• Terdapat penambahan fitur baru pada www.aidsjateng.or.id yaitu 'TV Spot KPAP'
  • SK Pembentukan KPA Kab/Kota, bisa di download pada menu direktori
  • Data Kasus HIV dan AIDS sampai dengan 31 Desember 2014 adalah 10.804 kasus
  • Sudah Ada 35 KPA Kab/Kota di Jawa Tengah

Online News

KPI: Kampanye HIV/AIDS tak maksimal
ditulis pada 30 2010
SEMARANG: Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Jawa Tengah (Jateng) mendesak informasi mengenai HIV/AIDS terus digalakkan hingga tidak sekadar menyentuh mereka yang memiliki risiko tinggi tapi meneyeluruh.
Selama ini mereka menilai kampanye pencegahan HIV/AIDS belum maksimal dan menyentuh secara menyeluruh ke ibu-ibu komunitas awam, padahal mereka banyak yang menjadi korban.

“Informasi belum transparan dan masih dianggap sebagai isu murahan sehingga belum menyentuh hingga tingkat bawah (ibu-ibu rumah tangga),” kata Rulia Ivad Dhalina, staf advokasi KPI Jateng menanggapi tingginya korban HIV/AIDS berasal dari kaum ibu, di Semarang, Selasa ini.

Rulia menjelaskan minimnya kampanye HIV/AIDS menjadikan para kaum ibu baru mengetahui dirinya terinfeksi penyakit tersebut setelah pasangannya positif.

“Jadi bukan karena inisiatif sendiri mereka datang ke tempat pelayanan untuk tes, akan tetapi karena pasangannya ketahuan positif mengidap HIV/AIDS terlebih dahulu,” katanya.

Mereka yang masuk kategori berisiko tinggi adalah pengguna narkoba, pengguna jarum suntik, waria, dan lelaki suka lelaki, dan pelanggan pekerja seks komersil (PSK).

Jika kampanye HIV/AIDS bisa menyentuh hingga tingkat bawah di antaranya melalui PKK, maka akan muncul kesadaran dan masyarakat datang ke tempat pelayanan secara mandiri melakukan test.

Terkait dengan penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak, lanjut Rulia, dapat terjadi melalui tiga hal yakni kehamilan, persalinan, dan kelahiran.

“Penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak persentasenya 30 persen, jika tidak ada internvensi dini dan status ibu diketahui. Bahkan jika ada layanan VCT/PMTCT bisa 0 persen,” katanya.

Setelah kelahiran, lanjut Rulia, penularan penyakit dapat ditekan dengan tidak memberikan air susu ibu (ASI). Akan tetapi untuk yang tidak mampu mendapatkan akses susu formula, maka ASI dapat diberikan selama satu hingga tiga bulan.

“Amannya ya dengan pemberian susu formula. Akan tetapi jika karena faktor ekonomi tidak bisa mendapatkan akses susu formula, maka dapat dengan pemberian ASI maksimal tiga bulan,” katanya. (Ant)

... selengkapnya
Pertama di Indonesia, Semarang Sediakan Konseling HIV & AIDS Swalayan
ditulis pada 30 2010

TEMPO Interaktif, Semarang - Yayasan Wahana Bakti Sejahtera (YWBS) akan membuka klinik voluntary counseling and testing (VCT) atau tes untuk mendeteksi penyakit HIV/AIDS secara swalayan. Klinik jenis ini untuk melakukan tes VCT bagi pengidap secara sendiri.

"Kerahasiaan tes VCT swalayan cukup tinggi karena yang pertama mengetahui hasil tes adalah pribadi masing-masing," kata Pembina Yayasan Wahana Bakti Sejahtera (YWBS) Budi Laksono, Jumat (18/12).

Budi menyatakan, keberadaan klinik itu baru pertama kali di Indonesia, sedangkan konsep ini ia dapatkan dari beberapa negara maju yang sudah menerapkannya.

