• Terdapat penambahan fitur baru pada www.aidsjateng.or.id yaitu 'TV Spot KPAP'
  • SK Pembentukan KPA Kab/Kota, bisa di download pada menu direktori
  • Data Kasus HIV dan AIDS sampai dengan 31 Desember 2014 adalah 10.804 kasus
  • Sudah Ada 35 KPA Kab/Kota di Jawa Tengah

Online News

Satu Bulan 8 Penderita
ditulis pada 27 2014

Kasus HIV/AIDS di Wonosobo, seperti fenomena gunung es. Jumlah warga yang teridentifikasi positif terserang jenis virus ini, terus bertambah. Dalam sebulan pekerja lapangan (PL) Wonosobo Youth Center dan Dinas Kesehatan, mendapatkan 8 warga positif HIV/AIDS. “Ini memang seperti fenomena gunung es, jumlah penderita yang teridentifikasi terus bertambah,” kata Direktur Wonosobo Youth Center (WYC), kemarin (14/2) Jaelan kepada Radar Semarang.
Pria yang juga PNS di Dinas Kesehatan ini mengatakan, kenaikan jumlah penderita yang teridentifikasi ini, tidak lepas dari pola penjaringan dan pemantauan yang dilakukan WYC dan Dinkes. Pola yang dilakukan, dengan melakukan pendampingan terhadap populasi kunci seperti waria, pekerja seksual komersial, anak jalanan, dan sejumlah komunitas lain.
“Kerja sama dengan komunitas populasi kunci ini, yang memudahkan dalam proses identifikasi,” kata Jaelan.
Dikatakan dia, pada akhir tahun 2013, jumlah penderita HIV/AIDS di kota dingin itu mencapai 148 orang. Selama Januari bertambah 8 penderita lagi. “Tidak ada dua bulan, sudah bertambah 8 yang positif HIV/AIDS,” ujarnya prihatin.
Meningkatnya jumlah penderita itu, karena tiap hari sedikitnya 12 petugas lapangan melakukan pendampingan terhadap populasi kunci. Dengan pola ini, memungkinkan warga yang sebenarnya sudah positif HIV/AIDS namun lantaran tidak pernah melakukan pemeriksaan sehingga tidak pernah mengetahui.
“Kami akan terus lakukan pendampingan, tujuannya agar semua penderita bisa mengetahui dirinya positif,” ungkap pria yang akrab disapa Jay ini.
Dengan terkumpulnya jumlah penderita ini, kata Jay, akan memudahkan dalam pola penanganan sekaligus memotong mata rantai penularan. Karena para penderita didampingi, untuk bertindak positif sekaligus memahami bahaya dari penyakit ini.
“Misalnya ada seorang ayah yang positif, kami akan jelaskan agar melakukan hubungan dengan istri secara sehat. Karena bisa menularkan kepada istri sekali­gus kepada anaknya,” tuturnya.
Jay menambahkan, pola penyadaran ini dinilai berhasil. Selain menekan laju penularan, juga mampu memberikan semangat kepada penderita. Sasaran yang saat ini menjadi fokus pendampingan, terhadap para pemandu karaoke (PK) yang jumlahnya terus meningkat di Wonosobo, saat ini tercatat mencapai 58 PK yang didampingi.
“Kami jelaskan kepada PK, agar memeriksakan diri sedini mungkin. Karena beberapa ada yang tidak sekadar menemani menyanyi, namun juga hubung­an seksual,” katanya. (ali/lis)

... selengkapnya
WARGA RENTAN HIV & AIDS MENDAPATKAN CEK KESEHATAN
ditulis pada 27 2014

Tidak kurang dari 20 orang  yang rentan terhadap terkena penyakit HIV/Aid  mendatangi kantor LSM ,B Positif, di dusun Kalitan desa Blondo untuk memeriksakan dirinya terkait dengan resiko terkena penyakit  HIV/AIDS, yang diadakan oleh KPA ( Komisi Penanggulangan Aids) Kabupaten Magelang yang bekerjasama dengan LSM. B. Positif, Dinas Kesehatan, RSU Muntikan, Puskesmas Muntilandan serta SKPD terkait.

