• Terdapat penambahan fitur baru pada www.aidsjateng.or.id yaitu 'TV Spot KPAP'
  • SK Pembentukan KPA Kab/Kota, bisa di download pada menu direktori
  • Data Kasus HIV dan AIDS sampai dengan 31 Desember 2014 adalah 10.804 kasus
  • Sudah Ada 35 KPA Kab/Kota di Jawa Tengah

Online News

3, 14 juta pelanggan PSK terinfeksi HIV dan AIDS
ditulis pada 01 2010

MEDAN - Kasus Human Immunodeficiency Virus/Aquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Indonesia diibaratkan seperti fenomena gunung es. Dimana, kasus yang terdata jauh lebih kecil dibanding jumlah yang tidak terdata.

"Populasi tertinggi yang terinfeksi HIV/AIDS adalah pelanggan Pekerja Seks Komersial (PSK) dengan angka estimasi mencapai 3,14 juta orang," kata kadis kesehatan Sumut, Candra Syafei, melalui manager global fund dinas kesehatan Sumut, Andi Ilham Lubis, tadi malam.

Menurut Andi, pelanggan PSK terbesar adalah karyawan dan pekerja yang umumnya telah memiliki pasangan. Dampak yang ditimbulkan selanjutnya adalah sekitar 1,8 juta pasangan pelanggan PSK tersebut ikut tertular HIV/AIDS.

Tingginya angka estimasi ini didasarkan pada besarnya peningkatan kasus HIV/AIDS di Indonesia dari tahun ke tahun. Terhitung sejak pertama kali ditemukan di Indonesia tahun 1987 hingga 2009, kasus HIV/AIDS telah mengalami peningkatan hingga 5.000 kali lipat.

Sebagaimana dilaporkan Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen PPM&PL) Departemen Kesehatan RI per 31 Maret 2009, pada tahun 1987 ditemukan 5 kasus. Jumlah ini meningkat 5.000 kali lipat menjadi 23.632 kasus di tahun 2009.

"Tingginya penemuan kasus HIV/AIDS di Indonesia tahun 2009 ini, tidak terlepas dari peran aktif klinik Voluntary Counseling and Testing (VCT) yang melakukan deteksi dini guna mengungkap fenomena gunung es tersebut," ujarnya.

Sampai saat ini, lanjut Andi, klinik VCT yang telah dibuka di sejumlah rumah sakit Sumatera Utara terus berupaya melakukan deteksi dini terhadap kasus-kasus HIV/AIDS di masyarakat sehingga dapat ditanggulangi secepat mungkin.

Upaya deteksi dini tersebut dilakukan mengingat Menko Kesra telah memperkirakan sekitar 1 juta penduduk Indonesia terinfeksi HIV/AIDS pada tahun 2015.

Dari jumlah tersebut, 38.500 di antaranya merupakan anak-anak. "Bahkan angka kematian HIV/AIDS pada tahun 2015 tersebut mencapai 350.000 orang," ujar Andi.

Kendati demikian, Andi mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan diskriminasi terhadap para pengidap HIV/AIDS.

"Sikap diskriminatif tersebut akan menghambat proses penanggulangan HIV/AIDS. Jadi, dukungan masyarakat terhadap para pengidap HIV/AIDS sangat diharapkan," ujarnya (dat05/waspada)

... selengkapnya
Bibir dan Lidah Bocah Melepuh Setelah Makan Kondom Bekas
ditulis pada 01 2010

Atlanta, Kondom seharusnya menjadi alat pelindung untuk mencegah penularan penyakit menular seksual (PMS) dan penyakit kelamin lainnya. Tapi seorang bocah diduga tertular PMS setelah memakan kondom bekas yang dibuang sembarangan di kamar hotel.

Kejadian nahas menimpa seorang bocah laki-laki asal Georgia yang tidak disebutkan identitasnya. Rencana berakhir pekan bersama keluarga berubah menjadi pengalaman mengerikan karena tragedi kondom bekas di kamar hotel yang dimasukkan ke dalam mulutnya.

Insiden mengerikan itu terjadi pada tanggal 1 Agustus 2010 di hotel Wyndham Garden di pusat kota Atlanta, ketika keluarga bocah malang tersebut sedang menghabiskan waktu liburan.

