang penanggulangan HIV-AIDS sejak 2009.

“Penyebaran dan perkembangan HIV/AIDS di Jawa Tengah sudah sangat memprihatinkan. Sejak 1993 hingga Maret 2012, tercatat hampir 5.000 kasus HIV/AIDS dan mayoritas terjadi pada usia produktif,” ujar Rustriningsih.

Lebih mengkhawatirkan lagi, menurut Rustriningsih, ibu rumah tangga menempati urutan ke-2 untuk kategori jenis pekerjaan orang dengan HIV/AIDS, yaitu sebanyak 394 kasus (18.3 persen). Peringkat pertama adalah wiraswasta dengan 439 kasus.

Hal ini menunjukkan bahwa HIV sudah menyebar pada kelompok masyarakat yang tadinya dianggap bukan kelompok risiko tinggi. Pada tingkat nasional, kasus HIV/AIDS di kalangan ibu rumah tangga menduduki peringkat tertinggi sebanyak 622 kasus pada 2011, diikuti dengan wiraswasta dengan 544 kasus. “Jumlahnya cukup tinggi. Ini yang menjadi catatan penting dan dicari solusinya permasalahannya,” tegas Rustriningsih.

Ketua KPA Solo, Hadi Rudyatmo, mengatakan jumlah kasus HIV/AIDS di Solo juga terus merangkak naik. Solo menempati urutan pertama untuk daerah dengan kasus HIV/AIDS di Jawa Tengah terbanyak. Sementara itu, ujar Hadi, pencairan anggaran penanggulangan HIV/AIDS di kota itu terhambat akibat birokrasi yang berbelit.

“Ya kita tetap lakukan sosialisasi penanggulangan HIV/AIDS. Kita bentuk kelompok warga peduli HIV/AIDS di masyarakat. Nah, dana untuk operasional itu kita patungan atau bayar rame-rame dulu pakai uang pribadi masing-masing,” tambahnya. (voa/A-147)

... selengkapnya
Memerangi AIDS dan TB
ditulis pada 31 2012

"Jawa Tengah bertekad memerangi  HIV/ AIDS dan tuberkulosis (tb) di tengah masyarakat dan tempat kerja"