Rata rata mereka berusia produktif dan bahkan anak anak keluarga beresiko terkena HIV/AIDS, mereka mendapatkan pelayanan pemeriksaan kesehatan berupa Klinik VCT (Voluntari ConselingTes) dari RSUD Muntilan dan pelayanan Klinik IMS ( Inveksi Menular Seksual) oleh PKM Muntilan II. Konseling dan Penyuluhan tentang penularan HIV/ AIDS

Menurut Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kabupaten Magelang Bambang Dwi PurnomoS.Sos, menyampaikan bahwa kegiatan ini sudah rutin dilakukan di beberapa wilayah di Kabupaten Magelang dengan system jemput bola  tim pemeriksa kesehatan berikut peralatannya datang ketengah masyarakat yang bekerjasama dengan  LSM  dan lembaga desa lainnya. Dan sekaligus pada kesempatan sekarang adalah bagian dari kegiatan untuk menyambut hari Aids sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember .

Berdasarkan data Komisi Penanggulangan Aids Kabupaten Magelang sejak tahun 2007 sampai dengan Oktober 2013 di Kabupaten Magelang tercatat 46 orang terinveksi HIV /AIDS, dan mereka ini terus mendapatkan pengawasan kesehatan dari KPA,

Ditambahka, pada acara peringatan hari AIDS sedunia  KPA Kabupaten Magelang bersama lembaga dan instansi terkait akan menyelenggarakan pelayanan cek kesehatan terkait penyakit HIV/AIDS  yang di kemas dengan arena  gembira yang akan di laksanakan pada tanggal 7 Desember mendatang bertempat di Terminal Muntilan, pada acara ini juga diadakan donor darah, pentasKesenian Dayakan dan Karaoke serta organ tunggal.

... selengkapnya
Penderita HIV & AIDS di Grobogan Tertinggi se-Jawa Tengah
ditulis pada 27 2014

Jumlah pengidap penyakit HIV/AIDS di Kabupaten Grobogan tahun 2013 meledak. Hingga akhir Desember 2013, jumlahnya mencapai 141 penemuan baru, 19 diantaranya meninggal. Dengan demikian, kasus penyakit mematikan tersebut sejak ditemukan di Grobogan tahun 2002 hingga sekarang berjumlah 412 orang, sebanyak 79 orang diantaranya meninggal.


“Jumlah penemuan pengidap baru ini naik hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2012 yang hanya 87 kasus. 13 diantaranya meninggal. Penemuan baru kasus HIV/AIDS di Grobogan tahun 2013 ini merupakan terbanyak di Jateng. Untuk itu perlu disikapi dengan serius oleh Pemkab dan elemen masyarakat,” kata Kepala Dinas Kesehatan Grobogan dr Johari Angkasa MKes, kepada KRjogja.com, Senin (16/12/2013).
Disebutkan, pada tahun 2008, jumlah kasus HIV/AIDS di Grobogan 32 kasus dengan 7 diantaranya meninggal, tahun 2009 ada 25 kasus, sebanyak 11 diantaranya meninggal. Kemudian tahun 2010 terdapat 47 kasus, 16 diantaranya meninggal, tahun 2011 ada 52 kasus, 6 diantaranya meninggal, dan tahun 2012 terdapat 87 kasus, 13 diantaranya meninggal.
“Hingga penghujung tahun 2013 ini, jumlah penderita penyakit HIV /AIDS di Grobogan sudah ada 412 orang. Dari jumlah ini, sudah ada 79 orang yang meninggal. Yang memprihatinkan adalah penderitanya tidak hanya orang dewasa, tetapi ada 23 anak,” ungkap Johari.  
Disebutkan, pengidap HIV/AIDS di Grobogan paling banyak adalah ibu rumah tangga, yakni ada 22,9 persen. Kemudian dari kalangan buruh ada 17,3 persen dan wiraswasta 13,6 persen. Sedangkan dilihat dari usia, sebanyak 60,7 persen penderita berumur 21-40 tahun, dan umur di bawah 21 tahun 5,8 persen.
Johari menyatakan, perhatian lebih serius memang mutlak dilakukan. Sebab, selain sudah meningkat pesat, pengidap HIV/AIDS itu juga sudah merata di semua wilayah kecamatan. Dari 19 kecamatan, ada tiga kecamatan yang punya pengidap HIV/AIDS terbanyak yakni, Purwodadi, Toroh dan Karangrayung. (Tas)

... selengkapnya
Anjuran Periksa HIV & AIDS Bagi Pasangan Akan Menikah
ditulis pada 27 2014

Dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2013 yang baru disahkan pada Bulan Agustus lalu didalamnya menganjurkan bagi pasangan yang baru akan menikah di Kota Semarang diperiksa tentang HIV/AIDS. Anjuran tersebut sebagai antisipasi makin merebaknya penyakit akibat virus yang menyerang kekebalan tubuh seseorang di Kota Semarang agar terus terpantau.