Dalam tes itu, petugas hanya akan membantu mengambilkan darah. Setelah itu di tes sendiri dan hasilnya diketahui sendiri. Karena dilakukan secara pribadi maka dari hasil negatif ataupun positif mengidap maka si pasien berhak untuk tidak mengatakan pada siapapun. "Bahkan dokternya juga tidak berhak tahu, dalam VCT swalayan ini kerahasiaan sangat terjamin" terangnya.

Namun dalam tes tersebut tetap akan dilakukan konseling pra tes dan pascates VCT. Hal ini untuk pendampingan terhadap orang-orang yang melakukan tes tersebut. "Kalau yang hasilnya positif kan nanti bisa syok atau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, makanya kami terus melakukan konseling," jelas Budi.

Lebih lanjut dijelaskan, keberadaan VCT syawalan ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan kemauan orang-orang untuk memeriksakan dirinya. Pasalnya, penularan penyakit yang masih menjadi momok bagi banyak orang ini bukan hanya karena perilaku seks yang menyimpang serta penggunaan obat-obat terlarang secara suntik. Tapi juga ditularkan karena transfusi darah serta penggunaan jarum suntik, sehingga tes VCT ini bisa dilakukan siapapun untuk memastikan.

Harapannya, jika memang ada kasus-kasus penyakit tersebut maka bisa diketahui sejak dini. "Karena terkadang orang yang mengidap penyakit ini merasa baik-baik saja," kata Budi. Selain itu, dari hari ke hari penularan HIV/AIDS di Indonesia cukup tinggi.

Selama ini klinik VCT sudah disediakan, namun masih memungkinkan bagi petugas atau dokter mengetahui hasil tes tersebut.

 

ROFIUDDIN

... selengkapnya
Sebanyak 68 Orang Terbaik Menerima Penghargaan dari Gubernur Jawa Tengah
ditulis pada 27 2010

Semarang - Puncak peringatan Hari Ibu ke-82, Hari Internasional Tanpa Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak, Peringatan Aids se dunia, Hari Kesetiawanan Sosial  Nasional (HKSN) ke-62 dan Hari Gerak PKK ke-38 telah dilaksanakan secara serentak oleh seluruh instansi baik pemerintah, swasta maupun organisasi perempuan yang ada di provinsi maupun kabupaten/kota.

 

Gaung kelima hari besar ini terasa lebih besar dan bermakna, maka puncaknya dilaksanakan secara bersama dan kebersamaan. Ini menjadi cermin bersatunya masyarakat Jawa Tengah dalam menangani persoalan sosial yang terjadi di Jawa Tengah, ujar Gubernur Jawa Tengah, H. Bibit Waluyo dalam sambutannya pada puncak acara peringatan tersebut di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kamis (23/12).

 

Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Provinsi Jawa Tengah selaku panitia penyelenggara puncak peringatan tersebut telah melaksanakan berbagai rangkaian. Selain itu, BP3AKB juga mengumumkan nominasi penghargaan bagi mereka yang dinilai berhasil menumbuh-kembangkan inovasi kelembagaan di masing-masing instansinya.


Sebanyak 68 orang penerima award  diberikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, antara lain, Posyandu desa/kelurahan terbaik, Perpustakaan desa terbaik, Lomba PKK tingkat nasional, pelaksana terbaik Peningkatan Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Gender, perusahaan terbaik peduli lingkungan, Pengelola terbaik perusahaan pembina Tenaga Kerja Wanita dan pemenang lomba Rumah Sakit Pelayanan KB terbaik tingkat nasional. Berbagai penghargaan telah diserahkan oleh Gubernur Jawa Tengah pada kesempatan tersebut.  *Biro Humas_buds

... selengkapnya
Perluas Akses Pendidikan untuk Perangi HIV & AIDS
ditulis pada 27 2010

Beberapa pekan lalu dunia memperingati Hari AIDS. Tema internasional peringatan HIV tahun ini adalah “Akses Universal dan Hak Asasi Manusia”. Adapun subtema yang ditetapkan adalah “Peningkatan Hak dan Akses Pendidikan untuk semua, guna menekan laju epidemi HIV di Indonesia menuju tercapainya Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs)”, sementara seruan yang akan terus dikumandangkan adalah “Stop AIDS, tingkatkan hak dan akses pendidikan untuk semua”. Sampai saat ini orang yang telah terinfeksi HIV di seluruh dunia mencapai 60 juta orang dan 25 juta di antaranya telah meninggal dunia (UNAIDS, 2009).