Memasuki Desember 2011, keberhasilan pembangunan bidang kesehatan di Jateng antara lain ditandai dengan makin meningkatnya usia/ umur harapan hidup masyarakat dan berarti dimungkinkan makin banyak lansia yang membutuhkan peningkatan pelayanan dan pembiayaan kesehatan.
Namun di sisi lain, ada peningkatan angka kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan kerja, dampak dari perubahan iklim dan meningkatnya pencemaran lingkungan serta perubahan gaya hidup yang tidak sehat. Angka kasus penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular), kanker, dan penyakit tidak menular lainnya juga menunjukkan kecenderungan meningkat.
Selain itu, masyarakat prihatin dengan munculnya kasus AIDS secara sporadis di penjuru Tanah Air. Laporan monitoring VCT dan data (Depkes Juni 2011) menyebutkan kasus AIDS berturut-turut meliputi DKI Jakarta dengan 17.130 penderita, Jawa Timur 846, Papua 5.472, Jawa Barat 4.974, Bali 3.849, dan Jawa Tengah 3.059 penderita.
Mengacu data BPS Juni 2011, dari jumlah penduduk Indonesia 238.893.400 jiwa, rata-rata kumulatif kasus AIDS ada 11,09 per 100 ribu penduduk. Distribusi penderita AIDS meliputi kelompok umur 20-29 tahun 46,4% umur 30-39 tahun 31,5%, dan umur 40-49 tahun 9,8 %.
Data lain menyajikan paparan jumlah kasus HIV/AIDS di Provinsi Jawa Tengah menempati peringkat 7 di tingkat nasional dengan 1.030 kasus. Tingkat pertama jumlah kasus terbanyak diduduki  DKI Jakarta dengan 3.995 kasus. Jika dikalkulasi data tahun 1993-2011, penderita didominasi oleh kaum perempuan yakni sebanyak 62%. (SM, 27/07/11)
Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi atau sindrom yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat terinfeksi human immunodeficiency virus (HIV). Rusaknya sistem kekebalan tubuh telah memperparah masalah kesehatan masyarakat yang sebelumnya sudah ada yaitu tuberkulosis (tuberculosis/ tb).
Banyak penelitian menunjukkan bahwa kejadian tuberkulosis telah meningkat secara nyata akibat munculnya kasus HIV. Hal ini sungguh membahayakan karena tuberkulosis masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia, dan tiap tahunnya ditemukan lebih dari 300.000 kasus baru. Karena itu, para ahli kesehatan bersepakat bahwa perawatan untuk dua jenis penyakit ini hendaknya dilakukan secara bersamaan.
Penularan AIDS dapat melalui berbagai cara, di antaranya praktik heteroseksual 54,8%, melalui IDU (jarum suntik) 36,2%, hubungan intim sesama jenis 2,9%, parenteral 2,3 %, transfusi darah 0,2%. dan tak diketahui 3,0 %. Catatan mengenai proporsi kasus AIDS yang meninggal ada 19,1%, sedangkan proporsi terkena AIDS antara lelaki dan perempuan adalah 3:1 (Depkes, Juni 2011)
Momentum
Kamis, 1 Desember 2011 masyarakat dunia, termasuk Indonesia, memperingati Hari AIDS Sedunia atau AIDS Day. Tahun ini Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) memilih tema ”Getting to Zero, Safety Riding, and Safety Life”. Adapun Kementerian Kesehatan memilih tema nasional ”Lindungi Pekerja dan Dunia Usaha dari HIV dan AIDS” dengan subtema ”Penanggulangan HIV AIDS di Tempat Kerja sebagai Bagian dari Peningkatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja”. Pemerintah memacak slogan ”Stop HIV dan AIDS.”
Pemerintah Provinsi Jawa tengah, terutama jajaran Dinas Kesehatan, dengan seluruh komponen masyarakat menggalang kerja sama lintas institusi, lembaga swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan sampai pelosok desa dengan program penanggulangan AIDS secara lintas sektor dan lintas program.
Pemprov terus menyosialisasikan bahaya dan penularan AIDS, pelayanan dan pengobatan tb dengan pusat rujukannya, antara lain dengan membangun balai kesehatan paru, pelayanan kesehatan di rumah sakit ataupun pelayanan dan penyuluhan oleh Komisi/ Badan Penanggulangan AIDS serta mendirikan Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) di kota dan kabupaten.
Masyarakat Jawa Tengah bertekad lebih meningkatkan iman dan takwa, menjauhi cara penularan HIV/ AIDS, serta pantang menyerah dan terus bergerak bersama memerangi  HIV/ AIDS dan tuberkulosis di tengah masyarakat dan tempat kerja masing-masing. (10)

— Dr Saifuddin Ali Anwar, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Semarang, pengurus Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Cabang Jateng.
(Artikel ini juga dimuat di Harian Suara Merdeka)

... selengkapnya
555 Penderita HIV dan AIDS di Jateng Meregang Nyawa
ditulis pada 31 2012
Semarang (beritadewata.com) – Penderita HIV/AIDS di Provinsi Jawa Tengah hingga akhir Desember 2011 diprediksi sudah mencapai 10 ribu penderita. Jika dibandingkan dengan data penderita yang tercatat pada tahun 2006 lalu, terjadi penmingkatan sangat fantastis. Betapa tidak, tahun 2006 penderita HIV/AIDS hanya tercatat 1000 penderita, diprediksikan angka ini akan terus bertambah jika berbagai pihak tidak berupaya menekan lajunya penularan penyakit mematikan tersebut.

Angka 10 ribu penderita HIV/AID itu diungkapkan salah seorang  anggota Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Tengah, Muh Zen Adv kepada beritadewata.com diruangan kerjanya, Rabu (1/02) seraya mengutarakan angka tersebut dikumpulkan berdasarkan penelitian para pakar dan LSM di Jateng.

