• Terdapat penambahan fitur baru pada www.aidsjateng.or.id yaitu 'TV Spot KPAP'
  • SK Pembentukan KPA Kab/Kota, bisa di download pada menu direktori
  • Data Kasus HIV dan AIDS sampai dengan 31 Desember 2014 adalah 10.804 kasus
  • Sudah Ada 35 KPA Kab/Kota di Jawa Tengah

Online News

Perlu Penanganan Serius, Ledakan AIDS di Indonesia
ditulis pada 16 2010

REPUBLIKA.CO.ID,PADANG--Ledakan kasus AIDS di Indonesia perlu penanganan serta penanggulangan lebih serius dari berbagi pihak."Terjadinya ledakan kasus AIDS di seluruh kota/kabupaten di Indonesia saat ini perlu ditangani lebih serius lagi," kata Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, di Padang, Rabu.

Menurut dia, saat ini sebanyak 21.770 kasus AIDS terjadi di seluruh kota/kabupaten Indonesia. Kasus tersebut merupakan ancaman yang sangat serius."Kasus AIDS yang terjadi di seluruh kota/Kabupaten di Indonesia sebanyak itu dihitung hingga 30 Juni 2010," katanya.

Dia menambahkan, rata-rata penderita kasus AIDS tersebut berusia 20 tahun hingga 29 tahun mencapai 37,2 persen."Sedangkan penderita AIDS yang berusia 40 hingga 49 tahun hanya mencapai 11,8 persen saja,"katanya.

Dia mengatakan, dari kasus AIDS tersebut, jumlah perbandingan penderita AIDS laki-laki dan perempuan sebesar tiga berbanding satu."Saat ini sudah ada pergeseran pola penyebaran AIDS, penyebaran terbesar terjadi lewat hubungan seks, bukan lagi jarum suntik," katanya.

Menurutnya, jumlah penderita AIDS dari seluruh Indonesia yang terbanyak di Provinsi Papua diikuti daerah Bali, kemudian DKI Jakarta."Sedangkan penderita HIV yang dominan yakni DKI Jakarta mencapai 9.804, Jawa Timur mencapai 5.973,"katanya.

Dia menambahkan, penyadaran dan pendampingan terhadap penderita HIV/AIDS perlu terus ditingkatkan, agar jumlah mereka dapat diminimalkan."Minimal kita dapat memberikan konseling dan bimbingan terhadap mereka tentang pentingnya kesadaran untuk mau berobat secara teratur, dan menyebarkan hal itu kepada penderita lainnya," katanya.

... selengkapnya
29% Siswa SMA Ngeseks Pranikah
ditulis pada 01 2010

MALANG – Mencengangkan.Kasus berhubungan intim di luar nikah ternyata semakin marak.Ironisnya,tidak sedikit pelakunya adalah mereka yang masih duduk di bangku sekolah.

Berdasarkan hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang, sebanyak 29% siswa setingkat SMA (SMA/ SMK/MA),sudah biasa melakukan seks sebelum nikah. ”Dari 404 orang siswa yang kami jadikan sampel untuk penelitian, sebanyak 29% yang pernah melakukan hubungan seks pranikah atau seks bebas.

Angka ini kami peroleh dari penelitian terhadap berbagai siswa SLTA di delapan kecamatan,” papar Hasan Abadi, mitra Balitbang dari CV Orbit Nusantara,saat melakukan presentasi kepada delapan camat di ruang Karthanegara Pemkab Malang kemarin. Dia mengungkapkan, delapan kecamatan tersebut antara lain Kepanjen, Singosari,Turen, Lawang, Karangploso, Gondanglegi, Sumberpucung, serta Kecamatan Dau.

Responden yang paling banyak mengaku pernah melakukan hubungan seks di luar nikah ada di Kecamatan Kepanjen. Dari total responden,sebanyak 116 siswa menyatakan pernah melakukan hubungan seks pranikah. Sementara sisanya 287 siswa atau 71%,mengaku belum pernah melakukan perbuatan asusila itu. Dari 116 siswa pelaku seks pranikah, mereka mayoritas melakukan seks dengan pacarnya.