Kenyataan tersebut menegaskan bahwa kini AIDS telah mencatat sejarah sebagai salah satu epidemi yang paling membahayakan jiwa manusia. Di Indonesia, secara kumulatif sejak 1987, kasus AIDS yang dilaporkan sebanyak 21.770 dan 4.128 di antaranya telah meninggal dunia (Kemenkes, Juni 2010). Perkembangan epidemi HIV di Indonesia termasuk yang tercepat di wilayah Asia.

Berdasarkan permodelan epidemik, jika pada 2008 di Indonesia jumlah orang yang hidup dengan HIV dan AIDS tercatat mencapai 277.700 orang, maka jumlah itu akan mencapai dua kali lipatnya pada 2014, yaitu 501.400 orang. Dalam Strategi dan Rencana Aksi Nasional (SRAN) Penanggulangan AIDS 2010-2014 telah ditetapkan sebuah skenario untuk menahan laju epidemi HIV di Indonesia, yaitu dicapai nya akses universal pada akhir 2014.

Dengan pengetahuan dan pemahaman masyarakat yang lebih baik, diharapkan stigma dan diskriminasi terhadap orang yang terinfeksi HIV akan semakin berkurang sehingga akan mendorong orang untuk terbuka dan berani mengetahui status HIV-nya. Situasi seperti ini serta-merta akan memudahkan upaya pemetaan perkembangan pendemi AIDS sehingga upaya penanggulangan dan pencegahannya pun akan lebih tepat dan cepat.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu menyatakan perang terhadap HIV/AIDS. Menurutnya, HIV/ AIDS merupakan musuh kedua setelah terorisme yang harus diberantas jika bangsa ini tidak ingin kehilangan satu generasi. Guna mendorong target menghentikan dan memperlambat penyebaran HIV/AIDS hingga tahun 2015, Presiden SBY tahun 2006 mengeluarkan Peraturan Presiden yang memperbarui peran dan mandat Komisi AIDS Nasional.

Presiden Yudhoyono menegaskan kepemimpinan adalah faktor penentu untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS secara efektif dan berkelanjutan. Penekanan angka penyebaran AIDS membutuhkan kebijakan khusus yang berkelanjutan. “Tentu saja kebijakan ini tidak datang begitu saja, tetapi dari kepemimpinan. Tanpa kepemimpinan maka usaha ini menjadi sporadis, tidak fokus, dan kurang sumber daya,” ujarnya.

Sebagai salah satu peran kepemimpinan dalam upaya memerangi penyakit AIDS, pada 2006 ia membentuk Komisi Nasional Penanggulangan AIDS di Indonesia. Indonesia kini telah memiliki lebih dari 100 pusat kesehatan bagi penderita HIV/ AIDS. Jumlah itu jauh lebih banyak daripada 2005 yang hanya 17 pusat kesehatan. Sejak 2006 hingga 2009 anggaran pemerintah khusus menangani masalah HIV/AIDS meningkat tujuh kali, dari 11 juta miliar dollar AS menjadi 73 juta dollar AS.

Penegakan Hukum

Keseriusan untuk memerangi penyebaran HIV/AIDS di Jawa Tengah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah dengan disahkannya Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang HIV/ AIDS menjadi produk hukum (perda) instrumen pengendalian penyebaran penyakit HIV/ AIDS di Jateng. Anggota Pansus Raperda HIV/AIDS, Thontowi Jauhari, meminta agar segala sesuatu yang terkait dengan pasal-pasal pada perda juga menjadi poin penegakan hukum.