"Kami ingin melakukan sesuatu selama akhir pekan sebelum anak-anak mulai masuk sekolah," ujar nenek bocah, seperti dilansir dari Myfoxdfw, Senin (30/8/2010).

Menurut nenek bocah tersebut, setelah seharian penuh ia dan cucu-cucunya bermain di taman pada tanggal 31 Juli, seluruh anggota keluarga merasa kelelahan dan kembali ke hotel.

Sang nenek menjelaskan di kamar 329, tempat ia dan cucunya menginap, tampak ruangan yang sangat bersih kecuali tidak ada sabun dan tidak ada handuk.

Tapi keesokan harinya, ia mengaku terbangun dengan terkejut karena melihat adegan yang sangat mengerikan terjadi pada cucunya.

"Ketika melihat cucu saya, saya menemukan kondom ada di lidah dan tenggorokannya. Dan ada air mani di dalam kondom itu," ungkap si nenek.

Ia kemudian segera mengeluarkan kondom dari mulut cucunya dan memanggil pihak manajemen hotel. Diduga bocah tersebut menemukan kondom bekas yang dibuang sembarangan di kamar hotel dan menganggapnya sebagai balon.

Tapi setelah beberapa hari kemudian, bocah malang tersebut mengalami demam. "Saat itulah saya melihat ada luka melepuh di mulut, bagian dalam bibir bawah dan lidahnya," jelas nenek.

Bocah tersebut kini tengah mengalami pemeriksaan untuk mengidentifikasikan PMS dan HIV. Keluarga bocah tersebut sedang menunggu hasil pemeriksaan sebelum memutuskan bagaimana tindakan selanjutnya.

... selengkapnya
Obat HIV Harus Diminum Seumur Hidup dan Tepat Waktu
ditulis pada 01 2010

Jakarta, Penyakit HIV merupakan salah satu penyakit yang belum ditemukan obatnya. Virus yang ada di dalam tubuh penderita ini tidak bisa keluar, sehingga seseorang harus mengonsumsi obat ARV (Antiretroviral) seumur hidup dan tepat waktu.

Jadwal ketat minum obat HIV ini tidak boleh meleset agar bisa menekan jumah virus di tubuhnya. Jika tidak disiplin maka obat akan menjadi resisten terhadap tubuh.

HIV (human immunodeficiency virus) adalah retrovirus yang menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia, terutama sel T CD4 dan makrofaga yang merupakan komponen vital dari sustem kekebalan tubuh.

Hal inilah yang membuat ODHA memiliki sistem kekebalan tubuh lemah dan mudah terkena infeksi. Karenanya seseorang harus mengonsumsi obat ARV untuk mempertahankan kekebalan tubuhnya.

"ARV memiliki tugas meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan menurunkan jumlah virus, dalam arti mencegah agar virus tidak berkembang biak," ujar dr Aritha Herawati, kepala bidang terapi rehabilitasi KPA Provinsi DKI Jakarta, dalam acara temu media dan buka puasa bersama di Jakarta, Selasa (31/8/2010).

Lebih lanjut dr Aritha menuturkan virus yang ada di dalam tubuh seseorang ini tidak bisa keluar, sehingga seseorang harus mengonsumsi obat ARV seumur hidup.

"Pemberian obat ARV tidak sama dengan pemberian obat antibiotik. Kalau antibiotik cukup ditulis dua kali sehari, sedangkan obat ARV harus ditulis setiap 12 jam sekali dan ODHA harus mengonsumsinya tepat setiap 12 jam," ujar Dr Paul F Matulessy, MN. PGK. DSpGK dari RS UKI.

Pengaturan minum obat ARV ini sangat ketat karena terkait langsung dengan tingkat perkembangan HIV di dalam darah. Jika waktu aturan minum diubah, maka akan membuat konsentrasi obat di dalam darah menurun yang bisa memberi peluang bagi virus untuk berkembang biak.

Dr Paul menuturkan konsentrasi tertentu ARV di dalam darah mampu menjadi benteng pertahanan agar virus tidak bisa masuk atau menorobos ke sel target (CD4). Sehingga jika seseorang tidak tepat mengonsumsinya atau terlupa, maka konsentrasi ARV di dalam darah akan menurun.