Sementara sebanyak 21% mengaku melakukan perbuatan terlarang itu dengan orang lain yang tidak ada hubungan apapun alias bukan pacar. ”Ini mulai dari selingkuhan karena materi, serta hubungan suka sama suka, tapi bukan pacar,” urainya. Tidak berhenti di situ, dari jumlah siswa yang melakukan seks pranikah, sebanyak 65% merupakan siswa perempuan.

Ironisnya, mereka ada yang mengaku pernah diperkosa hingga akhirnya ketagihan sehingga melakukan seks pranikah berulang-ulang.Ada juga di antara mereka yang melakukan hubungan seks dengan pacar yang sudah bekerja atau sudah kuliah. Sementara untuk kasus HIV/ AIDS, hasil penelitian menyebutkan, dari delapan kecamatan tersebut kasus terbanyak ada di Kecamatan Gondanglegi.

Data per April 2010, ada 120 siswa di Kecamatan Gondanglegi yang melakukan seks bebas dan memakai narkoba sehingga sangat rentan terjadi penularan HIV/AIDS. Dari hasil penelitian tersebut juga disebutkan bahwa siswa kebanyakan mengaku memperoleh informasi mengenai seks dari internet. Kebanyakan mereka menonton video porno di internet dengan mendatangi warung internet yang sudah menjamur di Kabupaten Malang.

Sementara untuk pengetahuan tentang HIV/AIDS, mereka banyak memperolehnya dari media massa. ”Faktor mengetahui dari orang tua hanya 1% dalam informasi seks dan HIV ini.Padahal, peran orang tua amat penting dalam mendampingi atau memberikan pendidikan seks yang baik bagi anak,”papar Hasan.

Sementara itu, Sekretaris Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Kabupaten Malang Adi Purwanto menuturkan,perlu ada kurikulum lokal di sekolah mengenai pendidikan bahaya seks bebas dan HIV/AIDS.”Ini perlu diberikan kepada siswa karena pendidikan seks dan HIV/AIDS sangat minim diperoleh siswa.

Padahal, pendidikan seks dan bahaya HIV/AIDS sangat penting bagi siswa,”ungkapnya. Selama ini pendidikan seks dianggap sangat tabu dibicarakan. Padahal, jika siswa mengetahui bahaya seks bebas mampu mencegah penularan HIV/AIDS. (zia ulhaq)

... selengkapnya
Agar Penderita HIV AIDS Panjang Umur
ditulis pada 01 2010

Jakarta, Meski penyakit ini belum bisa diobati, penderita HIV AIDS masih bisa optimistis menjalani hidupnya. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan penderita HIV agar umurnya panjang.

Pada kebanyakan kasus memang setelah dinyatakan positif terkena HIV ada masa 5-10 tahun virus ini benar-benar bisa 'melumpuhkan' penderitanya. Tapi banyak pula penderita HIV AIDS yang bisa berumur panjang.

Caranya selain melakukan terapi ARV (Antiretroviral) seumur hidup dan tepat waktu juga melalui asupan gizi yang baik dan tepat.

"Asupan gizi yang baik pada ODHA bisa membantu tubuh untuk membangun sel kekebalan tubuh yang dikenal dengan sel CD4," ujar Dr Paul F Matulessy MN, PGK, DSpGK dalam acara temu media dan buka bersama Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi DKI Jakarta di Jakarta, Selasa (31/8/2010).

Gizi terdiri dari dua jenis yaitu kelompok makro nutrien yang terdiri dari karbohidrat, protein dan juga lemak. Dan satu lagi kelompok mikro nutrien yang terdiri dari vitamin, mineral dan air.

Setiap makronutrien yang masuk ke dalam tubuh akan diubah menjadi kalori, misalnya 1 gram karbohidrat dan protein akan menghasilkan 4 kalori, sedangkan 1 gram lemak menghasilkan 9 kalori.

Dr Paul menuturkan bahwa ODHA tidak meninggal karena virus yang ada di tubuhnya, melainkan karena adanya IO (infeksi opportunitis).

IO ini akan muncul jika seseorang memiliki nilai CD4 yang rendah, sehingga salah satu cara untuk mencegah IO atau menjaga kekebalan tubuhnya adalah dengan mengonsumsi asupan gizi yang baik.

IO sendiri adalah infeksi-infeksi yang sebenarnya tidak membuat seseorang sakit, atau pada orang yang sehat infeksi ini mungkin tidak berbahaya. Tapi bagi ODHA infeksi-infeksi ini bisa berbahaya dan IO bisa membuat status gizi seorang ODHA menjadi semakin rendah.