“Misalnya keharusan kepada para calon pengantin terutama mereka yang berasal dari kelompok risiko tinggi untuk melakukan pemeriksaan di klinik Voluntary Conselling and Test (VCT),” ungkapnya. Perda HIV/ AIDS juga mengatur sejumlah kewajiban untuk melakukan pengendalian penyakit HIV/ AIDS oleh semua objek yang bersinggungan langsung dengan kerawanan, misalnya pengelola tempat-tempat hiburan malam untuk lebih pro-aktif dengan klausul yang diatur dalam Pasal 12 perda yang mengatur tentang HIV/AIDS ini.

“JIka ada pihak pengelola yang mengabaikan masalah ini bisa diancam dengan pidana kurungan paling lama enam bulan serta denda maksimal 50 juta rupiah,” tegasnya. Sesuai data Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Jawa Tengah, sampai dengan Maret 2010 di Jateng tercatat epidemi HIV/AIDS sebanyak 2.676 kasus, dengan perincian 1.577 infeksi HIV dan 1.099 kasus AIDS, serta 352 orang atau 13,15 persen di antaranya meninggal dunia.

“Kondisi ini sangat memprihatinkan karena dapat memengaruhi kualitas SDM, sehingga selain membahayakan kehidupan masyarakat, juga dapat mengancam kelangsungan hidup bangsa,” ungkap Wakil Gubernur Jawa Tengah Rustriningsih. Rustriningsih yang juga Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Jateng menyatakan upaya penanggulangan HIV/AIDS sangat penting guna mencegah penyebarannya ke populasi umum.

Rustriningsih menegaskan pengembangan kemitraan, partisipasi masyarakat sipil, dan mobilisasi sumber daya menjadi bagian penting dalam pelaksanaan strategi. “Ini lebih disebabkan penanggulangan dan penanganan HIV/AIDS merupakan tanggung jawab bersama, baik pemerintah, swasta, LSM, akademisi, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan masyarakat secara umum.

Demikian pula peningkatan kapasitas pemberi layanan kesehatan menjadi sebuah kebutuhan dasar yang sangat diperlukan di lapangan,” ujarnya. Pada 2006 KPA Nasional dengan dukungan dana dari IPF telah membantu 100 kabupaten/ kota akselerasi P2 HIV/ AIDS. Sedangkan pada 2008, telah dikembangkan pula 14 kabupaten/kota di Jawa Tengah menjadi kabupaten/kota akselerasi pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS.

Sebagai tindak lanjut, telah ditandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan KPA Nasional untuk program Penurunan Kesakitan dan Kematian terkait HIV di Kabupaten/Kota, Prioritas dan Penguatan Komunitas serta Sistem Kesehatan di Jawa Tengah.

... selengkapnya
25,4% Pengidap HIV & AIDS berusia 25th - 29th
ditulis pada 27 2010

Sekitar 25,4% atau 102 orang pengidap HIV/AIDS di Jawa Tengah pada Januari - September 2010 berada ada usia 25 tahun - 29 tahun.

   Dalam lima tahun terakhir, jumlah pengidap penyakit HIV/AIDS di Jawa Tengah didominasi pemuda/pemudi usia 25 tahun - 29 tahun. Pengidap HIV/AIDS pada kategori usia tersebut selalu lebih jika dibanding kategori usia lainnya, yaitu 102 orang (2010), 131 orang (2009), 59 orang (2008), 43 orang (2007), dan 51 orang (2006).

   "Dari 401 pengidap HIV/AIDS di Jawa Tengah, yang paling banyak atau 102orang berada di usia 25-29 tahun. Setelah itu baru usia 30-34 tahun yaitu 87 orang dan usia 35-39 tahun terdapat 73 pengidap HIV/AIDS," uangkap dr. Nasiruddin.M Kes dari Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo yang menjadi salah satu pembicara Rapat Koordinasi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sukoharjo di Gedung KPP Sukoharjo, Sabtu (18/12).

    Sementara jika dilihat dari jenis kelaminnya, penderita penyakit ini dari laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan. Dari 401 penderita HIV/AIDS di Jawa Tengah, 252 penderita berjenis kelamin laki-laki sedangkan sisanya perempuan. Sedangkan khusus di Kabupaten Sukoharjo, saat ini terdapat empat penderita HIV dan delapan penderita ADIS.

