• Terdapat penambahan fitur baru pada www.aidsjateng.or.id yaitu 'TV Spot KPAP'
  • SK Pembentukan KPA Kab/Kota, bisa di download pada menu direktori
  • Data Kasus HIV dan AIDS sampai dengan 31 Desember 2014 adalah 10.804 kasus
  • Sudah Ada 35 KPA Kab/Kota di Jawa Tengah

Online News

Penderita HIV dan AIDS Tembus 70 Orang, SKPD Magelang Diminta Waspada
ditulis pada 13 2011

Magelang- Penderita HIV/AIDS di Kota Magelang, Jawa Tengah sampai tahun 2011 ini hampir mencapai 70 penderita. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kota Magelang diminta untuk bekerja keras mensosialisasikan bahaya penyakit ini.

“Tercatat dari data pemerintah Kota Magelang dari tahun 2004 hingga 2010 ada 64 penderita HIV/AIDS yang sampai tahun ini mencapai 70 penderita. 52 penderita HIV dan 12 terkena AIDS. Enam diantara penderita meninggal dunia.

Pernyataan itu disampaikan oleh Ketua Komisi Penanganan Aids Daerah (KPAD) Propinsi Jateng Listiono usai menggelar rapat koordinasi KPAD di Ruang Sidah Lantai 1 Gedung Sekda Pemerintah Kota (Pemkot) Magelang Rabu (16/3/2011).

Listiono berharap setiap elemen masyarakat seperti pemerintah melalui satuan kerja perangkat daerah (SKPD), tokoh masyarakat, tokoh agama dan elemen lainnya bahu-membahu untuk membantu mensosialisasikan bahaya penyakit ini.

Selain itu, juga menghargai hak dengan tetap menganggap penderita HIV/AIDS adalah salah satu bagian dari masyarakat. Sebab hal itu merupakan faktor yang tak kalah penting dalam upaya penyebaran penyakit ini.

“Semua elemen masyarakat bisa memberdayakan penderita HIV/AIDS. Pengidap AIDS merupakan bagian masyarakat yang tidak boleh dikucilkan,” tegas Listiono.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Magelang Pantja Kuntjara menyatakan KPAD Kota Magelang berjanji akan meningkatkan sosialisasi bahaya penyakit HIV-AIDS ke masyarakat serta Unit Pelayanan Kesehatan (Puskesmas, Rumah sakit).  Hal tersebut dilakukan untuk mencegah penyebaran virus mematikan ini.

Untuk itu, rapat ini dilakukan dengan merancang program dan langkah-langkah menanggulangi penyakit HIV/AIDS berupa pemberian materi ‘screening’ donor darah, sosialisasi ke sekolah-sekolah, rujukan kasus, penyebaran leaflet serta pembentukan tim teknis HIV/AIDS.

“Kegiatan ini diharapkan bisa mengurangi penyebaran infeksi baru HIV maupun AIDS serta bisa meningkatkan kualitas hidup orang yang sudah terinfeksi HIV,”tegas Pantja.

Hasil dari rapat koordinasi ini, lanjut Pantja nantinya bias digunakan dalam program dan aksi daerah dalam penanggulangan AIDS. Nantinya program tersebut akan dibagi melalui berbagai tahap, yaitu  pencegahan, pelayanan, pemantauan, pengendalian, serta komunikasi informasi dan edukasi.

“Ini acuan yang bisa digunakan oleh KPAD dalam melakukan perang terhadap penyakit mematikan ini,” ucap Pantja.(parwito-magelang)

... selengkapnya
Pengidap HIV/ AIDS di Jawa Tengah di Dominasi Usia Produktif 25- 29 tahun
ditulis pada 15 2011

Sekitar 25,4% atau 102 orang pengidap HIV/AIDS di Jawa Tengah pada Januari – September 2010 berada ada usia 25 tahun – 29 tahun.

Dalam lima tahun terakhir, jumlah pengidap penyakit HIV/AIDS di Jawa Tengah didominasi pemuda/pemudi usia 25 tahun – 29 tahun. Pengidap HIV/AIDS pada kategori usia tersebut selalu lebih jika dibanding kategori usia lainnya, yaitu 102 orang (2010), 131 orang (2009), 59 orang (2008), 43 orang (2007), dan 51 orang (2006).

