• Terdapat penambahan fitur baru pada www.aidsjateng.or.id yaitu 'TV Spot KPAP'
  • SK Pembentukan KPA Kab/Kota, bisa di download pada menu direktori
  • Data Kasus HIV dan AIDS sampai dengan 31 Desember 2014 adalah 10.804 kasus
  • Sudah Ada 35 KPA Kab/Kota di Jawa Tengah

Online News

700 PSK Beroperasi Di Kota Solo, Jawa Tengah
ditulis pada 20 2011

Praktek pekerja seks komersial (PSK) secara terbuka, terutama di jalanan dan lokalisasi atau tempat-tempat lain selalu menjadi ‘kambing hitam’ penyebaran HIV/AIDS. Yang lebih pas PSK berperan sebagai ’terminal’. Ada laki-laki dewasa lokal yang mengidap HIV menularkan HIV kepada PSK. Lalu ada pula laki-laki dewasa lokal yang tertular HIV dari PSK.

Fakta itulah yang sering luput dari perhatian sehingga PSK selalu menjadi ’kambing hitam’. Lihat saja di Kota Solo, Jawa Tengah ini. Dikabarkan ada 700-an PSK yang ’beroperasi’ di sana. Maka, setiap hari ada 1.400 laki-laki lokal yang berisiko tertular HIV dari PSK atau menularkan HIV kepada PSK (700-an PSK layani dua pelanggan/hari…, www.solopos.com, 7/6-2011).

Kondisi itu membuat penyebaran HIV di Kota Solo terus terjadi karena tidak ada intervensi pemerintah kota terkait dengan perilaku penduduk, khususnya laki-laki dewasa ’hidung belang’. Celakanya, berbagai kalangan selalu menafikan perilaku sebagian laki-laki. Yang terjadi justru mencaci-maki PSK sebagai penyebar HIV.

Dikabarkan penyebaran HIV/AIDS di Kota Bengawan kini sungguh mengkhawatirkan. Catatan di Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (Spek HAM) Solo dalam setahun terakhir jumlah korban infeksi HIV/AIDS naik 300%.

Pernyataan ini tidak pas karena yang bertambah adalah kasus yang terdeteksi. Sedangkan kasus berupa insiden infeksi HIV baru tidak bisa diketahui. ’Hitung-hitungannya’ dapat dilihat dari jumlah PSK langsung dan PSK tidak langsug yang ’beroperasi’ di Kota Solo.

Divisi Urban Spek HAM Solo, Rahayu Purwa, mengatakan: “Korban HIV/AIDS selalu meningkat, tak tak pernah turun. Ini persoalan serius!” Pernyataan ini menunjukkan pemahaman yang salah terhadap sistem pelaporan kasus HIV/AIDS di Indonesia. Pelaporan kasus HIV/AIDS di Indonesia dilakukan secara kumulatif. Artinya, kasus lama ditambah kasus baru. Begitu seterusnya. Biar pun ada yang meninggal jumlah kasus tidak akan pernah turun.

Dengan 700-an PSK yang beroperasi di Kota Solo berarti setiap hari sedikitnya 1.400 laki-laki dewasa penduduk Kota Solo berisiko tinggi terinfeksi HIV setiap hari karena PSK itu rata-rata meladeni dua laki-laki. Yang berisiko adalah laki-laki yang tidak memakai kondom ketika ngamar dengan PSK.

Dampak dari risiko laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan PSK tanpa kondom dapat dilihat dari kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada ibu-ibu rumah tangga. Sampai April 2011 jumlah jumlah kumulatif HIV/AIDS di kalangan ibu rumah tangga mencapai 141 orang (Lihat: http://regional.kompasiana.com/2011/06/07/di-solo-jawa-tengah-aids-%E2%80%98menyerang%E2%80%99-ibu-rumah-tangga/ dan http://regional.kompasiana.com/2011/03/24/aids-di-kota-solo-%E2%80%98menjalar%E2%80%99-ke-ibu-rumah-tangga-mahasiswa-dan-pelajar/).