    Dia menambahkan cara penularan penyakit ini antara lain dengan tiga cara yaitu kontak seksual, kontak darah seperti transfusi, pengguna jarum suntik berulang, akupuntur serta kontak keturunan dari ibu ke anak. "Perilaku Risti (risiko tinggi) untuk penularan virus HIV antara lain dengan perilaku seksual Risti, misal pasangan seks berganti-ganti dan tidak pakai pelindung atau kondom saat berhubungan. Bisa juga pemakaia jarum suntik tidak steril dan bersama-sama," uari Nasiruddin .

     Wakil Bupati Sukoharjo, Haryanto yang membuka Rapat Koordinasi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sukoharjo menambahkan berdasarkan proporsi kumulatif kasus HIV/AIDS tertinggi se-Indonesia tertinggi pada usia 20-29 tahun yaitu sebanyak 48,7% dari 20.564 kasus sampai 31 Maret 2010. Data tersebut, menurut Haryanto didasarkan pada laporan dari Kementerian Kesehatan.

     "Sedangkan menurut perkiraan USAIDS, di dunia ini setiap hari terdapat 5.000 orang pengidap baru HIV dan AIDS yang berusia antara 15-24 tahun, hampir 1.800 orang yang hidup dengan HIV positif di bawah usia 15 tahun tertular dari ibunya, serta sekitar 1.400 anak di bawah usia 15 tahun meninggal akibat mengalami fase AIDS," tandas Haryanto.

... selengkapnya
Mantan TKI Itu Teridentifikasi Mengidap HIV & AIDS
ditulis pada 27 2010

ANTARA - Sepasang suami istri tampak mendatangi Klinik Layanan Cahaya Pelita, Rumah Sakit Umum Daerah Cilacap, Jawa Tengah, Rabu pagi, meskipun kondisi mereka terlihat sehat.

Setelah melakukan registrasi, pasangan suami istri ini segera memasuki ruang konseling di klinik yang melayani "Voluntary Counseling and Testing (VCT)" ini.

Di ruangan tersebut, pasangan suami istri ini diterima Manajer Kasus Klinik Cahaya Pelita Rubino Sriadji. Namun entah apa yang mereka bicarakan di ruangan itu.

Selang 30 menit kemudian, Rubino Sriadji tampak ke luar dari ruang konseling, sedangkan pasangan suami istri yang dilayaninya telah meninggalkan ruangan melalui pintu lain.

"Mereka menuju Ruang CST (care, support, treatment) RSUD Cilacap," kata Rubino kepada ANTARA.

Ia mengatakan, perempuan tersebut merupakan mantan tenaga kerja wanita asal Kabupaten Cilacap yang teridentifikasi mengidap HIV/AIDS.

Menurut dia, AN (33) mengaku sering merasakan lemas sejak tiga bulan lalu dan setelah dilakukan pemeriksaan, perempuan yang pernah bekerja di Jepang ini diketahui mengidap HIV/AIDS.

Berdasarkan pengakuan AN, kata dia, perempuan ini pernah melakukan hubungan seks bebas saat masih bekerja di Jepang sekitar tiga tahun lalu.

Kendati demikian, dia mengatakan, SR (35) yang merupakan suami kedua AN hingga saat ini masih negatif atau belum tertular HIV/AIDS.

"Apa yang dialami AN hanyalah satu contoh nyata dari sekian banyak kasus tenaga kerja Indonesia asal Kabupaten Cilacap yang teridentifikasi mengidap HIV/AIDS," katanya.

Berdasarkan data Klinik Cahaya Pelita, sebanyak 67 orang penderita HIV/AIDS yang menjadi klien klinik VCT ini merupakan warga Kabupaten Cilacap yang pernah bekerja di luar daerah maupun luar negeri.

"Sebagian besar memang pernah bekerja di luar negeri tetapi kami masukkan mereka ke dalam kelompok urban karena ada yang baru kembali dan ada pula yang pulangnya telah lebih dari lima tahun. Mereka yang telah pulang lebih dari lima tahun ini diketahui pernah bekerja di luar Cilacap," katanya.