Pada ODHA, jika asupan gizinya baik maka akan memberikan kesempatan bagi tubuh untuk membangun kembali CD4 sehingga sistem kekebalan tubuhnya akan meningkat.

Nilai CD4 yang tinggi akan membuat seorang ODHA sehat dan tidak terlihat seperti orang yang sakit. Selain itu dengan nilai CD4 yang tinggi akan membuatnya terhindar dari IO.

"Asupan kalori pada ODHA berbeda dengan orang sehat, terutama jika ia memiliki IO. Karena setiap 1 IO yang dimilikinya, maka ia harus menambahkan 5-10 persen dari asupan kalori yang dibutuhkannya dalam satu hari," ungkap dokter spesialis gizi klinis di RS UKI.

Dr Paul menuturkan gabungan antara penggunaan ARV yang teratur dan tepat waktu dengan asupan gizi yang baik harus dilakukan terus menerus. Karena ARV akan mencegah virus masuk ke dalam sel CD4 sedangkan makanan bergizi akan membantu tubuh membentuk CD4 lebih banyak.

Sementara itu dr Aritha Herawati selaku Kepala Bidang Terapi rehabilitasi di KPA Provinsi DKI Jakarta menuturkan ada 5 prinsip ODHA, yaitu:
1.    Mengubah perilakunya menjadi lebih baik, seperti kurangi begadang dan berhenti merokok.
2.    Mengubah pola makan yaitu dengan mengonsumsi makanan yang bergizi.
3.    Mengonsumsi ARV secara teratur dan tepat waktu.
4.    Melakukan penanganan terhadap infeksi dengan baik, jika menemukan adanya infeksi maka segera berobat.
5.    Dukungan dari keluarga dan juga masyarakat sekitar, dalam hal ini masyarakat harus mengerti dan mensupport ODHA sehingga tidak perlu ada stigma.

... selengkapnya
Belajar Isu AIDS
ditulis pada 01 2010

Bangsa Indonesia sebagai salah satu bangsa besar di dunia dan tidak terbentuk dalam waktu sekejap. Bangsa Indonesia memerlukan waktu ratusan tahun atau bahkan ribuan tahun. untuk dapat menjadi bangsa Indonesia seperti saat ini. Wilayah nusantara yang terdiri atas ribuan pulau jelas memiliki sejarahnya sendiri-sendiri.
Ada proses yang berbeda pada tiap wilayah dalam menciptakan kebudayaan dan karakteristik masyarakat. Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau telah meninggalkan jejak-jejak sejarah dan menjadi guru paling berharga dalam kehidupan.
Pada saat yang sama dunia pendidikan Indonesia semakin terlihat kelemahannya. Ketika menghadapi era globalisasi, di mana dituntut manusia-manusia yang lebih matang  dengan IPTEK dan spiritualitas kejiawaannya. Buruknya pendidikan dan sistim monopoli pendidikan membuat bangsa Indonesia semakin terseok-seok untuk maju ke depan. Jika sekolah dan perguruan tinggi memang berfungsi untuk mencetak manusia-manusia berkualitas, mengapa lulusannya banyak yang hanya menjadi pengangguran, pekerja kasar, dsb?
Sistem pendidikan di Indonesia memang menitik beratkan kepada pencetakan pekerja. Tidak ada mata-pelajaran wira usaha, kepemimpinan, dan manajemen, kreatif bahkan dibanyak sekolah kejuruan tertentu dan fakultas tertentu.
Begitu pula dengan bidang HIV dan AIDS, faktanya di lapangan, sistem pendidikan Indonesia kurang mampu mencetak manusia yang menanggulangi epidemi AIDS saat ini. Apakah Indonesia memang kekurangan orang-orang cerdas yang mampu memimpin pendidikan Indonesia ke arah kemajuan? Ataukah sesungguhnya Indonesia punya banyak orang-orang cerdas seperti itu, namun pemimpin-pemimpin negara ini tidak mau menggunakan mereka? Singkat kata, kebutuhan mengenai pendidikan berbasis realitas menjadi sangat penting sebagai aplikasi dari pembelajaran teoritis.
Hal ini menjadi tantangan bagi kita semua, sebuah pengorganisasian melanggengkan budaya lama harus dituntuhkan. JOTHI ingin sekali bisa membagi apa saja yang dapat dipelajari dalam penanggulangan AIDS. Sebagai organisasi orang terinfeksi HIV penting bagi JOTHI untuk dapat meningkatkan upaya pencegahan infeksi baru dan penyelamatan kehidupan dalam penanggulangan AIDS yang berbasis kemanusiaan.
Kita memang menginginkan kemajuan bagi bangsa ini, kita dapat mulaii untuk meningkatkan kualitas diri dan teman-teman., ajaklah mereka dalam forum akademik. Ajak teman-teman untuk terjun di masyarakat, mengurusi pendidikan dan perlindungan sosial. Mari ajak para pemimpin berbuat baik sesuai dengan tujuan  awal kepemimpinannya, berikan pertanyaan-pertanyaan dan saran-saran membangun dalam sesi diskusi. Bukankah itu lebih kongkrit dan lebih Indonesia?