Sedangkan kasus HIV/AIDS pada laki-laki dengan faktor risiko (mode of transmission) hubungan seksual mencapai 242. Kasus dengan faktor risiko narkoba suntik 78, PSK 58 dan waria 13.

Penutupan lokalisasi pelacuran Silir Semanggi yang semula dianggap sebagai upaya menghilangkan pelacuran di Kota Solo, ternyata yang terjadi sebaliknya. Praktek pelacuran menyebar di salon, rumah penginapan, panti pijat, dan hotel-hotel.

Melihat praktek PSK yang tersebar luas, Rahayu mengatakan:“Kami setuju Silir dibuka kembali, namun bukan berarti melegalkan seks bebas. Melainkan, untuk mempermudah penanggulangan HIV/ AIDS.”

Jika disimak dari aspek kesehatan masyarakat lokalisasi pelacuran merupakan tempat yang bisa menjalankan program ’wajib kondom 100 persen’ bagi laki-laki yang ngamar dengan PSK. Ini merupakan intervensi yang konkret (Lihat Gambar). Langkah intervensi adalah mewajibkan penduduk laki-laki memakai kondom jika melakukan hubungan seksual dengan PSK. Kalau ini tidak berhasil maka laki-laki yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual dengan PSK wajib memakai kondom jika sanggama dengan istri. Jika ini gagal juga maka langkah terakhir adalah menjalankan program pencegahan dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya.

13080241711390089816Kepala Bidang Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2L) Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo, Titiek Kadarsih, mengatakan: ’ …. salah satu upaya penanganan HIV/AIDS ialah melalui penyuluhan hingga ke masyarakat tentang pemahaman yang utuh ikhwal bahaya HIV/AIDS.’

Persoalan yang terjadi selama ini adalah materi penyuluhan HIV/AIDS selalu dibumbui dengan norma, moral dan agama sehingga masyarakat tidak menangkap cara-cara penularan dan pencegahan yang konkret. Akibatnya, banyak orang yang tidak menyadari perilakunya berisiko tertular HIV.

Untuk memutus mata rantai penyebaran HIV di Kota Solo hanya dapat dilakukan dengan cara-cara yang realistis. Soalnya, Peraturan Walikota Surakarta tentang pencegahan HIV/AIDS juga tidak bisa jalan karena tidak menyentuh akar persoalan (Lihat: http://edukasi.kompasiana.com/2011/05/28/menyibak-peraturan-walikota-surakarta-tentang-penanggulangan-hiv-dan-aids/).

Kalau Pemkot Solo tetap tidak menjalankan program penanggulangan yang realistis, maka penyebaran HIV akan terus terjadi. Jumlah kasus yang terdeteksi pun akan terus bertambah. ***

... selengkapnya
HIV/AIDS serang ratusan ibu rumah tangga di Solo
ditulis pada 06 2011

Solo (Solopos.com)--Sebanyak 144 ibu rumah tangga di Solo mulai terserang virus HIV/ AIDS. Serangan virus mematikan tersebut menjadi puncak dari merebaknya kasus HIV/ AIDS di Solo yang kini telah mencapai 565 orang.

“Dari jumlah tersebut, 179 penderita HIV/ AIDS dinyatakan telah meninggal dunia,” kata Programmer Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Solo, Tomy Prawoto dalam Sosialisasi dan Penyuluhan HIV/ AIDS di Masjid Agung Solo, Minggu (5/6/2011).

Menurut Tomy, serangan virus HIV/ AIDS yang mulai merambah kalangan ibu rumah tangga di Solo memang menjadi catatan kelam. Bahkan, di antara jumlah tersebut juga terdapat anak-anak yang positif terserang HIV/ AIDS. Padahal, terang Tomy, penanganan para korban selama ini tak dikenai biaya sama sekali lantaran semua sudah ditanggung pihak ketiga.