Angka penderita HIV/AIDS tersebut sungguh sangat berbeda jauh dengan data yang dimiliki Dinas Kesehatan Provinsi Jateng yang menyebutkan hingga tahun 2011 penderita HIV/AIDS berjumlah  4.299  penderita, dan  2.400 diantaranya terserang HIV serta  1.899 terjangkit AIDS. Selain itu, sekitar 555 orang  telah meninggal dunia. Sedangkan faktor penularan HIV/AIDS karena heteroseksual 78 persen, homoseksual 4 persen, Injecting Drug User (IDU) atau melalui alat suntik 13 persen dan perinital 5 persen.

Dijelasakan Zen, jika dibandingkan berdasarkan data Dinkes Jateng berarti yang terdata baru sekitar  39,75 persen dari keseluruhan penderita yang ada. Dia mengakui ada sejumlah faktor yang membuat fenomena HIV/AIDS seperti gunung es. “Ada penderita yang malu jika diketahui mengidap penyakit tersebut, sehingga tidak melapor dan tidak terdata,” pungkasnya.

Bahkan, sebahagian penderita penyakit yang belum ada obatnya itu terang Zen  penderitanya sebahagian usia produktif. Artinya, penderita masih berusia muda.” Untuk menglarifikasi perbedaan data dan penanganan kasus HIV/AIDS di Jateng yang diperediksikan meningkat tajam, pihaknya akan melakukan dengar pendapat dengan pihak Dinkes.” Semua pihak yang terkait maupun peduli terhadap HIV/AIDS seperti para pakar, akademisi, LSM dan tokoh-tokoh masyarakat akan diundang untuk mencarikan solusi menantisipasi penularan HIV/AIDS di jateng,” ungkapnya.
 
... selengkapnya
Banyumas Peringkat Ketiga HIV dan AIDS di Jateng
ditulis pada 31 2012

PURWOKERTO, KOMPAS.com Kabupaten Banyumas menempati peringkat ketiga dengan angka HIV/AIDS tertinggi di Provinsi Jawa Tengah. Tingginya angka tersebut didominasi ibu rumah tangga.

Penanggung jawab Klinik VCT RS Margono Purwokerto, Dewi Nilamsari, Kamis (1/12/2011), mengatakan, angka penderita HIV di Banyumas tercatat 261 orang dan AIDS sebanyak 80 orang. Sementara Kota Semarang berada di peringkat pertama dengan jumlah penderita AIDS 195 orang, dan 769 terjangkit HIV. Kota Solo tercatat 110 jiwa penderita AIDS dan 320 orang terjangkit HIV.

Jateng berada di peringkat keenam penderita HIV/AIDS terbanyak. Adapun di Banyumas, penderita HIV/AIDS didominasi remaja dan orang muda usia 25-34 tahun.

Menurut Dewi, untuk di Banyumas, persentase penderita laki-laki dan perempuan seimbang. "Untuk latar belakang, yang harus diwaspadai adalah ibu rumah tangga karena setiap tahun terus meningkat. Penularan kepada pekerja seks komersial berada di peringkat keempat," tuturnya di sela-sela Seminar HIV/AIDS di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.

... selengkapnya
Calon TKI Diimbau Kampanye Anti HIV dan AIDS
ditulis pada 11 2011

Para TKI (tenaga kerja Indonesia) dan calon TKI diimbau mengkampanyekan komitmen penanggulangan dan pencegahan anti penularan HIV/Aids, khususnya pada kehidupan TKI.

Ajakan tersebut juga disampaikan Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Moh Jumhur Hidayat, kepada seluruh jajarannya di BNP2TKI baik dipusat maupun daerah saat memimpin apel “Pencanangan dan Penanggulangan Bahaya HIV/Aids pada TKI”, di Lapangan Pudak Payung, Semarang, Jawa Tengah, Jumat.

Dalam siaran persnya, Jumhur dihadapan sekitar 500 calon TKI yang akan bekerja di luar negeri, mengatakan keberadaan TKI yang ada di luar negeri dipandang rentan terhadap bahaya penularan HIV Aids,. Karena selain merupakan kelompok cukup besar yang tersebar di berbagai negara, TKI juga tergolong warga negara yang acap bepergian ke luar negeri.

“Fakta bahwa TKI sering ke luar negeri dan bergaul dengan macam-macam orang, maka TKI bisa rentan dengan adanya bahaya HIV Aids,” jelas Jumhur dalam acara yang dihadiri pejabat kantor BNP2TKI dan Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (BP3TKI) se-Indonesia.