Selain itu, kata dia, kadang kala para mantan TKI ini tidak ingat kapan mereka melakukan penyimpangan seksual sehingga tertular HIV/AIDS sehingga ada kemungkinan hal itu dilakukan saat masih di luar negeri maupun di dalam negeri.

Menurut dia, perbuatan yang dilakukan di dalam negeri ini dapat terjadi saat masih berada di penampungan maupun ketika mereka telah kembali dan bekerja di luar wilayah Cilacap.

Meskipun demikian, dia mengatakan, ada pula mantan TKI yang mengakui kalau perbuatan menyimpang tersebut dilakukan saat berada di luar negeri dengan sesama warga negara Indonesia.

"Berdasarkan catatan kami, dari 67 orang itu 17 orang di antaranya merupakan mantan TKI yang baru kembali ke Cilacap. Sisanya telah lama kembali dari luar negeri dan pernah bekerja di sejumlah kota di Indonesia," katanya.

Ia mengatakan, ke-67 mantan tenaga kerja yang menderita HIV/AIDS ini terdiri 30 orang laki-laki dan 67 orang perempuan.

Bahkan, kata dia, beberapa orang di antaranya telah menikah dan mempunyai anak.

"Saat ini kami terus memantau dua pasangan suami istri yang semuanya merupakan mantan TKI. Masing-masing pasangan ini memiliki satu anak yang telah tertular HIV/AIDS," katanya.

Ia mengatakan, sebenarnya ada dua pasangan suami istri yang diduga menderita HIV/AIDS tetapi hingga saat ini belum terjangkau oleh Klinik Cahaya Pelita.

Menurut dia, banyaknya kasus HIV/AIDS yang diderita mantan TKI ini menarik perhatian Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (BP3TKI) Provinsi Jawa Tengah.

"BP3TKI pernah datang ke klinik dan berencana menjalin kerja sama dengan kami terkait penanganan kasus tersebut," katanya.


Upayakan Advokasi
Tingginya kasus HIV/AIDS di Kabupaten Cilacap yang berdasarkan data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Cilacap per September 2010 yang mencapai 236 kasus HIV/AIDS terdiri 179 kasus HIV dan 57 positif AIDS, telah memosisikan kabupaten ini pada peringkat keempat di Jawa Tengah atau melonjak dari tahun sebelumnya yang berada pada peringkat 12.

Kendati demikian, Rubino mengatakan, tingginya kasus HIV/AIDS yang terungkap menunjukkan semakin tingginya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri ke klinik VCT.

Akan tetapi menurut dia, kasus HIV/AIDS justru menimbulkan permasalahan tersendiri karena orang yang "benar-benar" menjadi korban seakan kurang mendapat perhatian.

Hal yang sama juga disampaikan Ketua Layanan Klinik Cahaya Pelita, M Chozin Sungaidi. Menurut dia, selama ini yang selalu mendapat perhatian sebagai korban HIV/AIDS adalah mereka yang sebenarnya merupakan pelaku penyimpangan seksual maupun pengguna narkoba.

"Padahal para ibu rumah tangga dan anak-anak yang tertular HIV/AIDS juga merupakan korban tetapi mereka seakan kurang mendapat perhatian," katanya.

Oleh karena itu, dia mengharapkan pemerintah dapat membuat regulasi berupa perlindungan bagi masyarakat yang benar-benar menjadi korban HIV/AIDS (ibu rumah tangga dan anak-anak, red.).

Menurut dia, tidak jarang anak-anak yang mengidap HIV/AIDS kesulitan untuk menempuh pendidikan di bangku sekolah.

"Saat ini kami berupaya memberikan advokasi kepada mereka (ibu rumah tangga dan anak-anak penderita HIV/AIDS). Bahkan, informasi yang kami terima, dari Ikatan Istri Dokter Indonesia akan menjadikan anak-anak penderita HIV/AIDS di Cilacap sebagai anak asuh," katanya.

