• Terdapat penambahan fitur baru pada www.aidsjateng.or.id yaitu 'TV Spot KPAP'
  • SK Pembentukan KPA Kab/Kota, bisa di download pada menu direktori
  • Data Kasus HIV dan AIDS sampai dengan 31 Desember 2014 adalah 10.804 kasus
  • Sudah Ada 35 KPA Kab/Kota di Jawa Tengah

Online News

HIV & AIDS tulari ibu rumah tangga biasa di Solo
ditulis pada 01 2010

Semarang: 

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir,  447 orang di Solo, Jawa Tengah, terjangkit HIV/AIDS, dan 137 orang di antaranya meninggal dunia. Solo pun termasuk dalam kategori kota rawan penyebaran HIV/AIDS, karena penyakit mematikan itu sudah menulari ibu rumah tangga biasa.

“Ibu-ibu rumahan juga mulai dijangkiti HIV,” ungkap Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kota Surakarta, Harsoyo Supodo, Kamis (21/10).

Menurutnya, yang lebih mengejutkan lagi adalah dalam dua bulan terakhir ada tiga orang ibu rumah tangga terinveksi HIV. Proses temuan bermula dari sosialisasi pencegahan HIV/AIDS di kalangan ibu-ibu PKK di sebuah kampung. Lalu secara iseng, ibu-ibu tersebut melakukan tes dan hasilnya positif terjangkit virus HIV.

“Temuan ini mengagetkan karena ketiga ibu rumah tangga tersebut tidak termasuk dalam lingkaran resiko tinggi. Ini sebuah fenomena gunung es cukup mengkhawatirkan,” tambahnya

... selengkapnya
Blora Berikan Pengawasan Khusus Penderita HIV & AIDS
ditulis pada 01 2010

BLORA, SR– Pemerintah Kabupaten Blora, Jawa Tengah, terus melakukan pengawasan khusus kepada penderita penyakit HIV/AIDS di wilayah setempat.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Blora, Edy Widayat, di Blora, Minggu, mengatakan, telah mencatat enam orang warga Blora terjangkit virus mematikan itu.

Dua di antara mereka, katanya, sudah meninggal dunia, sedangkan empat orang dinyatakan dalam pengawasan khusus.

“Sejak 2002, di Blora selalu ditemukan warga baru yang terjangkit penyakit mematikan tersebut, sekarang ini ada empat orang penderita dalam pengawasan Dinkes, di antaranya harus melakukan cek kesehatan, memberikan obat yang mampu meredakan penyakitnya, dan disarankan untuk menjaga kebersihan,” katanya. Ia mengatakan, upaya Dinkes untuk menekan jumlah warga yang terjangkit HIV/AIDS terus dilakukan.

Namun, katanya, berdasarkan laporan dan pengakuan warga yang terjangkit, bertambahnya penderita justru datang dari luar Blora.

“Sebelum sakit, mereka itu warga asli Blora yang merantau ke luar daerah, ketika sakit, mereka pulang ke Blora, sehingga kesimpulan kami, virus yang menyerangnya itu didapat dari luar Blora,” ujarnya. Untuk memastikan apakah seseorang terjangkit HIV/AIDS atau tidak, katanya, warga Blora disarankan memeriksakan diri ke klinik “voluntary clinik test” (VCT) di Rumah Sakit Dr. R. Soetijono Blora.

“Dari klinik itulah dapat diketahui bahwa seseorang itu terjangkit penyakit HIV/AIDS atau tidak, kalau misalnya terjangkit segera diberi pengarahan untuk pengobatan secara rutin,” katanya. Upaya lain yang dilakukan Dinkes, kata dia, melalui sosialisasi dan pencegahan.

Salah satunya, katanya, survei di sejumlah tempat seperti di rumah tahanan dan lokalisasi, dengan cara mengambil contoh darah dari mereka. “Untuk memastikan selanjutnya di tes di laboratorium,” katanya.