“Dari 401 pengidap HIV/AIDS di Jawa Tengah, yang paling banyak atau 102orang berada di usia 25-29 tahun. Setelah itu baru usia 30-34 tahun yaitu 87 orang dan usia 35-39 tahun terdapat 73 pengidap HIV/AIDS,” uangkap dr. Nasiruddin.M Kes dari Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo yang menjadi salah satu pembicara Rapat Koordinasi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sukoharjo di Gedung KPP Sukoharjo, Sabtu (18/12).

Sementara jika dilihat dari jenis kelaminnya, penderita penyakit ini dari laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan. Dari 401 penderita HIV/AIDS di Jawa Tengah, 252 penderita berjenis kelamin laki-laki sedangkan sisanya perempuan. Sedangkan khusus di Kabupaten Sukoharjo, saat ini terdapat empat penderita HIV dan delapan penderita ADIS.

Dia menambahkan cara penularan penyakit ini antara lain dengan tiga cara yaitu kontak seksual, kontak darah seperti transfusi, pengguna jarum suntik berulang, akupuntur serta kontak keturunan dari ibu ke anak. “Perilaku Risti (risiko tinggi) untuk penularan virus HIV antara lain dengan perilaku seksual Risti, misal pasangan seks berganti-ganti dan tidak pakai pelindung atau kondom saat berhubungan. Bisa juga pemakaia jarum suntik tidak steril dan bersama-sama,” uari Nasiruddin .

Wakil Bupati Sukoharjo, Haryanto yang membuka Rapat Koordinasi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sukoharjo menambahkan berdasarkan proporsi kumulatif kasus HIV/AIDS tertinggi se-Indonesia tertinggi pada usia 20-29 tahun yaitu sebanyak 48,7% dari 20.564 kasus sampai 31 Maret 2010. Data tersebut, menurut Haryanto didasarkan pada laporan dari Kementerian Kesehatan.

“Sedangkan menurut perkiraan USAIDS, di dunia ini setiap hari terdapat 5.000 orang pengidap baru HIV dan AIDS yang berusia antara 15-24 tahun, hampir 1.800 orang yang hidup dengan HIV positif di bawah usia 15 tahun tertular dari ibunya, serta sekitar 1.400 anak di bawah usia 15 tahun meninggal akibat mengalami fase AIDS,” tandas Haryanto.

... selengkapnya
19 Penderita HIV dan AIDS Meninggal Dunia
ditulis pada 10 2011

Sutini - Kudus, Sebanyak 19 penderita HIV /AIDS di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah meninggal dunia dalam setahun terakhir. 

Hal itu dikatakan aktivis HIV/AIDS dan Buruh, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Eny Mardiyanti.

Menurut Eny, dari tahun 2010 hingga awal 2011 tercatat sebanyak 61 penderita HIV/AIDS di mana 19 di antaranya meninggal dunia. Korban meninggal dunia didominasi oleh ibu rumah tangga dan anak akibat tertular suami yang melakukan seks beresiko tinggi di luaran.

Sementara, lanjut Eny untuk penderita HIV/AIDS karena narkoba hanya ditemukan 2 penderita.

Tingginya penderita HIV/AIDS ini, kata Eny 0menjadi keprihatinan tersendiri, terlebih di Kabupaten Kudus belum memiliki KPAD karena tahun sebelumnya di Kudus tidak ditemukan kasus HIV/AIDS.

Upaya penyadaran di masyarakat, saat ini terus dilakukan di mana Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus dan aktivis terjun ke lapangan dan membagi-bagikan kondom kepada supir truk di kawasan Pantura. (sik)

... selengkapnya
15 Warga Purbalingga Tertular HIV/AIDS
ditulis pada 10 2011

PURBALINGGA - Diam-diam ada sebanyak 15 warga Purbalingga dilaporkan tertular HIV/AIDS. Data hasil evaluasi Tim Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) Propinsi Jawa Tengah menyebutkan pada tahun 2010 di Jawa Tengah telah ada lebih dari 3000 kasus HIV/AIDS. Jumlah pengidap HIV/AIDS paling banyak di Semarang sejumlah lebih dari 600  penderita. Disusul Surakarta lebih dari 500 penderita. Data tersebut bersifat prediksi dimana yang muncul atau terdeteksi hanya 10 persen dari kenyataan yang ada di lapangan.