Tingginya penderita HIV/AIDS di Kota Semarang di Tahun 2013 yang mencapai 2 ribu lebih orang ini yang tercatat di KPA atau Komisi Perlindungan Aids Kota Semarang, menjadikan Kota Semarang sebagai peringkat tertinggi penderita HIV/AIDS di Jawa Tengah. Dengan adanya Perda tentang HIV/AIDS Nomor 4 Tahun 2014, praktis penyakit HIV/AIDS dinilai oleh Pemkot Semarang sebagai salah satu penyakit yang sangat diwaspadai penyebarannya.

Menurut Sekretaris KPA Kota Semarang Titiek Rahayu, untuk mencegah dan memantau penyebaran HIV/ AIDS di Kota Semarang, di dalam Perda Nomor 4 Tahun 2013,
terdapat anjuran bagi pasangan yang akan menikah untuk memeriksakan HIV/AIDS sebagai syarat menikah. "Anjuran pemeriksaan dimasukkan di dalam Perda, karena hal tersebut dinilai sebagai salah satu pintu masuk penyebaran HIV/AIDS di Kota Semarang," katanya, Selasa (3/12).

Titiek mengungkapkan, hubungan sex sampai saat ini merupakan resiko paling tinggi penularan virus mematikan ini di Indonesia, dan pasangan suami istri yang sah juga bisa tertular, karena salah satunya pernah bergonta-ganti pasangan. Selain itu penggunaan jarum suntik yang tidak steril juga bisa menularkan HIV/AIDS.
( Yulianto )

... selengkapnya
136 Ibu Rumah Tangga di Jateng Positif AIDS
ditulis pada 27 2014

HIV/AIDS tampaknya tak tebang pilih saat menyasar korbannya. Buktinya, di Jawa Tengah, ibu rumah tangga (IRT) menjadi kelompok terbanyak yang terinfeksi virus tersebut tahun 2013.
Data yang berhasil dihimpun Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah hingga September 2013 menunjukkan, sebanyak 136 ibu rumah tangga positif AIDS.
Menurut Kabid Pembinaan dan Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Rorry Hartono, kebanyakan IRT tertular virus HIV dari suaminya.
"Bisa jadi suaminya yang menularkan. Suami, karena faktor pekerjaan yang terus berpindah-pindah, membawa pulang virus tersebut melalui membeli seks," katanya, Jumat (29/11/2013).
95 Warga  Meninggal karena HIV/AIDS
Sementara itu diberitakan bahwa sebanyak 95 warga Jawa Tengah hingga September 2014, meninggal dunia lantaran terinfeksi HIV/AIDS.
Kepala Bidang Pembinaan dan Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Rorry Hartono mengungkapkan, angka kematian karena virus tersebut terbilang tinggi.
"Itu terbilang tinggi. Catatan dinkes tahun ini hingga September 2013, sebanyak 1.379 orang terinfeksi HIV/AIDS. Jumlah tersebut terdiri dari 730 orang terinveksi HIV dan 649 penderita AIDS," tuturnya.
Menurut dia, penularan HIV-AIDS terbesar diakibatkan oleh perilaku seksual yang tidak sehat. (Tn/Gs).

... selengkapnya
Penyebaran HIV & AIDS di Blora Meningkat
ditulis pada 27 2014

Penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Blora, Jawa Tengah tiap tahun mengalami peningkatan. Hingga akhir 2013 lalu jumlah penderita mencapai 30 orang.  

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Blora, Lilik Hernanto, peningkatan penyebaran HIV/AIDS di Blora terjadi mulai dari tahun 2008 sampai awal tahun 2014. Untuk tahun 2008 ditemukan 4 kasus, 2009 ada 3 kasus, 2010 ada 4 kasus, 2011 ada 11 kasus, dan di tahun 2012.