Atas kenyataan itulah, Tomy berharap bahwa penanggulangan virus HIV/ AIDS harus menjadi tanggungjawab bersama. Kota Solo sendiri, saat ini telah menduduki ranking kedua se-Jawa Tengah (Jateng) dalam merebaknya virus HIV/ AIDS. Atas dasar itu pula, Solo layak dicanangkan sebagai salah satu kota di antara  20 kabupaten/ kota di Nusantara yang wajib memiliki Komisi Penanggulangan AIDS (KPA).  Di sisi lain Kepala Bidang Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2L) Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo, Titiek Kadarsih menimpali data-data yang terpampang tersebut adalah bukti nyata bahwa HIV/ AIDS merupakan ancaman serius di Kota Solo.

(asa)

... selengkapnya
Perantau Magelang Dominasi Penderita HIV/AIDS
ditulis pada 06 2011

TEMPO Interaktif, Magelang - Penderita HIV/AIDS di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, selama ini tercatat masih didominasi warga yang bekerja merantau ke luar, khususnya di wilayah sekitar Jawa Tengah.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang, Budi Suprastoto, mencatat dari 21 penderita yang tercatat positif menderita HIV/AIDS sejak tahun 2007 hingga 2011 ini, hampir 75 persen merupakan warga yang bekerja di luar kabupaten Magelang.

"Terdeteksinya saat sudah pulang ke Magelang, lalu diperiksa dan diketahui mengidap HIV/AIDS," kata Budi kepada Tempo, Senin, 30 Mei 2011.

Hingga Mei 2011 ini ada dua penderita yang ditemukan positif. Angka tertinggi dalam catatan dinas masih pada tahun 2009 yang ditemukan enam penderita. Jumlah ini kemudian turun di 2010 menjadi tiga penderita.

Dinas mencatat, setidaknya warga yang terkena AIDS itu merantau bekerja ke sejumlah daerah, seperti Cilacap, Jakarta, Semarang, dan DI Yogyakarta. Para perantau yang terkena HIV/AIDS tersebut terdiri dari berbagai macam profesi, mulai pembantu rumah tangga, buruh bangunan, hingga staf perkantoran.

Dari segi usia, pengidap HIV/AIDS di Kabupaten Magelang masih didominasi usia produktif, yakni 30-35 tahun.

"Sampai saat ini asal pekerja dari lima kecamatan, seperti Ngluwar, Mertoyudan, Ngablak, Secang, dan Borobudur," kata dia. Adapun di 16 kecamatan lain di Kabupaten Magelang belum pernah ada penemuan penderita HIV/AIDS.

Budi mengatakan penyebab dominan dari penularan HIV/AIDS para perantau ini adalah perilaku heteroseksual dengan kecenderungan berganti-ganti pasangan. "Mungkin karena tidak berada di kampung halamannya sendiri, jadi pergaulannya lebih bebas dan tidak hati-hati," kata dia.

Sementara itu, angka penderita HIV/AIDS di wilayah Kota Magelang sendiri dari tahun 2004 hingga 2011 ini hampir mencapai 70 penderita. Enam di antara penderita telah meninggal dunia.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Magelang, Pantja Kuntjara, sebelumnya menyatakan KPAD Kota Magelang berjanji akan meningkatkan sosialisasi bahaya penyakit HIV-AIDS ke masyarakat serta Unit Pelayanan Kesehatan (puskesmas, rumah sakit) dengan merancang program dan langkah-langkah untuk menanggulangi penyakit HIV/AIDS.

Sosialisasi itu di antaranya dengan pemberian materi 'screening' donor darah, sosialisasi ke sekolah-sekolah, rujukan kasus, penyebaran leaflet serta pembentukan tim teknis HIV/AIDS.