... selengkapnya
Diduga HIV & AIDS, Waria Tewas
ditulis pada 01 2010

Kantongi Kartu Yayasan Srikandi Sejati

Rastum Warsina alias Shelly, 31, wanita pria (waria) yang diduga terinfeksi virus Human Immunodeficiency Virus (HIV)/Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) ditemukan warga RT 05/RW 08 Kelurahan Tanjungsengkuang tewas di tempat duduk pangkalan ojek Sahabat, yang berada dekat perumahan setempat sekitar pukul 06.00 WIB, kemarin (24/8).

Dari data yang diperoleh, waria yang diduga terinfeksi HIV/AIDS itu mengantongi kartu identitas anggota Yayasan Srikandi Sejati, Jakarta dengan kode Kelompok Dukungan (KD), dalam program pencegahan dan penanggulangan infeksi menular seksual (IMS) dan HIV/AIDS.

Mayat waria kelahiran Cirebon, Jawa Barat itu ditemukan bersama sebuah tas hitam berukuran kecil bersama satu buah kaos warna biru, sebuah celana dalam, dompet, dan uang sebanyak kurang lebih Rp30 ribu serta sejumlah dokumen. Termasuk secarik kertas bertuliskan bahasa Malaysia, yang berisi tentang bagaimana menawarkan lelaki hidung belang asal Malaysia untuk diajak kencan.

Pengelola program komisi penanggulangan AIDS (KPAD) Batam, Dewi ketika dikonfirmasi mengatakan, kepemilikan kartu KD bagi para waria itu menunjukkan bahwa yang bersangkutan pernah melakukan konseling dan mengarah pada terinfeksinya penyakit mematikan tersebut.

Namun hal itu belum bisa dipastikan, sebelum adanya keterangan resmi dari dokter yang berwenang. ”Dia (korban, red) pernah mengikuti program upaya penanggulangan AIDS,” ujar Dewi kepada Batam Pos, kemarin (24/8).

Hal ini juga disampaikan Rina Dwi Lestari, ketua KPAD Provinsi Kepri. Menurut dia, salah satu ciri penderita HIV/AIDS adalah terdapat keputihan berbentuk jamur pada bibir termasuk adanya sejumlah bekas luka pada kulit dan berat badan yang turun secara drastis dalam waktu cepat.

Dari foto-foto korban yang disimpan dalam dompetnya, tubuh waria itu pada tahun 2006 lalu sangat gemuk dan berotot. Sedangkan, saat ini kondisinya sangat kurus.

Rina dan Dwi tidak menampik jika korban tertular HIV/AIDS namun penyebab kematiannya belum bisa dipastikan apakah akibat penyakit tersebut atau bukan. Hal ini juga disampaikan Enjel, Ketua Himpunan Waria Batam (Hiwaba).

Enjel mengaku mengenali korban. Namun, kata dia, Rastum Warsina alias Shelly bukan salah satu anggota Hiwaba Batam, karena tidak memiliki kartu anggota Hiwaba. Ia juga tidak menafikan, jika korban terinfeksi HIV/AIDS selama ini.

Korban, kata Enjel, pernah tinggal di Seraya dan tidak pernah melakukan rutinitas tes kesehatan khususnya HIV/AIDS selama ini. ”Dia itu waria liar, karena tidak terdaftar sebagai anggota Hiwaba,” ujar Enjel saat dikonfirmasi Batam Pos, kemarin.