Kondisi ini akan membuat virus bisa masuk ke sel hingga menuju inti sel. Nantinya virus ini akan berkembang biak di dalam inti dengan bantuan DNA manusia, setelah itu ia akan keluar dari sel dan menyebar mencari sel target baru.

Beberapa jam setelah mengonsumsi obat, maka aktivitas dari obat ini akan meningkat dan mampu menekan pertumbuhan virus. Tapi setelah mencapai masa puncaknya di dalam darah, aktivitas obat ini akan menurun. Itulah sebabnya jadwal minum obat sangat ketat agar perkembangan virus bisa tetap dikontrol.

"Kalau seseorang minum obat ARV tidak sesuai dengan waktu, maka virus akan merasa tidak ada polisi yang mengawasinya sehingga ia bebas berkembang biak," ungkap dr Aritha.

Sementara itu jika ARV yang dikonsumsi berlebih bisa menyebabkan overdosis dan membuat virus menjadi resisten dan juga toksik (racun) bagi tubuh. Jika virus sudah resisten dengan pengobatan lini 1, maka harus masuk ke lini 2 yang harga obatnya jauh lebih mahal serta belum sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah sehingga odha harus membeli sendiri.

Mengonsumsi obat yang sama seumur hidup, sangat memungkinkan seseorang mengalami kejenuhan atau kebosanan. Namun untuk mencegah kebosanan atau kejenuhan dibutuhkan dukungan dari keluarga dan juga masyarakat sekitar. Sehingga ODHA tidak merasa putus asa dan tetap memiliki pemikiran bahwa ia memiliki tanggung jawab terhadap keluarga dan dirinya sendiri.

... selengkapnya
Penanggulangan AIDS Masih Tergantung Dana Asing
ditulis pada 01 2010

Jakarta - Masih bergantungnya dana asing terhadap penanggulangan AIDS di Indonesia mengancam keberlanjutan terapi bagi Orang yang Hidup Dengan HIV/AIDS (ODHA)di Indonesia. "80 persen dana masih dari luar negeri. Pemberiannya bisa saja berhenti," kata Nafsiah Mboi, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional dalam seminar di Jakarta, Senin (30/8)

Situasi ini, Ia melanjutkan, membahayakan bagi ketersedian obat bagi 218 ribu orang yang sudah terinfeksi HIV. Ia mengusulkan ada penambahan anggaran dan juga perlu peningkatan pemanfaatan anggaran dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

Menurut Nafsiah, upaya pengurangan dampak buruk (harm reduction) yang telah dijalankan sejak 2007 lalu bagi 230 ribu penderita narkoba suntik telah berhasil menghemat biaya dan mengurangi korban baru.

Komisi mengukur ada kebutuhkan biaya 50 US$ per orang per tahun bagi layanan alat suntik steril dan 132 US$ per orang per tahun bagi Program Terapi Rumatan Metadon. Total biaya harm reduction menghabiskan 15,7 juta US$. Nilainya jauh lebih kecil ketimbang total biaya penanganan HIV baru di kalangan penasun yang bisa mencapai US$ 92 juta. "Dengan harm reduction bisa 140 ribu orang yang terselamatkan per tahunnya, dan menghemat dana US$ 76 juta," papar Nafsiah.

Sayangnya, kata dia, program pengurangan dampak buruk seperti dengan pembukaan akses informasi, pencegahan penularan, dan pemulihan, justru dibiayai luar negeri. Padahal pengurangan dampak buruk, justru upaya nyata yang bisa mencegah penularan penyakit dengan biaya yang lebih murah ketimbang pengobatan. Ia berharap anggota Dewan berperan dalam sisi penganggaran soal ini.

Ketua Panitia Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat Harry Azhar Azis menyatakan anggaran kementerian kesehatan terus meningkat. Dari Rp 6,51 triliun tahun 2005, kini menjadi Rp 21,39 triliun di 2010. Sementara anggaran pada kementerian/lembaga berdasarkan fungsi kesehatan juga terjadi peningkatan dari Rp 5,84 (2005) triliun menjadi Rp 18 triliun (2010). Tapi, Harry melanjutkan, AIDS tidak termasuk program utama dalam penyaluran anggaran, tapi digabungkan dengan program kesehatan secara umum.