PRIBADI WICAKSONO

... selengkapnya
ASEAN Kembangkan Pelayanan Terpadu untuk HIV dan AIDS
ditulis pada 20 2011

Jakarta (ANTARA News) - Asosiasi negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) sepakat untuk mengembangkan pencegahan dan pengobatan penderita HIV/AIDS secara terpadu di kawasan ASEAN.

"Terkait ancaman kenaikan kasus HIV/AIDS di wilayah kita, kita menggarisbawahi perlunya untuk menyediakan akses universal terhadap pencegahan, perawatan, dan pelayanan kasus HIV/AIDS," demikian pernyataan Ketua ASEAN 2011, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada akhir KTT ke-18 ASEAN di Balai Sidang Jakarta, Minggu.

Oleh karena itu, para pemimpin negara ASEAN menyambut baik usaha Satgas ASEAN tentang AIDS untuk meluncurkan Laporan Regional ASEAN tentang HIV/AIDS yang mencakup program kerja IV untuk menangani kasus HIV/AIDS selama 2011-2015.

Selain itu, para petinggi ASEAN juga menyambut baik pembaruan "Deklarasi ASEAN tentang HIV dan AIDS" menjadi "Deklarasi HIV/AIDS 2011".

Selain itu, ASEAN juga sepakat untuk melibatkan semua mitra kerja, terutama untuk memerhatikan nasib mereka yang telah terinfeksi HIV/AIDS dan penyakit lainnya.

"Kami menggarisbawahi bahwa kelompok ini tidak boleh terpinggirkan," kata Yudhoyono.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menutup KTT ke-18 ASEAN pada Minggu sore.

Para pimpinan ASEAN sepakat untuk mengadopsi tiga pernyatan bersama, yaitu pertama pernyataan tentang "ASEAN Community in a Global Community of Nations" (Komunitas ASEAN dalam Komunitas Global Negara-negara).

Kedua, "Joint Statement on Establishment of an ASEAN Institute for Peace and Reconciliation" (Pernyataan Bersama mengenai Pembentukan Institut Perdamaian dan Rekonsiliasi ASEAN) dan ketiga adalah "Joint Statement in Enhancing Cooperation Against Trafficking in Persons in South East Asia" (Pernyataan Bersama mengenai Peningkatan Kerjasama Melawan Penyelundupan Manusia di Asia Tenggara).

... selengkapnya
AIDS di Kab Rembang, Jawa Tengah: Terdeteksi pada Ibu Rumah Tangga
ditulis pada 20 2011

Angka kematian terkait AIDS sering tidak bermakna dalam berita karena wartawan tidak membawa data itu ke realitas sosial. Jika seorang Odha (Orang dengan HIV/AIDS) meninggal maka itu terjadi setelah Odha tsb. mencapai masa AIDS (setelah tertular antara 5 – 15 tahun).

Nah, pada rentang waktu 5 – 15 tahun seorang Odha sering tidak menyadari dirinya sudah mengidap HIV karena tidak ada tanda-tanda yang khas AIDS pada fisiknya. Celakanya, biar pun tidak ada tanda-tanda tapi ybs. sudah bisa menularkan HIV kepada orang lain, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Di Kab Rembang, Jawa Tengah, disebutkan 34 penderita HIV/AIDS sudah meninggal dunia (34 Penderita HIV/AIDS Di Rembang Meninggal, www.wartamerdeka.com, 10/4-2011). Jika dikaitkan dengan rentang waktu mencapai masa AIDS, maka 34 Odha yang meninggal itu sudah menularkan HIV kepada orang lain para rentang waktu 5 dan 15 tahun sebelum meninggal (Lihat Gambar 1).

 

13026111021837676881

Perkiraan Penularan HIV di Kab Rembang

Kalau satu Odha mempunyai satu pasangan, suami atau istri, maka sudah ada 68 penduduk Kab Rembang yang tertular HIV. Kalau ada di antara yang 34 itu laki-laki ‘hidung belang’ maka jumlah penduduk Rembang yang berisiko tertular HIV akan tambah banyak.