Ia mengatakan, kurang lebih 500 waria tersebar di Batam. Sayangnya hanya sekitar 80 orang saja yang menjadi anggota Hiwaba dan mendapat perlindungan dari yayasan yang ia pimpin, jika waria mendapat masalah.

Sementara itu, Kasat Reskrim Poltabes Barelang Kompol Christian Tory mengatakan dari hasil pemeriksaan sementara, tidak terdapat adanya tanda kekerasan fisik pada tubuh korban. Ia menduga, korban tewas akibat menderita penyakit yang belum diketahui pasti. ”Tak ada tanda kekerasan fisik. Korban diduga meninggal karena sakit,” ujar mantan Kabag Ops Polresta Tanjungpinang tersebut.

Christian mengatakan, korban tidak dikenali oleh warga setempat saat ditemukan. Jenazah korban masih di rumah sakit Otorita Batam dan hasil visumnya belum diperoleh terkait penyebab kematiannya. (WILLIAM)

... selengkapnya
Banyak ODHA Aktif Menjaja Seks
ditulis pada 01 2010

Pemerintah Coba Kendalikan dengan Pelatihan UKM

SAMARINDA - Penularan Human Immunedeficieny Virus (HIV), penyebab Acquired Immune Deficiency Syindrome (AIDS) di Kaltim, dari tahun ke tahun terus meningkat. Situasi epidemi seperti ini berpotensi menihilkan upaya pembangunan nasional, karena mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat. Sudah banyak keluarga ODHA (orang dengan HIV/AIDS) semakin miskin, karena hartanya terkuras oleh biaya berobat dan lainnya.

Lebih mengkhawatirkan lagi, banyak ditemukan ODHA semakin aktif menjaja seks karena tidak memiliki pekerjaan lain untuk kebutuhan sehari-harinya. Berdasarkan pemantauan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kaltim, banyak di antara ODHA ingin meninggalkan kebiasaan buruknya. Tetapi mereka kesulitan, karena terkait mental berusaha, modal usaha, minimnya keterampilan berusaha. Di sisi lain, stigma (cap buruk) dan diskriminasi terhadap pengidap HIV/AIDS masih membayangi pikiran mereka.

KPAD menyesalkan adanya beberapa pengusaha yang tidak memperbolehkan pengidap HIV/AIDS bekerja di perusahaannya. Perlakuan semacam itu bertentangan dengan keputusan Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Nomor 68/2004 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS di Tempat Kerja. Di sana disebutkan larangan mendiskriminasikan pengidap HIV/AIDS.

Pemerintah pusat melalui KPAN telah mencanangkan program dukungan bagi ODHA. Khususnya bagi ODHA penjaja seks agar mampu meningkatkan taraf hidupnya dengan mengembangkan usaha yang baik, dan meninggalkan perilaku yang membuatnya menderita HIV/AIDS.

Program tersebut dirancang untuk membantu meningkatkan keterampilan sekaligus membuka kesempatan bagi ODHA untuk mandiri secara ekonomi. Program seputar Usaha Kecil Menengah (UKM) ini menyediakan pelatihan keterampilan dalam mengelola usaha secara berkelompok. Pelatihan tersebut seperti dilaksanakan di Kantor Badan Kesehatan Olahraga dan Mata (BKOM) Kaltim, 11-13 Agustus lalu yang diikuti 10 ODHA di Samarinda.

“Kami tidak hanya menyediakan tenaga pelatih untuk meningkatkan keterampilan dalam mengembangkan kewirausahaan, dan manajemen usaha kecil bagi ODHA. Tetapi, juga disiapkan bantuan dana bergulir sekitar Rp 15 juta sampai Rp 20 juta per kelompok,” kata Sekretaris Harian Pelaksana KPAD Kaltim Abdul Syahran, yang juga pimpro Global Fundation Wilayah Kaltim.

Global Fundation adalah salah satu lembaga asing yang selama ini dikenal aktif mengurusi penanggulangan HIV/AIDS di beberapa negara. Termasuk di Indonesia. “Dengan adanya pengembangan usaha berkelompok, itu diharapkan dapat bergulir secara berkelanjutan,” jelasnya. (kri)

... selengkapnya
Mayoritas Pengidap HIV & AIDS Enggan Ikuti Konseling
ditulis pada 01 2010

TEMPO Interaktif, Semarang - Sekitar 74 persen dari delapan ribu pengidap HIV/AIDS di Jawa Tengah, masih belum mau memeriksakan diri melalui konseling secara sukarela di Voluntary Counseling and Testing (VCT) yang sudah disediakan di wilayah itu. “Dari perkirakan pengidap delapan ribu orang, baru 2.100 pengidap yang sudah mau memeriksakan diri di VCT,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Hartanto, Rabu (26/8).