"Kabupaten tetangga kita yakni kabupaten Banyumas terdapat lebih dari 400 penderita dan kabupaten Cilacap lebih dari 300 penderita. Sedangkan di kabupaten Purbalingga telah ada 15 penderita HIV/AIDS," ungkap Assisten Sekda bidang Pembangunan  Kodadiyanto saat mewakili Bupati Purbalingga membuka Seminar Membentuk Karakter dan Watak Kepribadian di Aula Uswatun Hasanah kantor Kementerian Agama kabupaten Purbalingga, Rabu (16/2).

Kodadiyanto yang juga ketua KPAD kabupaten Purbalingga berharap kasus HIV/AID di Purbalingga tidak bertambah. Untuk mencegah berkembangnya penyakit yang belum ada obatnya ini, KPAD telah melakukan beberapa upaya. Antara lain menyebarkan brosur, memasang baliho di tempat-tempat strategis, sosialisasi di berbagai pertemuan. Dia minta para tokoh agama menyisipkan bahaya HIV/AIDS dalam ceramahnya.

"Perlu kami ingatkan, bukan tidak mungkin banyaknya penderita di dua kabupaten tetangga ini bisa berimbas ke Purbalingga melalui penularan. Ini berkaitan dengan moral. Karena ini kami harapkan semua pihak melakukan penyuluhan agar jumlah penderita HIV/AIDS di Purbalingga tidak bertambah,'' katanya.

Ketua DPK Keluarga Besar Marhaenis kabupaten Purbalingga Trisnanto Srihutomo mengatakan, berbagai peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini seperti banyaknya kasus suap, perilaku tidak senonoh dan peniongkatan kasus AIV/AIDS harus distop. Persoalan yang menyangkut karakter dan moral harus diselesaikan bersama.

Trisnanto mengusulkan tiga langkah untuk mengatasi problema pembentukn karakter dan kepribadian yakni selalu memperbaiki diri menjadi pribadi panutan, memberikan bekal kepada anak kecakapan hidup (live skill) dan melaksanakan Nation and Caracter Building sebagai mana diwariskan pendiri bangsa.

Sementara itu pembicara lainnya yakni anggota DPRD Purbalingga dokter Mulyadi mengajak para peserta mampu memperbaiki karakter dan ahlak dari dirinya sendiri.

"Mesti bertahap. Namun tahapan pertama justru dari memperbaiki diri sendiri dulu. Kemudian keluarga dan lingkungan. Meski sedikit-sedikit harus diawali dari diri sendiri dulu," katanya.

Mulyadi yang juga ketua Forum Persaudaraan Bangsa Indonesia (FPBI) mengkritik Kementerian Agama dalam upayanya membentuk karakter dan watak bangsa. Menurut Mulyadi juru dakwah semestinya tidak hanya menyampaikan surga dan neraka saja. Tapi bagaimana ahlak/moral umat dapat dibina melalui hubungan horizontal antar manusia, juga harus terus digaungkan.

Seminar Membentuk Karakter dan Watak Kepribadian dilaksanakan kantor Kementerian Agama Purbalingga selama sehari, diikuti 80 peserta. Mereka terdiri dari dinas/instansi, ormas islam, kepala KUA, penyuluh agama dan petugas pembantu pencatat nikah.(RSP/hr)

... selengkapnya
Geyer, satu-satunya kecamatan di Grobogan bebas HIV dan AIDS
ditulis pada 10 2011

Grobogan (Espos) – Human Immuno Deficiency Virus (HIV)/Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) ternyata telah menyebar di 18 kecamatan dari 19 kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Grobogan.