Data di Dinas Kesehatan Kab Rembang menunjukkan sudah terdeteksi 61 HIV/AIDS, terdiri atas 15 HIV dan 46 AIDS. Faktor risiko (mode of transmission) tercatat 80 persen melalui heteroseksual (laki-laki dengan perempuan atau sebaliknya).

Perlu diingat angka ini tidak menggambarkan kondisi riil di masyarakat karena epidemi HIV erat kaitannya dengan fenomena gunung es. Kasus yang terdeteksi hanya sebagian kecil (puncak gunung es yang muncul di atas permukaan air laut) dari kasus yang tidak terdeteksi di masyarakat (bongkahan gunung es di bawah permukaan air laut). (Lihat Gambar 2).

 

13026112711834289754

Fenomena Gunung Es pada Epidemi HIV

Kepala Dinas Kesehatan Rembang, Sutejo, prihatin melihat kasus HIV/AIDS pada ibu rumah tangga dan anak-anak. Kasus HIV/AIDS pada ibu rumah tangga membuktikan suami mereka tidak memakai kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan perempuan lain. Fakta ini juga sekaligus memupus anggapan bahwa sosialisasi kondom mendorong laki-laki berzina. Buktinya, banyak ibu rumah tangga (istri) yang tertular HIV dari suaminya.

Karena laki-laki dewasa, terutama suami, di Kab Rembang tidak mau memakai kondom pada hubungan seksual berisiko dengan perempuan lain, maka Pemkab bisa melakukan intervensi untuk memutus mata rantai penyebaran HIV, yaitu: (a) mewajibkan suami memakai kondom jika sanggama dengan istrinya, atau (b) melakukan pencegahan dari-ibu-ke-bayi yang dikandungnya, dikenal sebagai program PMTCT (prevention-mother-to-child-transmission). Dalam gambar ditunjukkan dengan garis panah putus-putus (Lihat Gambar 3).

 

1302611653456846256

Intervensi Pencegahan HIV di Kab Rembang

Dikabarkan, perlu dukungan semua pihak untuk membantu menyebarluaskan informasi HIV/AIDS. Persoalannya adalah informasi HIV/AIDS yang disampaikan ke masyarakat sering tidak akurat karena dibumbui dengan moral. Akibatnya, masyarakat tidak menangkap cara-cara pencegahan yang konkret.

Ketua Komisi penanggulangan AIDS KPAD Rembang, Hamzah Fatoni, mengatakan masyarakat diimbau menerapkan pola hidup sehat dengan tidak berganti-ganti pasangan dalam berhubungan intim. Lagi-lagi informasi ini tidak akurat.

Apa yang dimaksud Hamzah dengan ‘pola hidup sehat’ terkait dengan penularan HIV? Ini yang disebut mitos (anggapan yang salah). Bahkan, pernyataan tsb. bisa memicu masyarakat memberikan stigma (cap negatif) dan diskriminasi (pembedaan perlakuan) tehadap Odha karena ada kesan mereka tertular karena pola hidupnya tidak sehat.

Risiko penularan HIV melalui hubungan seksual bisa terjadi bukan karena sifat hubungan seksual (di luar nikah, zina, melacur, ‘jajan’, selingkuh, ‘pola hidup tidak sehat’, dll.), tapi karena kondisi hubungan seksual (salah satu mengidap HIV dan laki-laki tidak memakai kondom setiap kali sanggama).

Persoalan besar di Kab Rembang adalah: Apakah Pemkab Rembang bisa menjamin tidak ada laki-laki dewasa penduduk Rembang, asli atau pendatang, yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, di wilayah Kab Rembang atau di luar wilaya Kab Rembang dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK)?

Kalau jawabannya YA, maka tidak ada masalah penyebaran HIV dengan faktor risiko hubungan seksual di Kab Rembang. Tapi, kalau jawabannya TIDAK, maka ada masalah besar terkait penyebaran HIV melalui hubungan seksual. Kasus-kasus HIV/AIDS yang tidak terdeteksi akan menjadi ‘bom waktu’ ledakan AIDS di masa yang akan datang.