Meski AIDS tidak secara khusus jadi program utama kesehatan, secara pribadi, Harry merasa perlu untuk menggagas adanya Komite Parlemen untuk HIV-AIDS. Komite ini nantinya diharapkan memberi kebebasan yang lebih besar untuk penyusunan legislasi HIV-AIDS, dukungan dalam alokasi anggaran dan melakukan pengawasan.

... selengkapnya
Penderita HIV & AIDS di Kudus 43 Orang
ditulis pada 01 2010

Kudus - Jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, sejak 2008 hingga 2010 mencapai 43 orang, 16 penderita diantaranya meninggal dunia.

"Dari puluhan penderita HIV/AIDS tersebut, terdapat penderita dengan usia termuda sekitar empat bulan, sedangkan tertua berusia 54 tahun," kata Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Pamungkas Tunggul, di Kudus, Jumat.

Berdasarkan data pada tahun 2009, jumlah penderita HIV/AIDS hanya delapan orang. "Tetapi, tahun ini meningkat hingga dua kali lipat lebih," ujarnya.

Dengan adanya lonjakan jumlah penderita setiap tahunnya ini, mengindikasikan jumlah penderita HIV/AIDS di Kudus masih bisa bertambah.

Untuk menekan angka penularannya, diperlukan pemeriksaan secara intensif terhadap masyarakat yang termasuk dalam kategori rentan terhadap penularan virus HIV/AIDS.

"Saat ini, tingkat kesadaran kelompok rentan tertular virus mematikan tersebut untuk memeriksakan kesehatannya memang meningkat. Tetapi, petugas tetap perlu berperan aktif untuk menghindari sikap masyarakat yang mengucilkan penderita," ujarnya.

Hanya saja, dia menyayangkan, meningkatnya tingkat kesadaran kelompok rentan tersebut belum memenuhi kebutuhan, mengingat di Kudus belum punya klinik Penyakit Menular Seksual (PMS).

"Ketentuan yang berlaku, instansi terkait tidak diperbolehkan melakukan pengadaan peralatan medis. Aturannya sekarang harus melalui proses lelang untuk menghindari kasus mark up," ujarnya.

Untuk itu, kata dia, tahun ini tidak bisa mengalokasikan biaya pengadaan peralatan klinik PMS. "Kemungkinan, baru bisa diajukan pada tahun anggaran mendatang," ujarnya.

Meskipun hingga sekarang belum terbentuk Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Daerah (KPAD) Kudus, katanya, DKK Kudus beserta LSM yang memang peduli terhadap penularan penyakit mematikan tersebut tetap menjalankan kegiatan penanggulangan HIV/AIDS.

Sebelum KPAD terbentuk, katanya, petugasnya harus mengikuti latihan hingga nantinya disahkan melalui surat keputusan.

Sedangkan upaya yang tetap dilakukan oleh petugas kesehatan kaitannya dalam menanggulangi penyebaran HIV/AIDS, yakni petugas harus tanggap dan memberikan perhatian terhadap penderita HIV/AIDS sebagai salah satu upaya agar tidak menular kepada orang lain.

"Masyarakat yang termasuk kelompok rentan juga harus mendapat perlindungan agar tidak tertular," ujarnya.

Program pengobatan secara teratur, diklaim mampu mencegah seseorang yang mengidap HIV/AIDS menularkannya kepada pihak lain.

"Kelompok risiko tinggi juga perlu dilakukan zero survey. Beruntung, sejauh ini ada yang sudah melakukan prakonseling," ujarnya.

Hanya saja, dia enggan membeberkan hasil kegiatan tersebut, mengingat bersifat rahasia antara petugas kesehatan dengan kelompok rentan yang tidak diperbolehkan dipublikasikan.

Salah seorang aktivis yang bergerak dalam penanggulangan HIV-AIDS, Kelompok Dukung Sebaya (KSD) KASIH-Mengubahku, Miya mengungkapkan, keprihatinannya dengan semakin banyaknya ibu rumah tangga yang menjadi sasaran penularan.