Disinggung mengenai jumlah anak di Kabupaten Cilacap yang tertular HIV/AIDS, dia mengatakan, hingga saat ini tercatat tujuh orang tetapi tiga di antaranya telah meninggal dunia.

"Kami saat ini juga sedang menyiapkan proses persalinan seorang wanita yang diketahui menderita HIV/AIDS. Untuk itu, kami segera membentuk tim dokter untuk menangani persalinan tersebut," kata dia yang juga Wakil Direktur Bidang Pelayanan RSUD Cilacap.

Menurut dia, wanita yang diperkirakan akan melahirkan tiga bulan lagi ini merupakan mantan TKI yang telah berada dalam pantauan Klinik Cahaya Pelita.

"Persalinan ini merupakan yang kedua dialami wanita tersebut dari pernikahan keduanya. Anak pertama dari suami pertamanya yang telah meninggal dunia itu juga tertular HIV/AIDS," katanya.



Berikan Pembekalan
Sementara itu, Sekretaris KPA Kabupaten Cilacap Sarjono mengaku prihatin terhadap tingginya kasus HIV/AIDS yang menimpa para mantan TKI asal Cilacap.

Terkait hal itu, dia mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Cilacap maupun Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI Provinsi Jawa Tengah terkait kasus tersebut.

Dalam hal ini, kata dia, KPA bersama dua instansi tersebut maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM) pendamping berupaya memberikan pembekalan mengenai HIV/AIDS kepada para calon TKI sebelum diberangkatkan ke luar negeri khususnya yang bekerja di sektor informal.

"Itu (pembekalan) kami lakukan secara rutin di tempat penampungan calon TKI," katanya.

Secara terpisah, Kepala Bidang Pembinaan Penempatan dan Pelatihan Produktivitas (Bina Penta dan Lattas) Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Cilacap Sutiknyo mengatakan, pihaknya bersama perusahaan penempatan tenaga kerja Indonesia swasta (PPTKIS) telah berupaya memberikan pembekalan mengenai HIV/AIDS kepada para calon TKI.

"Pembekalan ini juga diberikan sebagai materi pelajaran bagi calon TKI saat berada di Balai Latihan Kerja Luar Negeri (BLKLN) Cilacap. Kami bekerja sama dengan KPA untuk memberikan pembekalan tersebut sehingga para calon TKI ini dapat menghindari hal-hal yang mengakibatkan penularan HIV/AIDS," katanya.

... selengkapnya
Di Solo, Penderita HIV & AIDS terus bertambah
ditulis pada 27 2010

SOLO | SURYA Online - Jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Solo terus bertambah hingga menyebabkan posisi penderitanya berada di nomor dua se-Jawa Tengah setelah Semarang.

“Programmer” Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Solo, Tommy Prawoto, Selasa (16/11/2010), mengatakan, pada  Oktober jumlah penderita HIV/AIDS bertambah 14 orang. Sehingga jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Solo sebanyak 461 jiwa dan menduduki posisi ke dua di Jawa tengah.

Tommy mengatakan, terdapat sebanyak 194 jiwa positif mengidap HIV dan 267 jiwa mengalami AIDS. “Sedangkan penderita yang meninggal berdasarkan data per Oktober yaitu sebanyak 139 jiwa,” katanya.

Dalam menghadapi kasus tersebut, tambah Tommy,  pihaknya akan meningkatkan intensitas pemantauan kasus yang ada di beberapa tempat tertentu. Dia juga mengatakan, pihaknya akan selalu mencari kasus tersebarnya HIV/AIDS untuk kemudian akan dicegah dengan mengajak jajaran terkait termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat, dan Dinas Kesehatan Kota setempat  menyosialisasikan cara mencegah penyebaran virus HIV/AIDS.

“Sebenarnya untuk menentukan penderita HIV/AIDS membutuhkan waktu yang cukup lama dan pada dasarnya jumlah penderita yang ada saat ini merupakan warisan dari penderita HIV/AIDS lima tahun lalu,” jelas Tommy.

Maka dari itu, lanjut Tommy, masyarakat perlu diberi informasi yang kuat dalam mencegah penularan HIV/AIDS.