Menurut dia, fenomena penyakit mematikan tersebut seperti gunung es, karena yang muncul ke permukaan hanya ujungnya saja, sedangkan yang tidak muncul justru lebih banyak dan harus diwaspadai.
“Pemkab mengimbau kepada warga yang merantau keluar kota, agar menjaga kesehatan, jangan melakukan hubungan seks sembarangan dan tidak menggunakan peralatan yang habis digunakan oleh penderita HIV/AIDS,” tambah Edy.(Roes)

... selengkapnya
Pengelola Ajak Warga Manfaatkan Klinik VCT HIV & AIDS
ditulis pada 01 2010

Rembang, 5/10 (ANTARA) – Pengelola Klinik Konseling dan Tes Sukarela (Voluntary Counselling Test-VCT) HIV/AIDS Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, mengajak warga manfaatkan klinik ini untuk ikut membantu memecahkan permasalahan penyakit AIDS dan HIV.

“Datang ke klinik VCT bisa membantu memecahkan permasalahan HIV/AIDS. Sebab, di klinik tersebut pasien akan menjalani perawatan, mendapat dukungan moral, bahkan pengobatan,” kata Wakil Kepala Klinik VCT Rumah Sakit Umum Daerah dr. R. Sutrasno Rembang, dr. Budi Dharmawan di Rembang, Selasa.
Ia menegaskan, pihaknya tetap menjaga kerahasiaan klien sehingga tidak melanggar hak asasi manusia dan tidak ada diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Ajakan itu disampaikan Budi karena hingga Sewptember 2010 jumlah pengunjung Klinik VCT hanya tiga orang. “Jumlah tersebut nampaknya akan sulit bertambah akibat rendahnya kesadaran warga untuk memeriksakan dirinya ke klinik ini,” katanya.

Menurut dia, selain karena rendahnya kesadaran masyarakat datang ke klinik, budaya malu memeriksakan diri atas HIV/AIDS menjadi penyebab sepinya pengunjung Klinik VCT di kabupaten ini.

“Padahal, dengan datang ke klinik, maka akan dapat dipastikan apakah seseorang terjangkit HIV/AIDS atau tidak. Karena, selain konsultasi juga ada tes,” katanya.

Apalagi, jumlah penderita HIV/AIDS di Rembang yang hampir mencapai 10 penderita dalam sembilan bulan terakhir membuat pihaknya waspada dan masyarakat searusnya antusias memanfaatkan VCT.
“Klinik VCT memang baru ada satu di Kabupaten Rembang dan orang yang datang ke klinik itu atas kesadaran sendiri,” katanya.

Dia juga mengatakan, persoalan HIV/AIDS yang ada di Rembang saat ini perlu ada langkah konkret.
“September 2010 lalu, dua orang ibu rumah tangga positif mengidap HIV/AIDS. Dengan kenyataan tersebut, baik kami maupun masyarakat seharusnya lebih perhatian pada HIV/AIDS,” katanya.