"Kami juga ingin mendapatkan dukungan dari Pemkab Kudus, khususnya penyediaan fasilitas pengobatan, supaya kita tidak selalu mondar-mandir ke Rumah Sakit Kariadi," keluhnya.

Pasalnya, kata dia, tidak semua penderita memiliki uang untuk mengadakan pengobatan.

"Jika tidak difasilitasi, dikhawatirkan meninggkat ke level AIDS akan semakin cepat," ujarnya.

Penderita yang terdeteksi di Kudus, katanya, sering kebingungan melakukan pengobatan karena di Kudus tidak ada klinik yang memenuhi kebutuhan care support treatment (CST).

(ANT/S026)

... selengkapnya
Pengenalan Politik dalam Permasalahan HIV dan AIDS
ditulis pada 01 2010

Pada umumnya seluruh penanggulangan AIDS Nasional dan Global dibentuk oleh faktor politik. Tetapi sedikit sekali analisis yang dilakukan untuk memahami lebih dalam mengenai dinamika dan motivasi politik.
Telah banyak bukti nyata yang berkembang mengambarkan dampak ekonomi akibat dari AIDS mulai dari permasalahan rumah tangga hingga menjadi masalah Nasional. Tetapi sedikit sekali analisis mengenai betapa keputusan politik menentukan arah penanggulangan AIDS atau bagaimana epidemi menjadi faktor penentu bagi aktor politik dalam membuat keputusan.
Sebuah titik awal untuk mulai mempertanyakannya adalah: Mengapa analisa pertimbangan politik sangat terbatas dalam mengambarkan HIV dan AIDS? Kemanakah perginya para ilmuwan politik dan ekonom politik dalam perhelatan HIV dan AIDS?
Jawaban yang paling jelas untuk pertanyaan pertama adalah banyak sekali penanggulangan AIDS yang dibentuk oleh pendekatan bio-medis dan kesehatan masyarakat. Bukan karena pendekatan ini tidak sesuai, tetapi amat disayangkan bila pendekatan tersebut tidak dapat menerima analisa kritis yang memasukkan pertimbangan hubungan kekuasaan, ketidak setaraan sosioekonomi diantara kelompok-kelompok dan negara-negara, atau faktor sistemik lainnya. Kebanyakan fokus yang timbul seputar HIV dan AIDS adalah dinamika antar individu, pelayanan dan kelompok terpinggirkan/tertindas. Gejala sosial yang telah memperluas permasalahan HIV, seperti juga sosioekonomi dan perubahan politik untuk mengendalikan epidemi selalu diabaikan.
Sebagai tambahan, isu-isu terkait permasalahan seksual dan perubahan budaya dengan garis bawah kepada asumsi rasis menjadi sangat sensitif. Ketertarikan dan dukungan untuk analisa politik terhadap topik HIV dan AIDS tidak kunjung menguat, bahkan pada saat krisis global terjadi. Banyak akademisi non-media menyadari bahwa penelitian terhadap ekonomi politik HIV dan AIDS bukanlah karir yang patut dipertimbangkan. Kebanyakan agen donor tidak terlalu tertarik mendanai penelitian dan analisis mengenai pandemi yang menghubungkan HIV dan AIDS kepada isu pengembangan, seperti pada isu kemiskinan dan ketimpangan gender.
Bahkan pada saat komunitas Global bergerak kepada perluasan akses terapi ARV, sedikit sekali diskusi yang menjelaskan rentannya sebuah negara dan sistim kesehatan lokal untuk mampu mengelola pengobatan terkait AIDS. Diskusi terkait hal-hal disebut telah dilemahkan dalam 2 dekade melalui pilihan politik.
Permasalahan yang sering diangkat dalam penanggulangan AIDS adalah bagaimana komunitas donor dan para ahli-nya menentukan seluruh arah dan cara menghadapi pendemi ini. Sedikit sekali jumlah donor yang memiliki toleransi pada analisa kritis yang ditujukan kepada pencegahan dan perawatan yang mereka promosikan. Beberapa LSM dan organisasi advokasi menyampaikan bahwa mereka meyakini bahwa reformasi struktural berkaitan erat dengan agenda Bank Dunia (World Bank), namun bisnis AIDS menafikkan analisis tersebut.
Bila politik didiskusikan sebagai sebuah faktor epidemi, umumnya ini dilakukan hanya untuk mendapatkan dukungan politik tingkat tinggi untuk pencegahan serta inisiatif pengobatan HIV dan AIDS. Sebagai balasan dari komitmen politik maka presentasi yang dapat memproyeksikan dampak HIV dan AIDS pada pendidikan, kesehatan dan sektor lain menjadi sensitif bagi pembuat keputusan bersama dengan pemanjaan moralitas untuk mendapatkan perhatian terhadap epidemi. Saat komitmen politik tidak tercapai, maka kecenderungan untuk meyalahkan dengan alasan ‘kurangnya keinginan politik’ mencuat tajam.
Tetapi penyediaan fakta-fakta, bukti-bukti dan peningkatan kapasitas hanyalah suatu bagian untuk mendapatkan komitmen politik. Banyak sekali kepentingan yang bermain diantara pembuat kebijakan,faktor-faktor inilah yang berkontribusi kepada dinamika pengambilan keputusan diantaranya adalah keuntungan atau kerugian pribadi/golongan akibat keputusan tertentu, pertukaran kepentingan yang satu dengan yang lain.
Hingga kita sebagai komunitas dan terkena dampak HIV dan AIDS memahami apa yang terjadi diantara pembuat kebijakan setelah mereka mendapatkan presentasi berdasarkan fakta, maka kita semua akan terus-menerus menghadapi frustasi dalam meningkatkan komitmen dan dukungan politik.
Jika faktor politik memiliki peranan penting untuk mengesampingkan analisa politik dalam konteks HIV dan AIDS, bukankah kita berkewajiban untuk memahami mengapa demikian?
Apakah HIV dan AIDS hanya akan menjadi simbol kepedulian? Ataukah ada kepentingan politik dibelakang ‘kepedulian’ tersebut?

