• Terdapat penambahan fitur baru pada www.aidsjateng.or.id yaitu 'TV Spot KPAP'
  • SK Pembentukan KPA Kab/Kota, bisa di download pada menu direktori
  • Data Kasus HIV dan AIDS sampai dengan 31 Desember 2014 adalah 10.804 kasus
  • Sudah Ada 35 KPA Kab/Kota di Jawa Tengah

Online News

Jangan Kucilkan Penderita HIV
ditulis pada 04 2013
 

Jangan Kucilkan Penderita HIV

 

Paradigma masyarakat yang masih menganggap bahwa bergaul dengan orang dengan HIV AIDS (ODHA) adalah hal yang sangat menakutkan dan menjijikan perlu dirubah. Pola pikir yang cenderung mengucilkan ODHA selain melanggar hak asasi manusia (HAM) juga semakin memperparah keadaan penyakit ODHA itu sendiri.

Akhmad Wiryawan, Ketua Klinik VCT Rumah Sakit Prof Dr Margono Sukarjo (RSMS) Purwokerto, Selasa (29/10) mengatakan, hal tersebut sangatlah tidak benar. Selama kita berinteraksi sosial dengan para ODHA dalam batasan yang wajar, maka penularan HIV/AIDS tidak akan pernah terjadi. Justru ketika kita berteman dan berinteraksi dengan ODHA, maka kita bisa membuka ruang komunikasi yang baik dengan mereka.

“Ada beberapa cara penularan penyakit yang belum ditemukan obatnya diantaranya melalui kontak seksual, alat suntik yang terkontaminasi, dari ibu ke janin atau ke bayi melalui ASI, melalui tansfusi darah dan transplantasi organ," katanya.

Akhmad juga menuturkan untuk mengetahui secara klinis dapat dideteksi melalui, perilaku seksual, penggunaan narkoba, pekerjaan yang beresiko terhadap penularan HIV/AIDS seperti pelaut, sopir truk, dll.

Riwayat bekerja di daerah endemis dengan perilaku risiko tinggi, transfusi, perrhatikan juga ciri khas / tanda kelompok risiko misalnya tato atau perilaku tertentu karena sekarang HIV sudah berkembang pada bukan kelompok risti (risiko tinggi) misalnya ibu rumah tangga.

”Mendeteksi klinis untuk mengetahui penyakit ini antara lain melalui perilaku seksual, penggunaan narkoba, pekerjaan yang beresiko terhadap penularan HIV/AIDS seperti pelaut, sopir truk dll. Selain itu, riwayat bekerja di daerah endemis dengan perilaku risiko tinggi, transfusi, perhatikan juga ciri khas / tanda kelompok risiko misalnya tato atau perilaku tertentu karena sekarang HIV sudah berkembang pada bukan kelompok risti misal ibu rumah tangga,” paparnya.

 
Sumber : www.suaramerdeka.com 30 Oktober 2013