Menurutnya, setiap calon TKI dan TKI harus peka oleh adanya bahaya penyakit Aids, yang ditularkan melalui hubungan intim antarjenis yang tidak bertanggungjawab.

Penularan juga bisa dilakukan lewat jarum suntik penderita Hiv/Aids pengguna narkoba yang digunakan bergantian.

Jumhur mengatakan, untuk menghindari bahaya penularan HIV/Aids di luar negeri, TKI tidak boleh bergaul sembarangan alias melakukan seks bebas dengan siapa saja yang diinginkan. “Semuanya bergantung kita, kalo ingin menghindari bahaya Hiv Aids maka TKI jangan meletakkan diri dalam lingkungan yang dapat menularkan penyakit tersebut,” ujarnya.

Bentuk pencegahan penularan Hiv Aids salah satunya telah dilakukan BNP2TKI bekerjasama dengan Sarana Kesehatan (Sarkes) adalah dengan memeriksa kesehatan calon TKI saat akan bekerja di luar negeri.

... selengkapnya
Pengidap HIV dan AIDS Diusulkan Terima Santunan Kematian
ditulis pada 11 2011

KUDUS--MICOM: Ketua Tim Penilai Kinerja Pelayanan Publik Nasional Noviana Andrina mengusulkan kepada Pemerintah Kabupaten Kudus untuk memberikan santunan kematian kepada pengidap HIV/AIDS yang meninggal dunia.

"Orang yang terserang HIV/AIDS bukan semata-mata karena disebabkan oleh satu hal. Akan tetapi banyak hal dan ada yang secara tidak sengaja terserang virus mematikan tersebut," ujarnya seusai penilaian kinerja penyelenggaraan pelayanan publik di Kudus, Jawa Tengah, Jumat (4/11).

Dia berharap, tidak ada diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS yang meninggal dunia dalam mendapatkan santunan kematian dari Pemkab Kudus. Selain mengkritisi soal santunan kematian, Noviana juga mengkritisi soal persyaratan yang harus dipenuhi ahli waris yang dianggap terlalu rumit karena harus memiliki kartu BLT/Jamkesmas/Jamkesda.

Pada kesempatan tersebut, Noviani mengemukakan, kualitas pelayanan publik masih tergantung kepada figur pemimpin sehingga ketika terjadi pergantian pemimpin, kualitas pelayanannya juga akan mengalami perubahan. Menurut dia, kualitas pelayanan publik belum memiliki sistem yang berkesinambungan sehingga kualitasnya tidak bisa dipertahankan.

Untuk memperkuat pelayanan publik sehingga terjadi hubungan kepastian hukum antara penyelenggara pelayanan publik dengan masyarakat, katanya, pemerintah membuat Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Standar Pelayanan Publik dan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Ganti Rugi Pelayanan Publik.     

Berdasarkan Peraturan Bupati (Perbup) Kudus Nomor 23 Tahun 2008 tentang Pemberian Bantuan Uang Duka Bagi Penduduk Kabupaten Kudus Yang Meninggal Dunia, proses pencairan santunan kematian tersebut maksimal selama sepekan setelah pengajuan.

Persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan santunan kematian yakni harus berdomisili tetap di wilayah Kabupaten Kudus dibuktikan dengan KTP dan memiliki kartu BLT/Jamkesmas/Jamkesda. Pengajuan santunan untuk warga yang meninggal tidak memiliki ahli waris dapat digantikan oleh orang yang mengurus pembiayaan untuk perawatan kematian dan penguburan.

Namun, harus dibuktikan dengan surat keterangan dari ketua RT, RW, kepala desa atau lurah setempat, serta KTP warga yang meninggal. Program santunan kematian tersebut tidak berlaku untuk warga yang meninggal karena bunuh diri, terinfeksi virus HIV/AIDS, dan terlibat dalam perbuatan melanggar hukum.

Besarnya santunan yang diberikan kepada masing-masing ahli waris yakni meninggal karena sakit atau kematian biasa sebesar satu juta rupiah dan meninggal karena kecelakaan Rp2,5 juta. (Ant/OL-2)

... selengkapnya
<< 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 >>