... selengkapnya
Wanita Rentan Tertular HIV & AIDS
ditulis pada 01 2010

Wanita baik-baik atau ibu rumah tangga berkelakukan baik, belum tentu tak tertular HIV/AIDS. Pasalnya, sejak 2007, ibu-ibu rumah tangga atau wanita baik-baik menjadi kalangan yang paling rentan tertular HIV/AIDS melalui hubungan seks dengan kekasihnya atau suaminya.

Hal ini dikatakan Antis Naibaho SpSI, Manager Konselling HIV/AIDS RSU Pirngadi Medan. “Perempuan-perempuan baik-baik yang tertular HIV/AIDS dari para suami mereka yang pengidap dan dulunya mungkin pencandu atau pelaku seks bebas,” ujarnya yang ditemui wartawan koran ini di ruang kerjanya.

Dikatakannya, berdasarkan persentase penularan HIV/AIDS melalui hubungan heteroseksual, mencapai 50,3 persen dengan perbandingan laki-laki dan perempuan 3 : 1.

Secara keseluruhan, sambungnya, berdasarkan Data Kemenkes, pada akhir 2009 jumlah pengidap HIV/AIDS di Indonesia mencapai 19.973 jiwa dengan kecepatan penularan tercepat di kawasan Asia Tenggara. Kemudian, berdasarkan laporan dari 32 provinsi di Indonesia, sekitar 88 persen kasus HIV/AIDS berasal dari kelompok usia produktif (20-49 tahun). “Kalau usia 20 tahun dia sudah mengidap, berarti tertularnya dari lima tahun sebelumnya, 15-an,” imbuhnya.

Menurutnya, kasus penderita HIV AIDS di kalangan wanita meningkat drastis. Perilaku berisiko suami atau pasangan merupakan penyebab utama penularan HIV di kalangan wanita. “Di Indonesia, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional dan Departemen Kesehatan mengestimasi sekitar 300 ribu orang dewasa usia 15-49 tahun hidup dengan HIV pada 2009. Peningkatan infeksi tertinggi pada perempuan,” tambah wanita lulusan sarjana Psikologi di Kota Medan ini.