Data yang dihimpun Espos, Sabtu (29/1) dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Grobogan, menyebutkan hanya satu kecamatan di Kabupaten Grobogan yang belum ditemukan kasus HIV/AIDS.

“Kecamatan Geyer menjadi satu satunya kecamatan yang belum ditemukan adannya penyebaran penyakit yang diakibatkan virus HIV/AIDS,” jelas Sekretaris Dinkes Kabupaten Grobogan, dr Johari Angkasa, Sabtu.

Karena dari data yang ada di mana jumlah penderita HIV/AIDS dari pertama kasus ditemukan tahun 2002 hingga awal 2011, penyebaran virus HIV/AIDS sudah merata di 18 kecamatan.

Sebagaimana diketahui jumlah penderita HIV/AIDS hingga awal 2011 mencapai 132 penderita di mana dari jumlah tersebut, 41 penderita telah meninggal dunia.

“Meningkatnya kasus HIV/AIDS karena pemahaman masyarakat tentang HIV/AIDS masih rendah, kemudian tingginya angka urbanisasi yang merupakan faktor risiko tinggi tertular virus atau penyakit tersebut,” papar Johari Angkasa.

Penyebab lainnya, adalah rendahnya kesadaran penggunaan kondom di lokasi rawan penularan HIV/AIDS seperti di lokalisasi. Dari data di Komisi Pemberantasan AIDS Daerah (KPAD) Grobogan, ada enam pekerja seks komersial yang di dua lokalisasi yang terindentifikasi positif HIV.

Empat orang ditemukan di Lokalisasi Tengah Kota Purwodadi, Koplak Dokar, dan dua orang lainnya berada di Lokalisasi Gunung Rejo, Kecamatan Toroh.

Untuk upaya pencegahan,  KPAD Grobogan pada 2011 akan melaksanakan beberapa kegiatan. Diantaranya, sosialisasi HIV/AIDS pada organisasi wanita, pemuda, siswa, dan LSM. “Selain itu juga membentuk jejaring internal dan eksternal, memberikan bantuan stimulan kepada kelompok ODHA,” tandasnya. rif

... selengkapnya
Sudah 479 Orang Meninggal akibat HIV/AIDS
ditulis pada 07 2011

Semarang, Kompas - Dalam kurun 1993-2010, pengidap HIV/AIDS di Jawa Tengah berjumlah 3.362 orang. Dalam kurun waktu 17 tahun itu, sebanyak 479 orang di antaranya meninggal dunia.

”Sebagian besar pengidap adalah generasi muda produktif,” kata aktivis lembaga Yayasan Harapan Permata Hati Kita (Yakita) Semarang, Agus Wirawan, Sabtu (5/2), pada forum kepedulian pengidap HIV/AIDS yang diselenggarakan AIESEC komite lokal Universitas Diponegoro.

”Faktor bertambahnya pengidap HIV/AIDS tersebut di antaranya meningkatnya jumlah pekerja seksual serta makin banyaknya penggunaan narkoba di kalangan remaja dan kelompok dewasa muda,” kata Agus Wirawan.

Psikolog dari Semarang, Dwi Yanni L, mengatakan, banyaknya kaum muda yang terjangkit HIV/AIDS menunjukkan upaya edukasi dan pemahaman harus terus dilakukan dari generasi ke generasi.

Agus Wirawan mengatakan, faktor risiko penularan sekitar 74 persen menjalar dari heteroseksual, 16 persen karena penggunaan jarum suntik (IDU), 4 persen homoseksual, 1 persen dari transfusi, dan 5 persen proses kehamilan.

Pengidap HIV/AIDS di Jawa Tengah, kata Agus, sekitar 21,41 persen berasal dari kelompok wiraswasta, sekitar 17,06 persen ibu rumah tangga, dan 10,13 persen pekerja seksual. Berikutnya 7,89 persen kaum buruh dan 7,82 persen adalah karyawan.(WHO)

... selengkapnya
10 PROVINSI DAPAT PENGHARGAAN PENANGGULANGAN HIV/AIDS
ditulis pada 07 2011

Jakarta, 31/1/2011 (Kominfo-Newsroom) Kementerian KoordinatorBidang Kesejahteraan Rakyat memberikan penghargaan penanggulanganHIV/AIDS kepada 10 provinsi atas prestasinya dalam menurunkanjumlah kasus dan pencegahan kasus baru HIV/AIDS di daerahnyamasing-masing.