Kemudian, lanjut Lilik, jumlah itu meningkat di tahun 2013 menjadi 30 kasus. Sedangkan di tahun 2014 sampai Januari ini ditemukan 4 kasus.

"Hasil deteksinya, Hampir 70 persen kasus HIV yang ditemukan sudah menjadi AIDS, dan 80 persen penderita AIDS sudah meninggal dunia," tandas Lilik.

Menurut Lilik, jumlah kasus HIV/AIDS Itu merupakan data dipermukaan saja. Karena dimungkinkan jumlah kasus yang sebenarnya lebih besar. “Bisa diibaratkan seperti fenomena gunung es,” sergah dia.

Untuk antisipasinya, DKK telah melakukan langkah-langkah cukup taktis. Diantaranya melakukan zero survey di kelompok-kelompok orang yang rentan terjangkit penyakit HIV, misalnya di lokalisasi atau di tempat lainnya. "Tujuannya agar segera bisa mendeteksi kasus dan mengantisipasi penyebarannya," katanya.

Keberadaan klinik Voluntary Conselling and Testing (VCT) di RSU Blora dan yang baru klinik VCT di RSU Cepu yang sudah berjalan sangat membantu pendeteksian penyakit menular ini.

Lilik mengatakan, masyarakat yang datang untuk berkonseling ke klinik dijamin kerahasiaannya jika memang dalam pemeriksaan lanjutan diketahui positif terjangkit."Bila perlu pengobatan rutin akan dilakukan, ya minimal bisa dilakukan pengobatan untuk mencegah peningkatan dari HIV ke AIDS," harap Lilik.

Lilik menyebutkan, di klinik VCT RSU Cepu yang dibuka sejak November 2013, jumlah pengunjung sebanyak 16 orang dan dalam pemeriksaan selanjutnya 5 orang diantaranya positif terinfeksi HIV.(ali)

... selengkapnya
110 Warga Sragen Terjangkit HIV & AIDS
ditulis pada 27 2014

Dinas Kesehatan (Dinkes) Sragen, memperketat pengawasan terhadap tiga lokasi yang diduga sebagai tempat prostitusi terselubung terkait maraknya penyebaran penyakit kelamin serta resiko tinggi tertular virus HIV/AIDS.

Ada empat lokasi yang dinilai rawan terjadi penyebaran penyakit kelamin dan berisiko tinggi virus HIV/AID di wilayah Sragen. Tiga lokasi itu yakni kompleks wisata ritual Gunung Kemukus di Sumberlawang, Wisata pemandian air panas Bayanan Sambirejo, kompleks pasar Joko Tingkir Sragen kota, dan lokalisasi Mbah Gajah Sambungmacan.

Kasi Pengendalian Penyakit dan Pengawasan Lingkungan (P2PL) Dinkes Sragen, Retno DK menyebutkan, sampai saat ini pengawasan terhadap penularan penyakit menular sangat  sulit dilakukan.

Sebab mayoritas pekerja seks komersial (PSK) pendatang dan tidak berdomisili di lokasi lingkungan risiko tinggi itu. Mereka  sering  berpindah tempat, bahkan ketika diketahui ada yang terdeteksi suatu penyakit mereka melarikan diri sehingga sulit terpantau oleh Dinkes.

"Bahkan mereka yang terdeteksi penyakit dan berisiko penularan, saat dilakukan pemeriksaan rutin langsung kabur melarikan diri," jelasnya kepada wartawan di Sragen Jawa Tengah Rabu (5/2/2014).

Lebih lanjut Retno mengungkapkan, Dinkes Sragen melalui petugas Pengendalian Penyakit dan Pengawasan Lingkungan (P2PL), yang secara  rutin melakukan pemeriksaan kesehatan di sejumlah lokasi yang tersebar di beberapa titik tersebut.

Namun  petugas P2PL sering mengalami kendala untuk memantau perkembangan kesehatan para wanita PSK. Pasalnya setiap pemeriksaan, orangnya selalu berganti-ganti. Sehingga menyulitkan petugas untuk mendata dan memantaunya.

"Setiap bulan kami rutin pemeriksaan kesehatan. Tapi kendalanya, orang yang diperiksa selalu berganti-ganti," jelasnya lebih lanjut.