... selengkapnya
Penderita HIV AIDS diI Cilacap Meningkat
ditulis pada 01 2010

Kondisi kesehatan masyarakat di Kabupaten Cilacap, khususnya panyakit HIV/AIDS  menurut data yang ada di Komisi Penanggulangan AIDS setempat menunjukan peningkatan yang sangat tajam. Dalam kurun waktu dua tahun terakhir Sampai dengan bulan September tahun 2010 secara kumulatif tercatat sebanyak 236 orang terinveksi HIV dan AIDS. Dari jumlah tersebut, 33 orang diantaranya meninggal dunia.
Terkait dengan hal tersebut, Dewan Pimpinan Daerah  Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD-KNPI) Cilacap, Senin (18/10) di Gedung Jala Bhumi Setda Cilacap menggelar sosialisasi bahaya HIV/AIDS. Sekitar 130 pelajar dan mahasiswa serta sejumlah undangan tampak memenuhi ruangan. Kegiatan yang dibuka Asisten Pemerintahan Sekda Cilacap Drs. Subiharto M.Si tersebut menghadirkan pembicara dari Klinik Infeksi Menular Seksual (IMS) dr. Slamet Yulianto.
Ketua DPD II KNPI Cilacap Khazam Bisri mengatakan, sudah saatnya semua untuk tidak berpangku tangan, karena permasalahan ini bukan hanya menjadi tanggung jawab dari beberapa pihak saja, namun harus menjadi tanggung jawab seluruh komponen masyarakat. Baik pemerintah, swasta, pemuda, tokoh agama, tokoh masyarakat, mahasiswa, pelajar dan elemen masyarakat lainnya. Sebab kata dia, pada dasarnya HIV dapat menginfeksi siapa saja tanpa mengenal usia, jenis kelamin, status sosial ataupun ras.
"Untuk itulah, melalui sosialisasi ini saya mengajak kepada para pemuda  pada khususnya dan seluruh warga masyarakat Kabupaten Cilacap pada umumnya, untuk terus bergandeng tangan dalam memerangi penyebaran virus HIV/AIDS, sehingga penyebaran virus yang mematikan tersebut dapat di tekan, bahkan harapan saya dan harapan kita bersama,  kedepan Kabupaten Cilacap bisa benar-benar terbebas dari virus HIV/AIDS tersebut, tegasnya.
Menurut dr Slamet, Virus HIV menyerang sel CD-4 (sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia, terutama sel-sel limfosit) dan menjadikannya tempat berkembang biak Virus HIV baru, kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi. "Sebagaimana kita ketahui bahwa sel darah putih sangat diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh. Tanpa kekebalan tubuh maka ketika tubuh kita diserang penyakit, Tubuh kita lemah dan tidak berupaya melawan jangkitan penyakit dan akibatnya kita dapat meninggal dunia meski terkena influenza atau pilek biasa,". paparnya.
Ketika tubuh manusia terkena virus HIV tambahnya, maka tidaklah langsung menyebabkan atau menderita penyakit AIDS, melainkan diperlukan waktu yang cukup lama bahkan bertahun-tahun bagi virus HIV untuk menyebabkan AIDS atau HIV positif yang mematikan.
Dijelaskan dr.Slamet ada 4 cara Penularan virus HIV/AIDS yakni, melalui darah misalnya,  transfusi darah, terkena darah HIV+ pada kulit yang terluka, serta jarum suntik.
Kemudian melalui cairan semen, air mani (sperma atau peju Pria). misalnya, seorang pria berhubungan badan dengan pasangannya tanpa menggunakan kondom atau pengaman lainnya, oral sex, dsb. Selain itu, melalui cairan vagina pada Wanita dan melalui Air Susu Ibu (ASI). misalnya ; Bayi meminum ASI dari wanita HIV+, Pria meminum susu ASI pasangannya.

Wabup Cilacap H. Tatto Suwarto Pamuji dalam sambutan tertulis yang dibacakan Asisten I Sekda Drs. Subiharto mengatakan, HIV/ AIDS sebagaian besar menjangkiti orang muda dan mereka yang berada pada umur produktif. Hal tersebut tentunya akan berdampak nyata terhadap sektor perekonomian antara lain,  mengancam ketersediaan dan produktifitas angkatan kerja. HIV/AIDS akan menyebabkan kemiskinan yang semakin parah dan ketidak seimbangan ekonomi.
Karena itu, pihaknya memberi dukungan dalam  mencegah penyebaran epidemi ini menjadi lebih luas lagi. Karena kalau tidak katanya, stigma diskriminasi dan ketidaktahuan akan tetap menjadi kendala bagi upaya penanggulangan penyakit tersebut. "Harapan saya lebih jauh adalah agar kita bersama-sama meningkatkan kepedulian akan permasalahan ini dan berupaya melindungi diri, keluarga serta lingkungan kita dari HIV/AIDS," ucapnya. (keen)

... selengkapnya
Lima TKW Cilacap Pulang Membawa HIV-AIDS
ditulis pada 29 2010

CILACAP, (PRLM).- Lima tenaga kerja wanita (TKW) warga Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah pulang dengan membawa HIV-AIDS. Mereka juga telah menularkan kepada suami-suaminya di rumah. Komisi Penaggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Cilacap juga menemukan lima balita dengan HIV-AIDS karena tertular ibu kandungnya.

Sekretaris Kantor Komisi Penaggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Cilacap Sarjono mengatakan, didugga kelima TKW tertular HIV-AIDS saat bekerja diluar negeri. Setelah pulang mereka menulari penyakit tersebut ke suami suaminya. "Dari sumai kelima wanita itu, tiga orang sudah tertular sementara yang dua suami lainnya masih dalam pemeriksaan intensif," katanya Rabu (29/9).

Kelima wanita eks TKW dinyatakan positif HIV-AIDS sepulang dari luar negeri.Hal itu diketahui setelah mereka memeriksakan diri ke rumah sakit, setelah mereka mengeluhkan kondisi kesehatannya. "Setelah dilakukan pemeriksaan intensif ke lima eks TKW dinyatakan positif. Kemudian pemeriksaan dilanjutkan terhadap suami suami mereka. Ternyata dari lima orang suaminya tiga sudah tertulari," tandas Sarjono.