Penghargaan tersebut, diberikan dalam acara MillenniumDevelopment Goals (MDGs) di Museum Nasional, Jakarta, Senin(31/1).

Menko Kesra Agung Laksono menyatakan, secara pribadi memberikanapresiasi tinggi kepada para gubernur yang telah menunjukkankomitmennya menanggulangi HIV/AIDS serta mencegah meluasnyaHIV/AIDS di provinsinya masing-masing.

Pemerintah pusat pun memberikan penghargaan kepada 10 gubernuryang dinilai berhasil menjalankan satu dari delapan tujuanMDGs.

Ke-10 provinsi yang ditetapkan sebagai penerima penghargaanserta dinilai berhasil menunjukkan kinerja tinggi dalampenanggulangan HIV/AIDS, yakni Provinsi Kepulauan Riau, BangkaBelitung, Riau, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, KalimantanSelatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Nusa TenggaraTimur.

Tahun ini ada 10 provinsi yang mendapatkan penghargaan. Sayamenyampaikan apresiasi kepada para gubernur yang telah menunjukkankomitmennya dalam menanggulangi dan mencegah HIV/AIDS di daerahnya.Penghargaan ini diharapkan dapat memicu para gubernur lain diIndonesia, ujar Agung Laksono, Senin (31/1).

Para gubernur yang mendapatkan penghargaan telah lolos seleksidengan tiga kriteria yakni, memiliki kepemimpinan tinggi,keberpihakan pada populasi HIV/AIDS dan dukungan kepada KomisiPenanggulangan AIDS Daerah (KPAD).

Pada kesempatan itu, dirinya juga meminta kepada para gubernurdan jajarannya agar berupaya lebih keras menanggulangi penyebaranvirus HIV dan menolong para penderita AIDS untuk hidup lebihlayak.
Ia juga meminta agar KPAD dijadikan sebuah lembaga yang berdayaguna sebagai patner untuk membantu gubernur dalam mengendalikanseluruh upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di daerahnyamasing-masing.

Paling tidak dua kali dalam setahun, gubernur wajib memimpinrapat pleno KPAD. Lalu, bersama-sama memonitor bantuan dari luarnegeri dan dana APBD yang dialokasikan untuk menanggulangi HIV/AIDSagar tepat sasaran, sehingga dapat mengendalikan serta menekanjumlah kasus AIDS, katanya.

Sementara itu, masih ada tiga indikator yang masih dinilai merahyaitu, penggunaan kondom pada seks berisiko, persentase usia remajayang mempunyai pengetahuan HIV/AIDS dan pencegahannya sangatrendah, serta jumlah kotamadya dan kabupaten yang melakukanpencegahan dan penurunan kasus HIV/AIDS yang masih sangatrendah.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hingga Desember 2010,jumlah penderita AIDS di Indonesia mencapai 24.131 orang danmengidap virus HIV sebanyak 55.848 orang. Jumlah itu didapat dari32 provinsi dan 300 kabupaten/kotamadya. Berdasarkan jenis kelamin,laki-laki mendominasi dengan jumlah 73 persen, kemudian perempuansebanyak 26 persen.

Sedangkan faktor penularannya masih didominasi hubungan seksheteroseksual 52 persen, melaui alat suntik 38 persen dan hubunganseks sesama jenis 3 persen. Adapun provinsi yang memiliki kasustertinggi HIV/AIDS yaitu DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat,Papua, Bali, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan,Sumatera Utara, dan DI Yogyakarta.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan kondisi dan situasiDKI Jakarta dalam mencapai MDGs berbeda dengan provinsi lain. Kalaukita lihat beberapa indikator, seperti kemiskinan mengalamipenurunan, kemudian kematian ibu dan bayi itu semua bisa kitakendalikan, katanya.