Hartanto mengatakan, kesadaran pengidap untuk memeriksakan diri memang masih rendah. Sebagian pengidap HIV/AIDS enggan memeriksakan diri ke VCT karena menganggap pemeriksaan ini tidak terlalu penting.

Konseling dan Testing HIV Sukarela adalah proses untuk mengetahui status HIV diri dengan cara melakukan tes darah. Agar para pengidap HIV/AIDS di Jawa tengah mau memeriksakan diri, Dinas Kesehatan telah melakukan beberapa upaya. Diantaranya melakukan sosialisasi dan mendirikan banyak klinik VCT. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah menargetkan bisa membangun voluntary counseling and testing di seluruh kabupaten/kota si Jawa Tengah pada 2010 mendatang.

Hingga pertengahan tahun ini sudah terbangun 22 VCT diantaranya di Semarang, Solo, Pekalongan, Purwokerto, Batang, Blora, dan lain-lain. Dengan pendirian VCT, diharapkan pelayanan semakin merata dan lebih mendekatkan fasilitas kesehatan pada masyarakat.

“Selain itu juga untuk memetakan pengidap HIV/AIDS,” kata Hartanto.

ROFIUDDIN

... selengkapnya
Meski Disunat Homoseksual Tetap Rentan HIV
ditulis pada 01 2010

KENDATI sunat sudah terbukti bisa mencegah penularan virus HIV pada pria di Afrika, ternyata efek serupa tidak ditemukan pada pria homoseksual.

"Sunat ternyata tidak bisa mencegah penularan HIV di antara pria gay," kata Dr Peter Kilmarx, Kepala Divisi Epidemiologi dan HIV dari Center for Disease Control and Prevention (CDC), AS. Walau begitu, CDC masih mempertimbangkan untuk merekomendasikan sunat pada kelompok lain, seperti anak laki-laki dan pria heteroseksual yang beresiko tertular.

UNAIDS dan organisasi kesehatan internasional lain mempromosikan sunat sebagai strategi untuk mengurangi penyebaran virus AIDS. Sejak itu, tekanan untuk melakukan sunat pada anak laki-laki di AS meningkat.

Saat ini, hampir 80 persen pria AS sudah disunat karena alasan tersebut. Proporsi ini tertinggi dibandingkan negara lain. Di seluruh dunia, diperkirakan hanya 30 persen pria yang sunat.

Kendati sunat bisa mengurangi penyebaran penularan HIV di Afrika dan bagian negara lain, di AS virus AIDS lebih banyak mengenai pria gay. Menurut data CDC, pria gay di sana sekitar 4 persen dari jumlah penduduk. Separuh dari jumlah tersebut terinfeksi HIV setiap tahunnya.

Studi sebelumnya menunjukkan, sunat tidak berpengaruh apa-apa terhadap penularan HIV bila dilakukan anal seks. Studi terbaru yang dilakukan oleh CDC terhadap 4.900 pria yang melakukan anal seks dengan pasangan yang terinfeksi HIV menunjukkan, tingkat infeksi mencapai 3,5 persen. Jumlah itu diperkirakan sama saja, baik pria itu disunat maupun tidak.

Saat ini, Pemerintah AS memang belum memutuskan kewajiban sunat kepada warganya. Para dokter dan ahli di CDC percaya ada alasan kuat untuk merekomendasikan sunat pada bayi laki-laki dan pria heteroseksual yang beresiko tinggi. Menurut Kilmarx, definisi "beresiko tinggi" saat ini masih didisikusikan.

Isu sunat, menurut Kilmarx, merupakan hal yang sangat sensitif karena menyentuh nilai budaya dan religius. "Banyak yang harus dipertimbangkan selain prosedur medis," katanya. Karena itu, pemerintah akan memberi edukasi kepada para dokter dan orangtua tentang manfaat dan risiko dari sunat. (kompas.com)

... selengkapnya
<< 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 >>