Kalau delapan tahun kemudian jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Solo tidak terlalu mengalami peningkatan yang tinggi, kata Tommya, hal tersebut merupakan wujud dari usaha pemkot dalam menekan jumlah penderita HIV/AIDS.

“Diharapkan Solo tidak lagi menjadi kota nomor dua se-Jawa Tengah yang memiliki penderita HIV/AIDS dengan jumlah tinggi dengan melakukan sosialisasi semaksimal mungkin,” kata Tommy.

... selengkapnya
36 Penderita HIV/AIDS, 20 diantaranya Meninggal
ditulis pada 01 2010

DIBINA - Warga yang rawan tertular HIV/AIDS akan dibina, seperti kegiatan yang dilakukan Badan Narkotika (BNK) Kabupaten Pekalongan beberapa waktu lalu di lokalisasi Kebon Suwung Kecamatan Karanganyar.

WIRADESA - Sebanyak 36 warga di Kota Santri terjangkit penyakit HIV/AIDS. Dari jumlah itu, sebanyak 20 diantaranya telah meninggal dunia.
Informasi yang berhasil dihimpun Radar pada Senin (29/11), tercatat di data Dinkes Kabupaten Pekalongan, sejak tahun 2005 hingga bulan Oktober 2010, sebanyak 36 warga yang terjangkit HIV/AIDS. jumlah tersebut terbagi 10 terjangkit HIV dan 26 AIDS.
Sementara dari puluhan yang terjangkit HIV/AIDS, 20 orang diantaranya diketahui telah meninggal dunia. Mereka semua termasuk penderita AIDS, yang sudah ditemukan dalam kondisi parah.
Kasi Pencegahan Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Pekalongan, Suwondo saat ditemui Radar mengungkapkan, selama ini pihaknya telah melakukan survei, sekaligus Voluntary and Counseling Testing (VCT), yaitu suatu program yang dapat digunakan bagi pihak medis untuk mengetahui sudah seberapa jauh seorang pengidap HIV/AIDS menderita penyakitnya.
VCT sendiri merupakan suatu jalan keluar yang sangat baik dalam proses penghentian penularan yang berakibat meningkatnya jumlah penderita HIV/AIDS.
"Hingga sekarang sebanyak 20 orang dari 36 penderita HIV/AIDS yang meninggal dunia. Untuk melakukan pencegahan terhadap penularan penyakit berbahaya ini, kami melakukan survei sekaligus VCT," tuturnya.
Suwondo juga mengatakan, dari 36 penderita HIV/AIDS tersebut, didominasi oleh mereka yang berprofesi sebagai buruh. Sementara golongan umur, dari penderita yang terbanyak, yaitu antara 25 hingga 34 tahun, dan kebanyakan berjenis kelamin perempuan.
Suwondo menambahkan, cara penularan virus HIV dari penderita di Kota Santri, yaitu mayoritas secara heteroseksual dengan bergonta ganti pasangan tanpa menggunakan pengaman kontrasepsi atau kondom.
"Dari data yang masuk, sebagian besar penderita berjenis kelamin perempuan, dan cara penularannya secara heteroseksual dengan bergonta-ganti pasangan," imbuhnya.
Suwondo juga mengimbau kepada masyarakat terutama di Kota Santri, agar tidak tertular HIV/AIDS untuk memperhatikan, antara lain sebagai berikut. A atau Abstinensia, yang berarti puasa berhubungan dengan lawan jenis yang bukan pasangan resminya.
B atau Be Faithful, yang berarti saling setia dengan pasangannya masing-masing. C atau Condom, yaitu selalu menggunakan pengaman kontrasepsi kondom saat berhubungan dengan lawan jenis.
D atau Drug User, yaitu hindari penggunaan narkoba terutama pemakaian dengan jarum suntik. Dan E atau Education, yaitu pendidikan seksual terutama terkait penularan HIV/AIDS.
"Jika disingkat memang seperti huruf abjad seperti itu, biar masyarakat mudah mengingatnya," ujarnya.

... selengkapnya
<< 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 >>