Tetapi, ia mengaku belum senang dengan angka pertambahanpenduduk yang terus naik, baik melalui kelahiran alami maupunmelalui urbanisasi, yang jumlahnya cukup besar. Dia juga mengakubelum puas dengan upaya penanggulangan HIV/AIDS di Jakarta yangjumlahnya tergolong masih cukup besar.

Kita sudah bekerja keras dan mensosialisasikan strategipenanggulangan HIV/AIDS kepada masyarakat, sehingga stigmamenutup-nutupi penderita penyakit itu sudah mulai hilang. Sekarangcenderung ketika sakit semuanya langsung datang ke rumah sakit,sehingga jumlahnya jadi besar. Tapi, saya gembira karena lebih baikpunya angka yang realistis sehingga bisa memeranginya, katanya.

Upaya yang dilakukan, ungkapnya, selain memberikan alokasianggaran yang cukup besar untuk upaya penanggulangan dan pencegahanHIV/AIDS, juga menyediakan pengobatan alternatif kepada pemudadengan menggunakan metadon yang kini tersedia di beberapa puskesmasdi Jakarta.

Kemudian, mengaktifkan kelompok Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA)dengan memberdayakan dan melatih mereka sehingga mampu menjadikomunikator di kelompoknya sendiri.

Di Jakarta saat ini telah terdapat 85 rumah sakit yang siapmelayani ODHA dengan gratis jika pasien yang bersangkutan memilikikartu JPK-Gakin dan SKTM. Selain itu, Dinas Kesehatan DKI Jakartajuga telah memiliki alat tes pendeteksi HIV di 44 puskesmaskecamatan, 54 rumah sakit swasta, dan 6 rumah sakit umum daerah(RSUD).

Totalnya, Pemprov DKI telah memiliki 104 lokasi dari 772 lokasidi Indonesia, untuk mendeteksi apakah seseorang terinfeksi HIV atautidak. Hal itu dilakukan untuk mencapai target tahun 2012 yaitumencegah 36 ribu kasus infeksi baru di tahun 2012.

... selengkapnya
Hingga Januari 41 penderita AIDS di Grobogan meninggal
ditulis pada 11 2011

Grobogan (Espos)–Jumlah penderita HIV/AIDS yang meninggal terus meningkat, dari data yang ada di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Grobogan hingga Januari 2011 mencapai 41 orang dari jumlah total penderita 132 orang sejak ditemukan tahun 2002 lalu.

Tidak hanya itu, menurut Sekretaris Dinkes Kabupaten Grobogan, dr Johari Angkasa kepada wartawan, Jumat (7/1), dilihat dari perkembangan kasus HIV/AIDS di tahun 2010 mengalami peningkatan hampir dua kali lipat. “Tahun 2009 tercatat ada 25 penderita HIV/AIDS, sementara di tahun 2010, Dinkes menemukan 47 orang positif mengidap penyakit mematikan tersebut, dengan kata lain ada peningkatan hampir seratus persen atau dua kali lipat dari tahun sebelumnya,” ungkap Johari.

Sedang total kasus atau penderita HIV/AIDS sejak ditemukan tahun 2002 silam hingga tahun 2010 adalah 132 orang. Sedangkan yang meninggal dunia, ujar Johari, mencapai angka 41 orang. “Jumlah kematian tertinggi terjadi di tahun 2010 yang mencapai 16 penderita. Jika dilihat dari data yang ada maka virus Human Immuno Deficiency Virus (HIV) Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) telah menyebar di 18 Kecamatan di Grobogan, Hanya satu kecamatan yakni Geyer yang belum ditemukan adannya penyebaran penyakitt tersebut,” terang Johari Angkasa,

Dengan meningkatnya jumlah temuan kasus HIV/AIDS, Johari mengatakan Dinkes terus melakukan berbagai upaya untuk pencegahan dan penanggulangan. “Kita terus lakukan sosialisasi pencegahan HIV/AIDS, kemudian melakukan penelitian kader di daerah rawan HIV/AIDS. Termasuk memfasilitasi dan memberi bantuan transport bagi penderita yang berobat di RSD Karyadi Semarang,” pungkas Johari.

rif

... selengkapnya
<< 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 >>