Fenomena TKW yang selama ini membawa cerita sedih, ternyata dengan temuan tersebut jelas makin memprihatinkan. Ada kemungkinan adanya TKW yang membawa HIV-AIDS pulang ke rumah tidak hanya ditemukan di Cilacap saja, kabupaten lain memiliki potensi yang sama. "KPA terus melakukan pendampingingan eks TKW yang kini sudah dikucilkan keluarga dan masyarakat," jelasnya.

Sarjono menambahkan, selain temuan TKW yang mengidap HIV-AIDS. Temuan terbaru lain adalah adanya lima balita di Cilacap yang positif HIV-AIDS. Mereka tertular langsung dari ibu kandungnya."Mereka terlahir dari ibu berbeda dan bukan eks TKW tapi dari ibu yang pernah urban ke luar daerah, “Namun ke lima balita ini bukanlah anak dari lima orang TKI tadi. Mereka terlahir dari ibu yang berbeda. Ibunya memang dulunya bekerja di luar kota , bukan eks TKW. Kelima balita tersebut juga kini dalam pemantauan KPA”, kata Sarjono.

Peningkatan jumlah orang dengan HIV-AIDS (ODHA) di Cilacap selama setahun terakhir angkanya cukup mencengangkan, pertumbuhannya sangat cepat dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan ODHA tersebut telah mendudukan Cilacap sebagai daerah ranking ke empat se-Provinsi Jawa Tengah sebagai kabupaten terbanyak dengan ODHA. Rangking pertama adalah Semarang, kemudian Banyumas, Solo baru Cilacap.

Pertumbuhan populasi ODHA itu dipicu selain suburnya prostitusi secara liar, narkoba serta yang ketiga adalah HIV/AIDS yang ditemukan dari TKI dan TKW sepulang dari kerja di luar negari.dari luar negeri oleh para TKI. "Data yang saya paparkan adalah yang terungkap, diperkirakan angka riilnya lebih besar dari pada apa yang selama ini kita ketahui," kata Sarjono.

Pengawasan dan penanggulangan ODHA, KPA Cilacap bekerja sama dengan Kantor Dinkes , belum lama ini telah membuat klinik khusus VCT (voluntary and Counseling Testing ) untuk mengetahui dan menangani para penderita HIV/AIDS.

Menurutnya, jumlah ODHA di Cilacap hingga September 2010 tercatat sebanyak 230 ODHA, dari jumlah tersebut, 174 orang terinfeksi HIV, 56 positif AIDS, temasuk lima wanita eks TKI dan lima anak balita. Dari jumlah tersebut, lima di antaranya sudah meninggal dunia
.
Sementara data pada tahun 2009 masih menempatkan Cilacap diurutan ke 12 besar kandungan pengidap HIV-AIDS di Jateng. Pada 2009 , jumlah penderitanya masih 189 orang, terdiri 137 terinfeksi HIV dan 52 orang positif AIDS. (A-99/A-147)

... selengkapnya
Penderita HIV & AIDS di Jateng 2.922 Orang
ditulis pada 11 2010

    *  Peningkatan Sangat Cepat dalam 5 Tahun Terakhir

Batang, CyberNews. Peningkatan kasus HIV/AIDS di Jawa Tengah terjadi sangat pesat dari tahun ke tahun. Sejak 1993 sampai akhir Juni 2010, tercatat ada 2.922 kasus HIV/AIDS dengan korban meninggal sebanyak 406 orang.

Hal disampaikan Sekretaris Komisi Pemberantasan Aids (KPA) Jawa Tengah Ngestiono, dalam Rapat Koordinasi Sub Sub Recipient (SSR) Quartal ke-1 Global Fund Single Stream Fund (GF-SSF), di Hotel Sendang Sari, Rabu (22/9).

"Di Jawa Tengah kasus HIV/AIDS terus mengalami peningkatan. Selain itu perkembangannya juga sangat cepat, terlebih dalam lima tahun terakhir ini. Dari data kumulatif sampai akhir Juni 2010, telah terjadi sebanyak 2.922 kasus," ujarnya.

Dalam pertemuan yang dihadiri KPA dari delapan kabupaten kota ini, Ngestiono meminta agar pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS lebih terarah dan intensif. Pasalnya, penyebaran virus HIV/AIDS di Jateng sekarang ini sudah memprihatinkan.