Penyebab makin banyaknya wanita terinfeksi HIV, lanjut dia, karena pasangan berperilaku berisiko tinggi. Pria pembeli seks dikenali sebagai kelompok populasi terinfeksi tertinggi. Padahal, kebanyakan mereka merencanakan menikah. Akibatnya, wanita yang dianggap berisiko rendah justru berisiko tinggi setelah melakukan hubungan seksual dengan suami atau pasangan. “Memperkuat hak azasi reproduksi wanita juga sebagai cara mencegah penularan virus mematikan tersebut,” tegas Antis lagi.

Tak hanya itu, Antis bilang, budaya patriarki (posisi perempuan di bawah pria) yang kuat di negara-negara Asia menyebabkan tidak bisa didiskusikannya seks kepada pasangannya. “Terutama perempuan baik-baik kepada suaminya. Sehingga pembicaraan tentang penggunaan kondom pun sangat tabu. Maknya perempuan sering jadi korban seks laki-laki termasuk para suami yang liar,” paparnya.

Budaya patriaki inilah, membuat wanita, khususnya ibu rumah tangga memiliki posisi tawar yang lebih rendah dalam menegosiasikan seks dengan pasangan. Bahkan, posisi tawar ibu rumah tangga lebih rendah daripada pekerja seks yang masih bisa memilih.

Resiko rentan wanita terinfeksi HIV/AIDS, karena organ tubuh perempuan yang sangat sensitif dan bentuk anatominya yang cenderung terbuka memudahkan bakteri berkembang di sana, apalagi ketika sedang berhubungan seks.

“Hubungan seks yang dipaksakan juga lebih rentan untuk kena luka atau tergores di bagian kelaminnya perempuan. Dengan adanya luka akibat gesekan atau goresan itu kemudian bakteri atau virus mudah masuk ke dalam organ reproduksi itu bila melakukan seks dengan pria yang terinfeksi,” kata wanita beranak empat ini.

Berdasarkan pengalamannya sebagai Manager konselling di RSU Pirngadi Medan, ada beberapa wanita yang menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) terinfeksi HIV. Para TKI itu sering melakukan hubungan seks dengan pasangannya yang ternyata penderita HIV/AIDS. “Padahal si wanita TKI itu bukan pemakai jarum suntik narkoba. Tapi malangnya, ia justru terinfeksi dari pasangannya yang pengguna jarum suntik narkoba dan pelaku seks bebas,” ungkapnya. Tak hanya itu, kasus lainnya yang lebih heboh lagi, Antis bilang, kalau ada salah satu wanita berparas cantik yang sering ‘dipakai’ para pejabat dengan bayaran mahal, juga terjangkit HIV. Wanita itu baru mengetahui terjangkit baru-baru ini setelah memeriksakan darahnya dan datang untuk konselling di RSU Pirngadi Medan.

“Bisa dibayangkan, si wanita itu telah menularkan penyakit mematikannya kepada pejabat Kota Medan yang pernah ‘memakainya’. Sampai saat ini kami tetap mendampingi si wanita cantik itu untuk tidak ‘menjual’ dirinya lagi karena bisa menularkan penyakitnya,” bilang Antis.

Namun, meski tetap mendampingi dan memberikan konselling kepada wanita berparas cantik tersebut, tetap saja pihaknya tidak bisa mencegah kalau diam-diam si wanita tersebut tetap menjual diri.

“Saat kami berikan konselling untuk tidak melakukan seks lagi, si wanita itu justru menolaknya dengan alasan karena dia butuh uang untuk hidup. Lalu kami menyarankannya untuk menggunakan kondom bila melakukan seks. Tapi, lagi-lagi si wanita itu mengaku tak bisa menyuruh ‘tamu pria hidung belangnya’ untuk pakai kondom dengan alasan tak enak,” paparnya.

Antis tidak bisa menyalahi sepenuhnya kepada pria beristri yang doyan ‘jajan’ di luar. Hal ini bisa terjadi karena suami bosan melihat istrinya yang nggak pernah dandan di rumah. “Perempuan bersuami biasanya dandan kalau mau pergi keluar rumah aja. Kalau di rumah kebanyakan pakai daster, males dandan. Suamipun jadi tak selera lihat istrinya sehingga suamipun ‘jajan’ di luar. Tapi semua itu tergantung suaminya. Kalau suaminya punya iman dan agama yang kuat, pasti setia sama pasangannya,” jelas Antis lagi.