Pilihan ada di tangan Pemkab Rembang: (a) meningkatkan penanggulangan dengan cara-cara yang konkret agar insiden penularan HIV baru menurun, atau (b) menyebarluaskan informasi HIV/AIDS dengan balutan moral tapi tidak bisa menurunkan insiden infeksi HIV baru.

... selengkapnya
Kasus HIV dan AIDS Meningkat
ditulis pada 13 2011

ANTARA - Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, selama tiga tahun terakhir menunjukkan peningkatan sehingga pemerintah daerah setempat lebih serius melakukan penanggulangan melalui sejumlah program.
Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Sekretaris Daerah Kabupaten Kebumen, Siti Nuriyatul Fauziayah, di Kebumen, Kamis, mengatakan upaya pemutusan rantai penularan penyakit itu dan optimalisasi kerja sama lintas sektoral terus dilakukan.

Penanggulangan penularan penyakit itu, katanya, tidak bisa hanya dilakukan sebagian pihak tetapi butuh keterlibatan secara sinergi berbagai pihak terkait.

Ia mengatakan, rantai penularan penyakit itu antara lain melalui hubungan seksual secara tidak aman dan transfusi darah.

Komisi Penanggulangan AIDS Daerah Kabupaten Kebumen mencatat, pada 2008 sebanyak sembilan kasus HIV/AIDS, pada 2009 sebanyak 22 kasus, dan pada 2010 sebanyak 26 kasus.

Ia menyatakan pentingnya upaya meningkatkan gaya hidup sehat masyarakat dan promosi perilaku seks secara aman.

Selain itu, katanya, upaya pencegahan dan pengobatan infeksi menular seksual juga terus ditingkatkan.

"Kami juga harus mengatasi kendala dana untuk pencegahan penyakit itu dan menggencarkan sosialisasi terutama untuk kalangan masyarakat yang memiliki risiko tinggi tertular," katanya

... selengkapnya
HIV dan AIDS Tiap Tahun Terus Meningkat
ditulis pada 13 2011

Jumlah penderita HIV-AIDS di Jawa Tengah dari tahun ketahun mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Dari data tahun 1993-2010, jumlah yang tercatat dan dilaporkan mencapai 3.362 orang, dengan rincian HIV 1.891 orang dan AIDS 1.471 orang. Dari jumlah itu, penderita yang meninggal dunia mencapai 479 orang.

 

Kondisi tersebut disampaikan Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, dr Puji Lestari pada Simposium dan Workshop Penatalaksanaan Pasien dengan Penyakit HIV-AIDS di auditorium RSUD Saras Husada Purworejo, beberapa waktu lalu.

Simposium dan workshop dibuka oleh Wakil Bupati Purworejo, Suhar, sekaligus sebagai Ketua KPAD Kabupaten Purworejo. Acara tersebut diikuti oleh para dokter dan perawat di Kabupaten Purworejo.


Dalam paparan dengan judul Situasi Epidemi dan Kebijakan Penatalaksanaan Pasien HIV-AIDS di Jawa Tengah, dr Puji Lestari menyampaikan,dari jumlah tersebut penderita HIV-AIDS juga ditemukan di Lapas, dan penularannya juga ditemukan di kantong-kantong darah.


”Untuk kasus di Jateng penularan HIV-AIDS di lokalisasi, dimana penularannya paling banyak dari laki-laki. Untuk itu yang kita kendalikan yaitu laki-laki atau pelanggannya, kalau penyaji cuma menjalankan saja, tapi yang beli laki-laki,”jelasnya.