Untuk mengantisipasi penularan penyakit kelamin, Dinkes Sragen sudah  mendirikan pos pemeriksaan kesehatan bagi PSK di Kemukus.

"Sedangkan untuk tempat lain, kami menjadwalkan secara rutin, minimal satu bulan sekali," ungkapnya.

Menurut data yang dimiliki Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Sragen, sebanyak 110 warga Sragen diketahui mengidap virus HIV/AIDS.

Sekretaris KPAD Sragen, Haryoto menyebutkan dari  jumlah tersebut terdiri dari 80 orang mengidap AIDS dan 30 orang tertular HIV. Bahkan 47 orang telah meninggal akibat HIV/AIDS.

"Penderita HIV/AIDS terbanyak berada di Kecamatan Sidoharjo dan Sumberlawang. Yang terjangkit virus mematikan itu rata-rata usia 20-40 tahun," pungkasnya.

... selengkapnya
Awal 2014, Dinkes Temukan 3 Kasus HIV & AIDS di Kabupaten Pekalongan
ditulis pada 27 2014

Memasuki awal tahun 2014 ini, tepatnya hingga 27 Januari lalu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pekalongan menemukan tiga kasus HIV/AIDS di daerah berjuluk Kota Batik itu. Tiga kasus tersebut ditemukan di Kecamatan Wiradesa, Wonokerto dan Siwalan yakni dua laki-laki dan satu ibu rumah tangga.

Ditemukannya kasus baru ini, menambah jumlah pengidap HIV/AIDS yakni dari 100 kasus
menjadi 103 kasus.

Untuk itu, Dinkes meminta masyarakatnya mewaspadai ancaman penyakit HIV/AIDS. Karena, kemungkinan besar masih banyak warga Kabupaten Pekalongan yang kena panyakit itu namun belum teridentifikasi.

"Kemungkinan masih ada ratusan penderita yang belum ditemukan, hal itu memicu penularan penyakit lebih luas." kata Kasi Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Pekalongan, Suwondo, Selasa (25/2/2014).

Dinkes berupaya menemukan penderita yang masih banyak dengan membuka konseling atau keluhan di rumah sakit umum daerah setempat.

Hingga akhir tahun 2013, kasus HIV/AIDS yang ditemukan mencapai 100 pengidap, yakni meliputi 42 orang pengidap HIV dan 58 pengidap AIDS. Dari kasus tersebut, 60 % di antaranya berakhir dengan kematian.

Berdasarkan data dari dinkes, hampir semua Kecamatan di Kabupaten Pekalongan terdapat kasus tersebut. Hanya ada dua kecamatan yang tidak masuk dalam peta merah kasus HIV/AIDS. Yakni di Kecamatan Doro dan Lebakbarang.

Meski begitu, bukan berarti tidak ada kasus HIV/AIDS di dua kecamatan tersebut.  "Hanya saja kami belum menemukannya," kata Suwondo.

Sementara, kasus terbanyak ditemukan di Puskesmas Karanganyar, yakni mencapai 18 pasien.

Suwondo menambahkan, cara penularan virus ini, bisa melalui hubungan seks berisiko, baik lewat vaginal maupun anal (malalui anus), transfusi atau pembauran darah, atau lewat jarum suntik yang dipakai secara bergantian, serta Mother-to-child transmission (MTCT).

"Dengan ibu pengidap AIDS dapat menularkan penyakitnya kepada bayi selama dalam kandungannya maupun saat kelahiran, atau lewat ASI. Sekali ketularan, seumur hidup bisa menularkan," katanya.

Sampai saat ini,  belum ada obat yang bisa menyembuhkan. Akan tetapi, dengan mengkonsumsi obat Anti Retro Viral (ARV), dapat menghambat berkembangbiaknya virus di darah bagi pengidap.

Pihaknya juga gencar melakukan sosialisasi untuk menurunkan jumlah kasus. Seperti ke sekolah, perkumpulan ibu PKK, serta ke lokalisasi. Setidaknya hal itu dilakukan tiga bulan sekali. "Kami juga menyebar kondom ke tempat dengan risiko tinggi yakni di lokalisasi," katanya.

... selengkapnya
<< 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 >>