Dari 2.922 kasus, tercatat penderita HIV sebanyak 1.664 kasus dan AIDS sebanyak 1.258 kasus. Sementara, 406 orang sudah meninggal akibat penyakit mematikan ini.

Delapan kabupaten/kota yang dideteksi rawan menjadi tempat penyebaran HIv/AIDS adalah Kabupaten Batang, Kendal, Banyumas, Cilacap, Tegal, Kabupaten dan Kota Semarang, serta Solo. 

Ia menyatakan, KPA secara nasional telah menerbitkan strategi dan rencana aksi nasional (SRAN) penanggulangan HIV/AIDS 2010-2014. Dengan harapan, bisa merubah jalannya epidemi serta agar tahun 2025 bisa mencegah terjadinya 1,2 juta infeksi baru.

Bersama Global Fund KPA telah menandatangani nota kesepahaman untuk menjalankan program 'Penurunan Kesakitan dan Kematian Terkait HIV dan penguatan Komunitas dan Sistem Kesehatan'.

"Program yang harus dilaksanakan KPA Provinsi dan 8 KPA Kabupaten/Kota seperti program Layanan Alat Jarum Suntik Steril (LJASS), pencegahan melalui transmisi seksual dan program lingkungan kondusif," tuturnya.

Sementara untuk dinas kesehatan melaksanakan program pengobatan, VCT (Voluntary Counseling and Testing), IMS (Infeksi Menular Seksual) CST (Care, Support, and Treatment) serta penguatan sistem kesehatan.

Pelaksana Tugas (Plt) Sekda Batang Susilo dalam sambutannya menyatakan, di Batang telah terjadi peningkatan epidemik HIV/AIDS yang signifikan. Menurut dia, jumlah total penderita HIV/AIDS di Batang cukup tinggi dengan total 107 orang penderita.

"Itu merupakan data yang terpantau. Sedangkan yang tidak terpantau, jumlahnya sangat mungkin lebih banyak," katanya.

( Trisno Suhito /CN26 )

... selengkapnya
Penderita HIV& AIDS di Banyuputih Capai 75 Orang
ditulis pada 11 2010

    * 85 Persen WPS Terkena IMS

Batang, CyberNews. Jumlah penderita  AIDS di Batang terus bertambah. Klinik IMS/VCT Banyuputih kembali menemukan satu orang yang positif terkena AIDS. Dengan demikian, maka jumlah total penderita HIV/AIDS di Banyuputih sejak Maret 2007 sampai Oktober 2010 sudah 75 orang. Sebanyak  11 orang di antaranya yang positif AIDS telah meninggal.

"Oktober ini satu lagi ditemukan dari penemuan klinik Banyuputih. Jadi total sudah ada 75 orang," kata Manager Klinik IMS-VCT Klinik Banyuputih, Dr Ratna Westri Erika, Minggu (10/10).

Ia menyebutkan, satu orang penderita ini bukanlah wanita pekerja seks (WPS) yang bekerja di lokalisasi Banyuputih. Namun, warga Batang yang berdagang di Jakarta. Ia datang ke klinik Banyuputih dengan kondisi sudah mengalami deman, diare dan berat badannya menurun drastis.

"Karena sakit-sakitan dia pulang. Datang ke klinik sudah positif AIDS," kata dia.

Ratna menambahkan, pihaknya akan melakukan pendampingan terhadap penderita AIDS ini yang akan dilakukan manajer kasus (MK). Klinik juga akan melakukan pemeriksaan kembali, untuk bahan pertimbangan pemberian obat Antiretroviral (ARV) kepada penderita yang sudah positif ini.

"ARV obat yang berfungsi mengendalikan perkembangan virus di dalam tubuh penderita," jelas dia.

Ratna menyatakan, penyebaran virus HIV/AIDS sudah sangat mengkhawatirkan di Batang, termasuk di Banyuputih. Ia menjelaskan, penderita HIV/AIDS di Banyuputih bukan hanya penghuni lokalisasi, tapi sudah menyebar ke ibu rumah tangga, anak-anak, gay, waria, bahkan masyarakat umum.

Hasil pemeriksaan infeksi menular seksual (IMS) yang dilakukan pada Kamis (7/10), juga mencengangkan. Dari 54 orang WPS yang diperiksa, mayoritas terkena IMS. "46 orang atau 85 persen positif IMS. Rata-rata penyakit servisitis atau penyakit infeksi saluran vagina dan BV (bacterial vaginosis)," kata dia.