Dia juga memaparkan, adanya trend HIV-AIDS per tahun 1993-2010 yang terus meningkat disebabkan adanya keterlambatan dalam penangananan kasus HIV-AID. Kenaikan ini bisa dilihat dari jumlah prosentasenya yaitu untuk penderita perempuan 38,51 % dan laki-laki 61,49%. Dari jumlah itu rata-rata penderita HIV-AID menjangkiti usia produkstif, dimana kalangan wiraswasta menduduki rangking paling banyak yaitu mencapai 21,52 %.


Diungkapkan pula kabupaten/kota yang paling banyak dan menduduki rangking tinggi dalam penyakit HIV-AIDS yaitu Semarang, Surakarta, Cilacap, Banyumas dan Jepara. Untuk itu, pihaknya telah melakukan berbagai langkah antisipasi yaitu melalui pencegahan, penanganan dan rehabilitasi, serta melakukan tindakan primer melalui pelayanan dan sosial ekonomi.


Sementara itu, Wakil Bupati Purworejo Suhar mengatakan, di Kabupaten Purworejo jumlah penderita AIDS pada tahun 2010 ada 15 pasien. Hal ini menunjukkan adanya kenaikan dua kali lipat selama kurun waktu tiga tahun terakhir. Sedangkan hingga bulan Pebruari 2011, jumlah pasien HIV-AIDS tedapat 3 orang.


Diakuinya, KPAD kabupaten Purworejo dalam pelaksanaannya telah melibatkan berbagai institusi dan LSM namun belum bisa berjalan optimal. Namun demikian untuk menangani penderita HIV-AIDS di kabupaten Purworejo khususnya RSUD Saras Husada telah memiliki Klinik VTC (Voluntari Consuling and Testing) atau Konseling dan Testing HIV/AIDS secara sukarela untuk penderita HIV-AIDS. Sehingga  masyarakat Purworejo dan sekitarnya dapat melakukan konseling maupun tes HIV-AIDS.


Wabup berharap, simposium dan workshop penatalaksanaan pasien dengan penyakit HIV-AIDS akan membuat penanganan HIV-AIDS di Purworejo semakin baik, penuh kordinasi, sehingga bisa menekan angka penularan maupun angka kematian akibat keterlambatan pelaporan dan penanganannya.

... selengkapnya
93 Persen Penderita HIV/AIDS Lelaki Hidung Belang
ditulis pada 13 2011

Purworejo – Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah mencatat, penderita HIV-AIDS se Provinsi Jateng hingga akhir 2010 mencapai 3.362 orang. Dari jumlah ini terinci penderita HIV sebanyak 1.891 dan penderita AIDS 1.471.

”Dari jumlah penderita HIV/AIDS, sebanyak  93 persen mayoritas merupakan lelaki hidung belang yang sering melakukan aktivitas seks tidak sehat dengan PSK,” kata Kasi Pengendalian Penyakit Dinkes Provinsi Jawa Tengah, dr Puji Lestari, disela-sela sosialisasi HIV/AIDS di RSUD Saras Husada Purworejo, selasa (8/3).

Disebutkan Puji, dari total keseluruhan penderita HIV/AIDS, sekitar 32,56 % merupakan usia produktif, usia antara 29 hingga 35 tahun. Penyebab tertular penyakit ini, 74,98 % karena heterosex atau aktifitas seks yang tidak sehat.  ”Jika dilihat dari profesi pekerjaan, penderita HIV-AIDS di Provinsi Jawa Tengah mayoritas wiraswasta,” kata Puji sembari menambahkan pola penanganan HIV/AIDS telah diatur dalam Perda Nomor 5 tahun 2009 tentang Penanganan dan Rehabilitasi HIV/AIDS.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Bupati Purworejo, Suhar mengungkapkan, penderita HIV- AIDS di Purworejo mengalami peningkatan dua kali lipat dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Hingga bulan Februari 2011 jumlah pasien HIV-AIDS sudah ada tiga orang. “Pada 2010 penderita HIV-AIDS di Purworejo ada 15 orang,” kata Suhar yang juga Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Purworejo. (BNC/tgr)

... selengkapnya
<< 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 >>