Antis menyarankan, sebelum menuju jenjang pernikahan (pra-nikah), hendaknya pasangan memeriksakan darahnya ke medis tidak hanya untuk mengetahui tertular HIV/AIDS saja, tapi juga penyakit lain seperti hepatitis, kolestrol dan lainnya. “Ini demi masa depan anak nantinya dan diri kita sendiri,” pungkasnya. Memeriksakan darah itu penting karena badan bugar bukan jaminan tak ada penyakit,” kata Antis.

Bicara soal penularan HIV/AID, menurut Antis, selain dengan hubungan seks, penularannya juga bisa menular melalui jarum suntik yang telah dipakai oleh orang yang terkena HIV/AIDS, juga melalui transfusi darah. Mereka yang menggunakan drug atau narkotik itu menjadi kelompok yang mudah terinfeksi oleh virus HIV karena penggunaan jarum suntik yang bergantian. Namun kalau jarum suntiknya itu tidak bergantian atau menggunakan jarum suntik baru, maka tidak dimungkinkan virus HIV/AIDS itu akan masuk dan menjalar pada seluruh tubuhnya. Selain kelompok perempuan yang rentan terhadap virus HIV/AIDS, masyarakat kelas bawah juga lebih rawan terinfeksi. Misalnya ketika mereka mendapatkan pengobatan dari tempat pengobatan umum, biasanya ketika mereka harus mendapatkan suntikan maka pihak dokter menggunakan jarum suntik bekas, dan dengan jarum bekas tersebut mungkin saja itu bekas dipakai oleh orang yang terinfeksi virus HIV.

“Perlu diketahui bahwa HIV/AIDS tidak menular melalui salaman, menggunakan WC bareng, menggunakan gelas bareng, keringat, juga bersinnya. Jadi virus HIV/AIDS hanya menular melalui jarum suntik bekas HIV/AIDS, hubungan seks dan transfusi darah,” pungkasnya. (ila)

... selengkapnya
Pemprov Jabar Intensifkan Pencegahan Virus HIV/Aids 2010
ditulis pada 01 2010

Bandung, Tahun 2010 Pemerintah Propinsi Jawa Barat akan lebih intensif dalam melakukan kegiatan untuk mencegah penyebaran virus penyakit HIV/Aids. Anggaran Pencegahan dan Penanggulangan HIV-Aids di Jawa Barat tahun 2010 bisa mencapai Rp5,5 miliar. Hal itu diungkapkan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menjawab pertanyaan RRI, usai acara peringatan Hari Aids Sedunia tahun 2009 tingkat propinsi Jawa Barat di rumah sakit Hasan Sadikin Bandung.

Menurut Gubernur pemerintah Jawa Barat sangat serius dalam melaksanakan program pencegahan dan penanggulangan HIV-Aids terbukti menyebarnya kegiatan program dihampir seluruh SKPD seperti Kesehatan Sosial dan Pendidikan. Untuk tahun 2009 sendiri anggaran untuk pencegahan dan penanggulangan HIV-Aids di Jawa Barat sekitar Rp2,5 miliar diberbagai dinas yang ada sesuai bidang tugas masing-masing.

Disisi lain Gubernur menyebutkan, mencegah lebih baik dari pada mengobati karena hingga saat ini belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan secara total penyakit HIV-Aids. Walaupun harus mengkonsumsi obat setiap hari seumur hidup namun para penderita HIV-Aids masih bisa produktif dan berkreasi.

Sementara dokter Nirmala Kesuma dari Tim Asistensi Penanggulangan HIV-Aids Komisi Penanggulangan Aids Jawa Barat menyebutkan, KPA Jawa Barat sudah memiliki klinik konseling di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung yakni Klinik Teratai. Sedang untuk penanganan penderita rumah sakit Hasan Sadikin Bandung hingga September 2009 sudah menangani seribu 927 kasus positif HIV-Aids. Menurut dokter Nirmala bagi penderita HIV-Aids mereka diwajibkan memakan obat Anti Rekto Viral-ARV setiap hari selama seumur hidup yang diberikan secara gratis. (Amelia Hastuti/WD)

... selengkapnya
<< 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 >>