Ketua Paguyuban Lokalisasi Banyuputih Darmiko menyatakan, saat ini di lokalisasi Banyuputih ada 55 WPS yang beroperasi. Kebanyakan dari Kecamatan Bandar dan Kabupaten Pemalang, selebihnya dari kota-kota lain. Ia mengaku pihaknya sudah berusaha agar WPS mau untuk memeriksakan diri melalui klinik IMS/VCT demi mencegah penyebaran HIV/AIDS.

"Hampir 60 persen dari Batang. Kalau yang tidak mau periksa, dikenakan sanksi. Kalau perlu diusir," tukas dia.

( Trisno Suhito /CN16 )

... selengkapnya
Ibu rumah tangga risiko tertinggi HIV/AIDS
ditulis pada 11 2010

Solo (Espos)–Risiko tertinggi penderita HIV/AIDS kini telah bergeser dari wanita pekerja seks (WPS) menjadi ibu rumah tangga. Hal tersebut muncul dalam hasil pendataan terbaru Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Solo pada September tahun ini.

Berdasarkan data KPAD, jumlah total penderita HIV/AIDS di Kota Bengawan pada 2010 sebanyak 447 orang. Sebanyak 187 orang tercatat sebagai penderita HIV sementara 260 orang lainnya menderita AIDS. Dari jumlah itu, 80 orang di antaranya tercatat sebagai ibu rumah tangga sementara yang profesinya WPS hanya 39 orang.

Manager program LSM Mitra Alam, Ligik Triyoga menuturkan awalnya yang paling berisiko tertular HIV/AIDS adalah kaum WPS. Namun demikian seiring berjalannya waktu, risiko tertular beralih kepada ibu rumah tangga. “Berdasarkan data yang ada pada kami, memang yang paling berisiko terkena HIV/AIDS justru yang dulunya paling tidak berisiko yakni ibu rumah. Yang menjadi penyebab apa, berdasarkan pantauan kami karena kebanyakan suaminya adalah pengguna narkoba suntik yang kemudian menularkan penyakit itu kepada isteri mereka di rumah,” ujarnya kepada komisi IV dalam dengar pendapat yang digelar Jumat (8/10).

Keterangan senada disampaikan perwakilan dari Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (Spekham), Rahayu. “Wajar sekarang ini apabila kalangan yang paling rentan tertular HIV/AIDS adalah ibu rumah tangga. Sekarang coba dihitung, apabila 150 orang WPS melayani dua orang tamu dalam satu hari maka 300 orang ini rentan membawa HIV/AIDS ke rumah atau ke isteri mereka,” ujarnya.

Itu hanya hitungan dalam satu hari yang dipastikan akan makin membengkak jumlahnya dalam hitungan pekan bahkan bulan dan tahun.
Terkait perubahan kalangan yang berisiko tertular HIV/AIDS, Rahayu menuturkan, KPAD maupun sejumlah LSM telah membuat langkah antisipasi di antaranya dengan menggalakkan sosialisasi mengenai bahaya HIV/AIDS kepada para pekerja seks yang berpraktik di salon, tempat pijat maupun hotel. Tak hanya sosialisasi, Rahayu menuturkan, pihaknya juga mendorong adanya perubahan perilaku sehingga perilaku seks yang menyimpang bisa diminimalisasi.

Menjadi persoalan pihak yang konsen terhadap penanggulangan HIV/AIDS di antaranya Spekham, KPAD maupun Mitra Alam, menurut Ligik Triyoga, karena selama beberapa tahun ini Kota Solo sangat bergantung kepada bantuan dari luar negeri. “Yang menanggung biaya penanggulangan hingga pengobatan penderita HIV/AIDS sekarang ini kebanyakan funding dari luar negeri. Dengan keberadaan mereka, kita aman sampai lima tahun ke depan. Namun sesudah itu nasib kita bagaimana, belum tahu,” ujarnya.

Oleh sebab itu, Ligik meminta kalangan legislatif memperhatikan penganggaran untuk penanggulangan dan pengobatan penderita HIV/AIDS. Pasalnya, tercatat dana untuk penanggulangan HIV/AIDS untuk KPAD hanya senilai Rp 75 juta per tahun.

... selengkapnya
<< 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 >>